Rabu, 06 Mei 2020

Al-Hikam Pasal 228-234

Al-Hikam Pasal 228-234

"AL-WARID AL-ILAHIYYAH"



٢٢٨ - ٭ مَتٰى وَرَدَتِ الوَارِداَتُ الاِلٰهِيَّةُ عليكَ هَدَمتِ العَوَائدَ عليكَ ، اِنَّ المُلُوكَ اِذدخَلُوا قرْيَةً اَفسَدُوهاَ ٭

228. “ Ketika datang kepadamu al-waaridatul-Ilahiyyah, maka warid itu akan menghancurkan/melenyapkan kebiasaan-kebiasaan(hawanafsu)mu, seperti isyaroh firman Alloh : “Sesungguhnya raja-raja (dan balatentaranya) jika masuk (menjajah) kedesa/negara, mereka akan merusaknya(merubah desa).”

Yang dimaksud al-Waaridatul-Ilahiyyah dalam hikmah ini yaitu : rasa cinta dan rindu yang sangat, yang diberikan Alloh kedalam hati hamba-Nya, atau juga rasa ketakutan yang sangat, sehingga bisa menghancurkan dan mengeluarkan kebiasaan dan kesenangan hawa nafsu, dan bergegas menuju makrifat dan ridho-Nya. Sebagaiman diterangkan dalam hikmah ke 215.



٢٢٩ - ٭ الوَارِدُ يَأتِى مِنْ حَضْرَةِ قهَّارٍ ، لاَجْلِ ذٰلكَ لاَ يُصَادِمهُ شىءٌ الاَّ دَمَغَهُ ، بَلْ نَقذِفُ بِالحَقّ علَى الباَطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَاذاَهُوَزاهِقٌ ٭

229. “ Warid itu datang dari Dzat asma Al-Qohhar (dzat yang perkasa tidak ada yang mengalahkan-Nya), karena itu bila warid datang, maka tiada sesuatu yang berhadapan dengannya melainkan dimusnahkannya, Alloh berfirman : “Bahkan kami melemparkan yang hak diatas yang bathil, lalu ia memusnahkannya. Maka yang bathil itu lenyap.”

Dalam hikmah ini Mu’allif menjelaskan tentang Alwarid yang datang kedalam hati hamba dari asma Alloh Al-Qohhar(maha perkasa), maka semua yang ada dari hawa nafsu, aghyar (semua selain Alloh) yang ada dalam hati akan dimusnahkan dengan keperkasaan-Nya. Sehingga hamba yang diberi warid itu semuanya menjadi hak. Yang dimaksud al-Bathil yaitu : segala sesuatu selain Alloh.



٢٣٠ - ٭ كَيْفَ يَحْتَجِبُ الحَقّ ُبِشىءٍ والَّذِى يَحتَجِبُ بِهِ هُوَ فِيهِ ظَاهِرٌ وَمَوجُودٌ حَاضِرٌ ٭

230. “Bagaimana mungkin Al-Haq (Alloh) itu terhijab sesuatu, padahal Alloh itu wujud dan nyata juga hadir pada segala sesuatu yang kau anggap hijab itu.”


Dalam kitab ini beulang-ulang kali Mu’allif Syeih ibnu ‘Atho’illah menerangkan tentang Alloh itu tidak bisa dihijab dengan segala sesuatu,

٭ كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرلِكلّ شيىءٍ ---- الخ٭

(hikmah ke 16 "Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Alloh dapat dihijab [dibatasi tirai] oleh sesuatu padahal Alloh yang menampakkan [mendhahirkan] segala sesuatu."sampai hikmah ke 23).Al-warid, biasa juga disebut Al-Ahwal, dan Ahwal itu biasanya menimbulkan al-Amal, maka dari itu selanjutnya Muallif menerangkan tentang amal.



٭ لاَ تيأَسْ من قَبولِ عملٍ لَمْ تجِدْ فِيهِ وجوْدُ اْلحُضَُورِ فَرُبَّماَ قبِلَ من العملِ مالم تُدْرِكْ ثمْرَتَهُ عاجِلاً ٭

231. “ Jangan putus asa dari diterimanya amal yang belum bisa hadirnya hati (khusuk) karena Alloh, sebab terkadang (ada kemungkinan ) Alloh menerima amalmu itu padahal kamu belum bisa merasakan (menemukan) buahnya amalmu dengan segera.’

Sudah diterangkan dalam hikmah-hikmah terdahulu, bahwa buahnya amal (yakni : merasakan manis dan enaknya amal dalam hati ketika mengerjakan amal), itu bagian tanda diterimanya amal tersebut.
Walaupun demikian terkadang Alloh itu menerima amal yang belum bisa merasakan buahnya, yang terpenting kamu selalu berusaha taqwa kepada Alloh lahir dan batin, ikhlas Lillah dalam beramal, dan kamu jangan putus asa karena buahnya amal itu hanya sebagian alamat/tanda diterimanya amal, sedang kan tanda itu tidaklah pasti terjadi.

Dan jangan kamu meninggalkan amal sebab belum bisa hadirnya hati kepada Alloh, atau belum bisa merasakan buahnya, tapi kewajiban bagimu yaitu dawam/selalu mengerjakan amal itu sampai bisa mendapatkan buahnya amal, barang siapa yang mau selalu mengtuk pintu, pastilah dia akan masuk kepintu tersebut.

Adalah seorang ‘Abid yang selama empat puluh tahun berada di Makkah, dan selalu berdo’a : Labbaika Allohumma Labbaik, lalu ada hatif yang mengatakan : tidak, kamu tidak hadir dan tidak beruntung, dan hajimu ditolak(tidak diterima), dan ‘Abid tersebut selalu mengerjakan amalan tersebut, dan tidak meninggalkannya, suatu hari ada seorang laki-laki datang kepadanya dan memanggilnya : ya ‘abid labbaik(kesini), lalu ada jawaban hatif,: La Labbaik,lalu lelaki tersebut berdiri dan terbesit dalam hatinya : orang ini ditolak. Lalu Abid memnggil tuannya, hai tuanku , engkau mengatakan Labbaik, dan ada jawaban La labbaik, si ‘Abid menerangkan : ini yang terjadi padaku selama empat puluh tahun, aku selalu mendengar perkataan tersebut, tetapi aku selalu bertahan didepan pintu-Nya, walaupun aku ditolak seribu kali aku tidak akan meninggalkan pintu tersebut, Sampai Alloh menerimaku, maka ketika ‘Abid mengatakan Labbaik, lalu ada jawaban dari Alloh : Labbaika – wa-sa’daika. WAllohu a’lam.



٭ لاتُزَكِّيَنَّ واَرِداً لاَتَعلَمُ ثَمرَتهُ فلَيسَ المرَادُمن السَّحابةِ وجودُ الاَمطاَرِ انّما المُرَادُ وجَُودالاَثْمَارِ ٭

232. “ Jangan membanggakan (menganggap baik) terhadap Warid, yang belum engkau ketahui buahnya,sebab bukan yang diharapkan dari awan itu sekedar hujan, tapi tujuan(harapan) yang utama yaitu adanya buah dari pepohonan(tanaman).”

Apabila warid datang dari Alloh kedalam hatimu, akan tetapi tidak menjadikan kamu cinta kepada Tuhanmu, semangat melaksanakan taat kepada-Nya dengan memenuhi hak-hak-Nya , jangan kamu merasa bangga/ senang dengan warid seperti ini, karena buah dari pada warid dalam hati itu bisa merubah sifat-sifat hati yang jelek menjadi terpuji, sperti keterangan hikmah yang terdahulu.

Sebagaiman isyaroh dari Muallif tentang datangnya awan tujuan utamanya bukan sekedar hujan, tapi hasilnya bumi setelah datangnya hujan yakni berupa buah dari tanaman. Begitu juga dengan datangnya Warid/ahwal bukan sekedar amal yang hudhur, tapi yang lebih utama yaitu hasilnya Ridho, syukur, dan masuk kedalam An-Nur, dan kemuliaan berjumpa Alloh Al-Ghofur (yang maha pengampun).
Ingatlah !! terkadang warid/ahwal itu bisa menjadi hijab, bagi orang yang berhenti dan bangga pada warid tersebut. Sebagian ulama mengatakan : Takutlah kamu dengan rasa manis/enaknya taat, karena itu bagaikan racun yang membunuh, bagi orang yang berhenti pada rasa tersebut, janganlah kamu menjadi hambanya hal/warid, tapi jadilah hambanya yang memberi hal/wari (yakni Alloh).



٭ لاَتَطْلُبَنَّ بَقَاءَ الوَرِدَاتِ بعدَ انْبَسَطَتْ اَنْوَارَهاَ واَوْدَعَتْ اسْرَارهَا فلكَ فى اللهِ غِنىً عَنْ كُلِّ شَىءٍ وليسَ يُغْنيْكَ عنهُ شىءٌ ٭

233. “ Jangan meminta tetapnya warid, setelah kau merasakan/mendapatkan nur-nurnya, dan tertangkap semua rahasia-rahasianya, maka cukuplah bagimu mengabdi kepada Alloh sehingga tidak membutuhkan sesuatu yang lain-Nya,sebab tidak ada sesuatu yang bisa mencukupi kamu tapa pertolongan Alloh.”

Maksud dari mendapatka Anwar/nurnya warid yaitu : yaitu rusak dan hancurnya kebiasaan hawa nafsumu, sehingga hati menjadi bersih dari syahwat jasmaniyyah dan kebiasaan nafsum sehingga lahir dan batinnya hanya menghamba kepada Alloh. Maksud dari : setelah tertangkap rahasia-rahasia warid, yaitu adanya Yaqin, Tuma’ninah dan makrifat dalam hatimu, dan adanya Zuhud, Ridho, dan Taslim, dan munculnya rasa Khusyuk, tawadhu’ dan hinanya diri, dalam hati. Itu semua sebagai tanda Al-Warid Al-Ilahiyyah.

Dan ketahuilah bahwa semua warid, adanya anwar(cahaya-cahaya), tingkat-tingkat maqom kewalian dll, itu semua semata-mata anugerah dari Alloh kepada hambanya, karena itu hamba tidak boleh bergantung kepada semua itu, tapi cukuplah bergantung pada Alloh, dan mengabdi kepada-Nya.

Syeih Abu Sulaiman Ad-daroni ditanya apakah paling utamanya perkara yang bisa mendekatkan diri (taqorrub) kepada Alloh? beliau menjawab : Supaya Alloh mengetahui bahwa dalam hatimu tidak mengharapkan sesuatu kecuali hanya Alloh, baik itu didunia maupun diakhirat.



٭ تَطَلُّعُكَ اِلٰى بقاءِ غَيرِهِ دَلِيلٌ علٰى عدمِ وِجْدَانِكَ لهُ واسْتِحياَشُكَ لفِقدَانِ ماَسوَاهُ دليلٌ علٰى عدمِ وُصْلتكَ بهِ ٭

234. “ keinginanmu untuk tetapnya sesuatu selain Alloh itu sebagai bukti bahwa kau belum bertemu Alloh, dan kerisauan mu karena kehilangan sesuatu selain Alloh itu bukti belum wushulnya kamu kepada Alloh.”

Mengharap tetapnya sesuatu itu berarti cinta pada sesuatu tersebut, dan barang siapa mencintai sesuatu pasti dia menjadi hamba sesuatu yang dicintai, begitu juga mengharap tetapnya warid, maqom,dan lain-lain itu menujukkan kalau dia belum menemukan Alloh, dan barang siapa masih berhajat kepada selain Alloh itu berarti ia belum makrifat kepada Alloh, dan barang siapa masih risau/susah sebab kehilangan ahwal atau warid atau lainnya, itu berarti ia belum sampai/Wushul kepada Alloh. Karena orang yang sudah sampai itu tidak akan merasa risau/susah sebab kehilangan sesuatu selain Alloh. Dan itulah bukti ia telah mencapai derajat yang tinggi, akan tetapi selama masih menginginkan tetapnya sesuatu atau susah dengan hilang/tidak adanya sesuatu, maka itu suatu bukti bahwa ia belum mencapai derajat hakikat.

Al-Hikam Pasal 227

Al-Hikam Pasal 227

"ILMU LADUNNY"



٢٢٧ - ٭ الحَقاَئقُ تَرِدُ فِى حالِ التجَلِّى مُجْملة ًوَبَعْدَ الوَعِى يَكوُنُ البَيَان ُ،ةفَاِذاَ قَرأْناَهُ فاَتبِعْ قُرْاٰنهُ ثمَّ انَّ علينَا بيانهُ ٭

227. “Ilmu-ilmu hakikat yang diturunkan kedalam hati hamba-Nya, itu dalam keadaan Tajalli itu secara ringkas/singkat(yakni : secara singkat sja tidak terperinci). Dan apabila sudah menetap dalam hati hamba barulah jelas keterangannya, Alloh berfirman : (Hai Muhammad)Maka apabila kami bacakan (Al-qur’an lewat malaikat jibril), maka ikutilah bacaannya, kemudian kami yang akan menerangkannya (lewat lisanmu kepada umatmu).”

Yang dimaksud Hakikat dalam hikmah ini yaitu : ilmu Ladunny, yang Alloh berikan kepada hamba-Nya yang makrifat billah, yang datangnya ilmu itu langsung dari Alloh, tanpa lewat proses belajar seperti umumnya ilmu.

Maksud Tajalli, yaitu : Alloh memperlihatkan dirinya secara jelas dalam hati hamba-Nya(manifestasi keTuhanan). Dan ketika hakikat(ilmu Ladunny) itu sudah menetap dalam hati hamba barulah jelas keterangan (penjelasan dan perincian)nya, dan semua cocok dengan ilmu syari’at, baik dengan dalil Aqliyyah maupun dalil Naqliyyah.

Syeih Abu Bakar Al-Warroq berkata : ketika saya sedang berada dihutan bani Isra’il tiba-tiba tergeraklah dalam hatiku bahwa ilmu hakikat itu berlawanan dengan ilmu syari’at, mendadak terlihat olehku seorang yang berada dibawah pohon dengan menjerit dan memanggil : Hai Abu Bakar tiap-tiap hakikat yang bertentangan dengan syari’at itu kekufuran.

Al-Hikam Pasal 225-226

Al-Hikam Pasal 225-226
"PENGERTIAN WUSHULNYA HAMBA"




٢٢٥ - ٭ وُصُولُكَ الَى اللهِ وُصولُكَ الىَ العلمِ بِهِ وَالاَّ فَجَلَّ رَبُّنَا اَنْ يَتصِلَ بِهِ شَىءٌ او تَتـَّصِلَ هُوَ بِشىءٍ ٭

225. “Wushul(sampai)mu kepada Alloh itu sampaimu kepada ilmu yaqin atau makrifat yang sempurna terhadap Alloh, kalau tidak begitu, Tuhan itu maha agung, muhal kalau sesuatu itu bertemu (bersambung) dengan Alloh atau Alloh itu bertemu (bersambung) dengan sesuatu.”

Sampai kepada ilmu yaqin/makrifat berarti : dengan mengtahui/meyaqini bahwa Alloh itu satu dalam dzat, sifat dan af’al-Nya, Sempurna dalam kesempurnaan-Nya, dan meyakini kalau Alloh itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu.
Maksud dari muhal kalau sesuatu itu bertemu (bersambung) dengan Alloh yaitu : seperti bertemu /bersambungnya sebagian bentuk/benda dengan bentuk lainnya, atau Alloh itu bertemu (bersambung) dengan sesuatu, : tidak ada dekat kepada Alloh, dan sampai(wushul) kepada-Nya, seperti dekat , bertemu / sampainya beberapa bentuk/jisim.



٢٢٦ - ٭ قُربُكَ مِنهُ ان تَكُونَ مُشَاهِداً لِقُرْبِهِ منكَ والاَّ فمِنْ اَيْنَ انْتَ وَوُجُودَقُربِهِ ٭

226. “ Dekatmu kepada Alloh itu kalau kamu melihat(memperhatikan) dekatnya Alloh kepdamu, kalau tidak demikian, maka darimanakah engkau dan adanya kamu dekat dengan Alloh.”

Hakikat dekatmu kepada Alloh itu jika engkau selalu sadar melihat dekatnya Alloh kepadamu. Dan Alloh itu tidak ada tubuh dan benda, akan tetapi Alloh itu Tuhan yang suci dari sifat-sifat yang berubah, Alloh itu bersifat dengan sifat- yang luhur dan sempurna. Dan bagaimana kamu bisa dekat dengan Alloh sepert dekatnya jisim/tubuh?..

Al-Hikam Pasal 223-224

Al-Hikam Pasal 223-224

"TAAT DAN MAKSIYAT ITU TIDAK BERGUNA BAGI ALLOH"



٢٢٣ - ٭ لاَ تَنْفَعُكَ طاَعَتُكَ ولاَ يَضُرُّهُ مَعْصِيَّتُكَ وَاِنّمَا اَمَرَكَ بِهٰذِهِ وَنَهَاكَ عَنْ هٰذِهِ لماَ يَعُودُ عليْكَ ٭

223. “ Ketaatan(ibadah)mu itu tidak bermanfaat (berguna) kepada Alloh, dan maksiyatmu itu tidak bisa memberi mudhot(bahaya) pada Alloh, dan Alloh memerintahkan kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiyat (dosa) itu untuk kepentingan kamu sendiri(manfaat dan mudhorotnya kembali padamu sendiri).”

Alloh itu dzat yang maha kaya dari segala sesuatu, dan semua makhluk itu butuh kepada Alloh. Hanya sebab rahmat dan belas kasih Alloh, dan kepentingan dan kebaikan hamba itu sendiri sehingga Alloh memerintah bertaat dan melarang maksiyat, perintah dan larangan itu sama sekali tidak berguna atau merugikan Alloh.



٭ لاَيَزِيدُ فِى عِزِّهِ اِقبَالُ مَنْ اَقْبَلَ عليهِ ولاَ يَنْقُصُ من عِزِّهِ اِدْبارُ مَنْ اَدْبَرَ عَنْهُ ٭

224. “ Datang menghadapnya orang yang menghadap(taat) itu sama sekali tidak menambah kemuliaan dan kejayaan Alloh, dan menjauhnya orang yang menjauh kepada Alloh itu tidak akan mengurangi kemuliaan Alloh.”

Kemuliaan dan kejayaan Alloh itu sifatnya azaly dan langgeng, yakni : Alloh dzat yang mulia sebelum adanya makhluk, dan tetap mulia sesudah menjadikan makhluk, jadi kemuliaan Alloh itu tidak dapat bertambah atau berkurang.
Dalam hadits Qudsy Alloh berfirman :

لوأنّ اولكم واَخركم واِنسكم وجِنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد مازاد ذالك فى ملكى شيئاً، ولو أن اولكم واَخركم واِنسكم وجِنكم كانوا على أفجَرِ قلب رجلٍ واحدٍ مانقص ذالك من ملكى شيئاً

“Hai hambaku,andaikan orang yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, dari bangsa manusia dan bangsa jin, semua berbuat taqwa sebaik-baik hati seorang diantara kamu, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaan-Ku sedikitpun, dan sebaliknya jika semua itu berbuat sejahat-jahat perbuatan seorang diantara kamu, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaan-Ku sedikitpun.”

Al-Hikam Pasal 222

Al-Hikam Pasal 222

"MENCINTA PASTI JADI BUDAK YANG DI CINTA"



٢٢٢ - ٭ ماَاَحْبَبْتَ شَيْئًا الاَّ كُنْتَ لَهُ عبْدًا وَهُوَ لاَيُحِبُّ انْ تكُونَ لِغيْرِهِ عَبْداً ٭

222. “ Tiada engkau mencintai sesuatu melainkan pasti engkau menjadi budak(hamba) dari apa yang engkau cintai, dan Alloh tidak suka bila engkau menjadi hamba sesuatu selain dari pada-Nya.”

Hati itu bila mencintai sesuatu pastilah selalu menghadap dan tunduk pada sesuatu tersebut, dan selalu taat pada semua perintahnya.
Rosululloh saw. Bersabda : Celakalah hamba dinar, dirham, baju, permadani dan istri, celaka dan rugi, dan umpama terkena duri semoga tidak keluar.”

Al-Junaid berkata : Engkau takkan mencapai hakikat ‘Ubudiyyah (penghambaan), selama engkau masih diperbudak oleh sesuatu selain Alloh, yaitu harta, istri atau lain-lainnya.

Syeikh As-Syibly ra. Dan seorang muridnya yang diberi pakaian jubah seseorang, sedangkan syeh Syibli sedang memakai kopiyah dikepalanya, sehingga terbesit dalam hati simurid senang dengan kopiyahnya, untuk dikumpulkan dengan jubahnya, melului kasyafnya Syeih Syibly mengetahui keinginan hati simurid , lalu oleh Syeih dilepaskannya jubah si murid lalu dikumpulkan dengan kopiyahnya, lalu dilemparkan keduanya keapi, Syeikh Syibli lalu berkata: sekarang sudah tidak ada lagi dalam hatimu ketertarikan selain Alloh.

Al-Hikam Pasal 220-221

Al-Hikam Pasal 220-221

“HATI-HATI DENGAN WAKTU/UMUR”



٢٢٠ - ٭ حُقُوقٌ فِى الاوقَاتِ يُمكِنُ قضَاؤهاَ وحقوقُ الاَوْقاتِ لاَ يُمكِنُ قضاَؤهَا ٭
٭ اِذ ْماَ مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ الاَّ وَللهِ عليكَ فِيهِ حقّ ٌجَدِيدٌ واَمْرٌ اكيدٌ فكيفَ تَقضِى فيهِ حَقّ َغَيْرِهِ وَانتَ لمْ تَقْضِ حقّ َاللهِ فيْهِ ٭
٭
220. “ Hak/kewajiban-kewajiban didalam waktu itu mungkin dapat diqodho’inya, tetapi hak-haknya waktu itu tidak mungkin bisa di qodho’(diulangi)nya,. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak dan kewajiban yang baru dan perkara penting yang harus kau penuhi, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan/memenuhi hak/kewajibanmu kepada Alloh dalam waktu itu.”

Hak-hak (kewajiban yang ada dalam waktu yaitu: ibadah-ibadah seperti sholat puasa zakat danlainnya, bila tidak bisa dikerjakan pada waktunya, bisa di qodho’ pada waktu lainnya. Tetapi hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan diberikan Alloh untuk hamba waktu itu, jika tidak dilaksanakan hak-haknya tidaklah mungkin bisa di qodho’inya.

Syeikh Abul Abbas Al-Mursy berkata : “waktu-waktu yang diberikan kepada hamba itu ada empat tidak lima :

1. Nikmat,
2. Bala’,
3. Taat,
4. Maksiat.

Dan Alloh mewajibkan kepadamu tiap-tiap waktu itu ada bagian ibadah yang harus kamu penuhi dengan hukum-hukumnya Tuhan. Barang siapa didalam waktu taat, maka hak/kewajiban yang harus dipenuhi yaitu memandang anugerah dari Alloh, apabila dalam waktu mendapat kenikmatan, maka dengan bersyukur yaitu: senangnya hati karena Alloh, apabila dalam waktu maksiat, maka yang harus dipenuhi yaitu Taubat dan minta ampun, apabila waktu mengalami bala’ ujian, maka harus bersabar dan ridho.” Rosululloh saw. Bersabda : “ siapa yang diberi lalu bersyukur, dan di uji lalu bersabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Rosul kemudian diam sejenak. Sahabat bertanya : kemudian apakah ya Rosululloh untuknya ? nabi menjawab : mereka orang yang pasti mendapat kesejahteraan (diakhirat), dan merekalah orang yang mendapat petunjuk/hidayah (didunia).”



٢٢١ - ٭ ماَفَاتَ مِنْ عُمرِكَ لاَ عوَضَ لَهُ وماَ حَصَلَ لكَ منهُ لاَ قِيْمَة َلَهُ ٭

221. “ Umur (usia) hidupmu yang telah hilang (lewat)itu tidak ada gantinya(tidak dapat kembali), sedang perkara yang berhasil (dalam hidupmu) itu tidak dapat dinilai harganya.”

Umur seorang mukmin itu sebagai pokok hartanya, dengan harta itu bisa beruntung bisa juga rugi, barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan beruntung, dan siapa yang menyia-nyiakan pasti akan merugi.apabila waktu umurnya terlewatkan selain untuk taat kepada Alloh, maka tidak ada gantinya, dan apabila telah pergi maka tidak akan kembali selamanya.

Rosululloh bersabda : “setiap waktu yang telah lewat dari( umur) hamba, yang tidak untuk berdzikir kepada Alloh pada waktu itu, besok dihari kiamat pasti menyesal dan merugi.”

Sayyidina Ali berkata kepada Sayyidatina Fatimah : ketika membuat makanan, buatlah yang halus dan lunak (tidak keras), karena makanan yang lunak dan yang keras itu lima puluh kali tasbih bandingannya.

Maka dari itu para Ulama’ Salafussholih, sangat memperhatikan dan menjaga nafasnya, dan cepat-cepat mencari keuntungan pada setiap masa dan waktu. Mereka tidak menyia-nyiakan waktunya sedikitpun.

Al-Hikam Pasal 214-216

Al-Hikam Pasal 214-216
CARA MENGOBATI HAWA NAFSU




٢١٤ - ٭ تَمَكُّنُ حَلاوَتِ الهَوٰى منَ القلْبِ هُوَالدَّاءُ العِضاَلُ ٭

214,“Rasa manis (enak)nya hawa nafsu yang telah menetap(memenuhi) dalam hati, adalah penyakit yang sulit untuk di obati.”

Hati itu tempatnya Iman, Yaqin dan makrifat, ketiganya itu sebagai obat penyakit hati yang timbul dari hawa nafsu, apabila penyakit itu sudah menetap dan menguasai/ memenuhi hati, maka tidak ada tempat untuk obat. Disitulah letak repot dan sulitnya mengobatinya, sehingga sulit disembuhkan.

واصل كل معصية وغفلة وشهوة وشرك هو الرضا عن النفس

"Asal usul/pokok dari pada kemaksiatan, ghoflah (lupa pada Alloh), syahwat (kesenangan), dan kemusyrikan itu sebab ridho dengan hawa nafsu"



٢١٥ - ٭ لاَيُخْرجُ الشَهْوَاة َمِنَ القَلْبِ الاَّ خَوْفٌ مُزْعِجٌ اَوشَوْقٌ مُغْلقٌ ٭

215. “ Tidak ada yang bisa menyembuhkan/mengeluarkan kesenangan nafsu (yang sudah menetap) dalam hati, kecuali rasa takut yang menggetarkan, atau rindu yang menggelisahkan.”

Keinginan hawa nafsu yang sudah memenuhi hati itu sangat luar biasa pengaruhnya, maka untuk mengobatinya sangatlah sulit, hanyalah dengan rasa takut yang besar (menggetarkan)yaitu dengan berfikir tentang ayat-ayat Alloh tentang balasan dan ancaman Alloh, siksa bagi orang yang maksiat, ingat akan datangnya mati, dimasukkan dalam kubur, ditanya oleh malaikat munkar nakir, datangnya hari kiamat dan neraka. dan rasa rindu yang sangat, yaitu dengan berfikir tentang ayat-ayat Alloh tentang kemulyaan dan kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang yang ahli taat kepada Alloh, dan para kekasihNya, berupa surga dan kenikmatan yang lebih lagi di dalamnya.



٢١٦ - ٭كمَالايُحِبُّ العملَ المُشْتَرَكَ كذٰلكَ لايُحِبُّ القلبَ المُشْتَرَكَ، العملُ المُتَرَكُ لاَيَقبَلهُ والقلبُ المُشترَكُ لاَيُقْبِلُ عليهِ ٭ِ

216. “ Sebagimana Alloh tidak suka dengan amal yang dipersekutukan dengan lainNya, begitu pula Alloh tidak suka dengan hati yang diperskutukan dengan lainNya. Amal /ibadah yang dipersekutukan dengan sesuatu selain Alloh tidak akan diterima oleh Alloh, dan hati yang dipersekutukan maka Alloh tidak akan menghadapi/meridhoinya.”

Amal yang yang dipersekutukan yaitu : amal/ibadah yang kemasukan salah satu dari tiga hal :

Riya’ (amal yang karena makhluk),
Tashonnu’ (membaik-baikan amal di hadapan manusia),
‘Ujub ( merasa besar dan baik amalnya sendiri).

Sedangkan hati yang bersekutu yaitu : hati yang masih cinta kepada selain Alloh,dan masih mengharap dan takut atau masih bersandar kepada selain Alloh. Dan Alloh hanya menerima amal yang ikhlas karena Alloh, dan Alloh hanya mau menghadapi orang yang dihatinya hanya ada Alloh.

Al-Hikam Pasal 217-219

Al-Hikam Pasal 217-219

ANWAR SUPAYA MASUK DALAM HATI



٢١٧ - ٭ اَنْوَارٌ اُذ ِنَ لهاَ فى الوُصُولِ وَاَنوارٌ اُذِنَ لهاَ فِى الد ُّخُولِ ٭

217. “ Anwar( beberapa nur Ilahi) itu ada dua macam : Nur yang di izikan Alloh hanya sampai pada hati (luar hati), dan Nur yang di izinkan Alloh bisa masuk kedalam Hati.”

Ada kalanya Nur itu hanya sampai dihati(luar hati), tidak masuk kedalam hati, mereka bisa melihat Alloh dan melihat dirinya, melihat dunia dan akhiratnya, masih cinta dunia dan cinta Akhiratnya, masih bersama dirinya dan bersama Alloh. Apabila Nur itu sudah masuk kedalam hatinya, dalam pandangannya hanya ada Alloh, sehingga tidak ada yang dicinta, diharap, dan disembah melainkan Alloh semata-mata.



٢١٨ - ٭ رُبَّمَا وَرَدَتْ عليكَ الاَنْوَارُ فَوَجَدَتِ القَلْبَ مَحْشُوًّا بِصُوَارِ الاٰثاَرِ فَاَرْ تَحلَتْ من حَيثُ نزَلَتْ ٭
٭ فَرِّغْ قَلبَكَ منَ الاغْيَارِ يَملَؤُهُ بِالمَعَارِفِ وَالاَسرَارِ ٭

218. “ Terkadang Nur Ilahi itu datang kepadamu, tetapi ketika didapati dalam hatimu penuh dengan gambar makhluk, maka ia kembali lagi ketempat asalnya. kosongkanlah hatimu(dari makhluk), niscaya Alloh akan memenuhinya dengan makrifat dan asror(ilmu).”

Sebagaimana keterangan hikmah sebelumnya yaitu, nur yang diizinkan hanya sampai kehati, dan tidak bisa masuk kedalam hati, dilanjutkan dengan keterangan hikmah ini bahwa nur Ilahi (makrifat) itu datang kehati hamba, tapi berhubung dalam hati itu penuh dengan gambaran makhluk dan kotor sebab dosa dan maksiat, maka nur tersebut tidak bisa masuk kehati karena sudah tidak ada tempat lagi. Keterangan hikmah ini sudah diterangkan pada hikmah ke 13 terdahulu, yaitu : Bagaimana hati bisa terang, sedang gambar-gambar dunia/makhluk masih melekat dalam cermin hati.
Maka supaya Nur Ilahi bisa diizinkan masuk dan menetap kedalam hati dan ilmu makrifat dan asror bisa bercahaya dalam hati, haruslah mengkosongkan hati dari keduniaan dan segala sesuatu selain Alloh (makhluk).
Bila cermin hati itu bersih dari kotoran dan gambar-gambar dunia, maka Nur/cahaya Ilahi itu bisa ditangkap oleh cermin itu.



٢١٩ - ٭ لاَتَسْتَبْطِىءْ منهُ النَّوَّالَ ولٰكِنِ استَبْطىِءْ من نَفْسِكَ وُجُودَالاِقبالِ ٭

219. “ Jangan merasa/menganggap lambat datangnya karunia pemberian Alloh, tetapi hendaknya merasakan kelambatan dirimu(hatimu) dalam menghadap kepada Tuhanmu.”

Janganlah menganggap Alloh memperlambat pemberiannya kepadamu, tidak segera mengabulkan do’a dan hajat-hajatmu, tapi rasakan lambatnya dirimu dalam menghadap kepada Alloh.
Syeikh Ma’ruf Al-Karkhi ra berkata : Mencari/berharap masuk surga tanpa amal(kebaikan), itu dosa dari beberapa dosa, mengharap syafa’at (pertolongan) tanpa melalui sebab, itu bagian dari ghurur (mengada-ada), dan mengharap rahmat tanpa ketaatan itu perbuatan bodoh dan sia-sia.
Sedang kan menghadap kepada tuhanmu itu berarti : menunaikan hak/kewajiban, hak-hak/kewajiban itu ada dua bagian, sebagaimana hikmah ini:

Al-Hikam Pasal 211-213

Al-Hikam Pasal 211-213
INGATLAH ANUGERAH NIKMAT ITU DARI ALLOH




٢١١ - ٭ رُبَّما وردتِ الظلَمُ عليك لِيُعْرِفَكَ قدرَمامنَّ بهِ عليكَ ٭

211. “Terkadang kegelapan (macam-macamnya syahwat, maksiyat dan dosa) itu terjadi padamu, untuk mengingatkan kamu atas kebesaran anugerah nikmat yang diberikan Alloh kepadamu.”



٢١٢ - ٭ منْ لم يَعْرِفْ قدْرَ النِّعمِ بِوِجْدانهاَ عَرَّفَهاَبِوُجُودِ فِقدانهاَ ٭

212. “Barang siapa yang tidak mengetahui besarnya harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka Alloh akan memberi tahukan pada dia dengan hilangnya nikmat itu pada dirinya.”

Kebanyakan manusia itu tidak tahu agung dan besarnya nikmat-nikmat yang dirasakan, kecuali ketika kehilangan nikmat tersebut. Sehingga banyak yang bilang: orang yang tahu besarnya harga air, yaitu hanya orang yang dicoba kehausan dihutan, Kalau dia berada di tepi sungai yang mengalir, dia tidak akan tahu besarnya harga air.

Begitu juga dengan nikmat Rahmat, Hidayah, diberi kekuatan bisa beribadah dan taat, yang itu sebagai nikmat yang sangat besar, yang terkadang kita lupa kalau semua itu pemberian dari Alloh yang sangat besar dan agung. Sehingga terkadang kita akui kalau itu semua milik kita, kemampuan kita, hasil usaha kita dan lain-lain. Sehingga terkadang alloh memberi cobaan kepada kita berbuat dosa/maksiat (kegelapan), supaya kita sadar dan ingat bahwa semua nikmat itu atas pemberian Alloh yang wajib kita syukuri.

Rosululloh saw. Bersabda : “ jika seseorang melihat orang yang lebih dari padanya kekayaan dan kesehatannya, maka hendaklah ia juga melihat kepada orang yang lebih menderita dari padanya.” Dalam riwayat lain Rosululloh bersabda :“Lihatlah orang-orang yang dibawahmu, dan jangan melihat orang yang di atasmu, karena yang demikian itu akan menyebabkan meremehkan nikmat yang diberikan Alloh kepadamu”.

Syeikh Sariy as-Saqothi berkata : Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui.

Syeikh Fudhoil bin Iyadh ra. Berkata : Tetaplah mensyukuri nikmat, sebab jarang sekali nikmat yang telah hilang akan datang kembali. Sesungguhnya orang yang sangat mengetahui nikmatnya air itu, hanya orang yang benar-benar haus.

Orang yang beruntung yaitu : orang yang pengertian dengan pengalaman (dengan kejadian) yang terjadi pada dirinya atau orang lain. Dan siapa yang tidak mensyukuri nikmat berarti membiarkannya hilang, dan siapa yang mensyukuri nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan tali ikatannya.



٢١٣ - ٭ لاَتـُدْهِشْكَ وَارِداتُ النِّعَمِ عَنِالقِيَامِ بحُقوقِ شُكْرِكَ فاِنَّ ذٰ لكَ مِمّاَ يَحُطُّ من وجُودِ قدْرِكَ ٭

213. “Datangnya nikmat yang bermacam-macam kepadamu itu jangan sampai membingungkan kamu untuk menunaikan hak/ kewajiban bersyukur kepada Alloh yang memberi nikmat, sebab perasaan yang demikian berarti merendahkan derajatmu dihadapan Alloh.”

Kita diperintah oleh Alloh untuk mensyukuri semua nikmat pemberianNya menurut kadar kemampuan yang diberikan Alloh kepada kita, bukan sebanyak nikmat Alloh yang diberikan. Sebabitu tidak mungkin kita laksanakan, karena Alloh memberi nikmat yang besar kepada kita sesuai dengan kebesaran Alloh, sedangkan kita harus mensyukuri nikmat menurut kadar kemampuan kita dari Alloh.

Nabi Dawud as. Berkata : Tuhanku, anak adam ini telah Engkau beri pada tiap helai rambut ada nikmat diatas dan dibawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukur kepadaMu, Jawab Alloh : Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya, dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu dari Aku(Alloh).

Umar bin Abdul Aziz ra berkata : tiadalah Alloh memberi nikmat kepada hamba, kemudian hamba mengucap “Alhamdulillah” , melainkan nilai pujian itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu.

Al-Hikam Pasal 210

Al-Hikam Pasal 210

JANGAN MERENDAHKAN KEKUASAN ALLOH



٭ مَنْ اِسْتَغرَبَ انْ يُنقِذَهُ اللهُ من شَهوَتهِ وان يُخْرِجَهُ من وجودِ غَفلتِهِ فقد اِسْتَعجَزَ القُدْرَةَ الاِلٰهِيَّة َوَكاَنَ اللهُ علٰى كُلِّ شىءٍ مُقْتَدِ رًا ٭

210. “ Barang siapa yang merasa jauh/tidak mungkin diselamatkan Alloh dari pengaruh hawa nafsu syahwatnya, atau dihindarkan dari kelalaiannya, maka berarti ia telah menganggap lemah kekuasaan Alloh. Firman Alloh : sesungguhnya Alloh itu berkuasa atas segala sesuatu.”

Kita harus yakin terhadap Qudrat (kekuasaan) Alloh secara mutlak tanpa kecuali, termasuk menyelamatkan hamba dari nafsu syahwat, dan menghindarkan dari kelalaian . dan qudrat Alloh itu bersamaan dengan Irodah-Nya, sehingga tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa Irodah dan QudratNya, apabila Alloh berkehendak, maka berjalanlah qudratnya dengan perintahNya: Sesungguhnya perintah Alloh jika menghendaki sesuatu, hanya berkata “Kun” maka terjadilah apa yang dikehendakiNya, pada saat yang ditentukanNya, dan menurut apa yang dikehendakiNya.

Maka dari itu jangan ada orang yang putus harapan dari rahmat Alloh, walau bagaimanapun keadaannya,. Tetapi juga jangan sampai mempermainkan dan meremehkan kekuasaan Alloh itu. Alloh berfirman : katakanlah, Hai hambaku yang telah keterlaluan menjerumuskan diri (berbuat dosa), jangan kamu putus harapan dari rahmat Alloh, sesungguhnya Alloh sanggup mengampunkan semua dosa, sungguh Alloh maha pengampun lagi penyayang.

Al-Hikam Pasal 207-209

Al-Hikam Pasal 207-209

IBADAH MENJADI KEBUTUHAN HAMBA


٢٠٧ - ٭ قَيِّدَ الطّاَعَاتِ بِاَعْياَنِ الاَوقاَتِ كىْ لاَ يَمْنَعكَ عَنْهاَوُجُوْدُ التَسْوِيْفِ ، ووَسَّعَ عَليْكَ الوَقْتَ كى تَبْقىٰ لك حِصَّة الاِخْتِيارِ ٭

207. “ Alloh sengaja mengikat/ membatasi amal taat dengan waktu yang ditentukan, supaya engkau tidak teledor dan menunda-nunda amal, dan Alloh memperluas waktunya supaya kamu tetap ada kesempatan beramal dan bisa memilih waktu yang lebih tepat, dan lebih baik.”

Sudah menjadi kebiasaan manusia senang menunda-nunda pekerjaan dan amal ibadah, sehingga Alloh menetapkan waktu amal taat, seperti sholat lima waktu. Karena apabila waktunya tidak ditentukan pastilah manusia menunda-nunda yang akhirnya tidak sampai berbuat. Dan sebab belas kasih Alloh, manusia diberi keluasan waktu, sehingga banyak kesempatan untuk bisa berbuat taat.


٢٠٨ - ٭ عَلِمَ قِلّة َ نُهُوضِ العِبَادِ الٰى مُعَاملَتِهِ فاَوجَبَ عليهم وُجُودَ طاعتهِ فساقهُمْ اِليها بِسَلاسلِ الاِيجَابِ. عجِبَ رَبُّكَ من قومٍ يُساقوُنَ الٰى الجَنَّةِ بالسَّلاسِلِ ٭

208. “ Alloh mengetahui kurang semangatnya hamba untuk mengerjakan taat, maka diwajibkan kepada mereka untuk melakukan taat, dan mereka itu ditarik dengan rantai kewajiban. Tuhanmu heran dengan kaum yang ditarik masuk surga dengan rantai.”

Sesungguhnya Alloh itu memerintahkan kepada hambanya untuk beribadah dan taat, dengan cara memaksa yakni dengan kewajiban. Dan Alloh menakut-nakuti hambanya dengan neraka apabila tidak melakukan taat.




٢٠٩ - ٭ اَوجَبَ عليك وُجُودَ خِدْمَتهِ ومااَوْجَبَ عليكَ الاَّ دخولَ جَنـَّتِهِ ٭

209. “ Alloh mewajibkan kepadamu berhidmah(berbuat Taat) kepada Alloh, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kamu masuk kedalam surgaNya.”

Pada kenyataan lahirnya hamba diwajibkan untuk taat beribadah kepada Alloh, padahal sebenarnya ibadah yang diwajibkan atas hamba itu sedikitpun tidak bermanfaat kepada Nya, sebagaimana maksiat yang sama sekali tidak berpengaruh/mudhorot kepada Alloh. Adapun sesungguhnya taat ibadah yang diwajibkan atas hamba itu untuk kepentingan dan kebaikan hamba itu sendiri, yakni supaya hamba masuk surga.

Sebagaimana diterangkan pada hikmah sebelumnya : Alloh sangat heran dengan kaum yang harus ditarik dengan rantai (kewajiban), supaya mereka mau masuk surga. (yang seharusnya orang itu berebut untuk masuk surga, karena surga itu perkara yang agung, sangat indah dan penuh dengan kenikmatan dan kesenangan, tapi anehnya mereka tidak mau masuk surga, bahkan harus ditarik dengan rantai).

Syeih Abul Hasan As-Syadzily ra berkata : Hendaknya engkau mempunyai satu wirid(amalan) yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dan cinta kepada Alloh swt.

Al-Hikam Pasal 205-206

Al-Hikam Pasal 205-206

PILIHLAH SESUATU YANG BERAT MENURUT NAFSU


٢٠٥ - ٭ اِذاَاالتبَسَ عَليْكَ اَمْرَانِ فاَنْظُرْ اَثقَلهُمَا علىَ النَّفْسِ فاتَّبِعْهُ فَاِنَّهُ لاَ يَثْقُلُ عَليْهَا الاَّ ماَكانا حَقّاً ٭

205. “ Jika terjadi kesamaran bagimu dalam dua hal (yang akan kau kerjakan), maka lihatlah mana yang lebih berat terhadap hawa nafsumu, dan ikutilah/kerjakanlah. Karena nafsu itu tidak akan merasa berat kecuali pada perkara yang haq(lebih utama).”

Seorang salik/murid seharusnya selalu curiga dengan nafsunya, sehingga apabila akan mengerjakan dua amalan yang keduanya sama wajibnya atau sama sunahnya, maka seharusnya ia memilih dan mengerjakan yang berat menurut nafsunya, karena apabila nafsu itu merasa berat itu tanda kalau amalan itu yang haq atau yang lebih utama, karena pada hakikatnya yang namanya ibadah itu sesuatu yang bertentangan / bertolak belakang dengan hawa nafsunya. tetapi apabila seorang murid memilih yang lebih ringan dan menyenangkan nafsunya, menurut para ulama’ ‘arifin termasuk golongan hati yang ada sifat nifaqnya.


٢٠٦ - ٭ مِنْ عَلاَمَاتِ اِتّـِباعِ الهوَى المُسَا رَعَة ُاِلىَ نَوَافِلَ الخيْرَاتِ والتّكاَسُلُ عنِ القِياَمِ بِالوَاجِباتِ ٭

206. "Sebagian dari tanda-tanda menurutkan hawa nafsu ialah cekatan( bersegera) dalam mengerjakan perkara sunah, tetapi malas untuk mengerjakan perkara yang wajib."

Pada kenyataan yang banyak terjadi dimasyarakat, yaitu semangat mengerjakan perkar-perkara sunah, tapi malas bahkan meninggalkan perkara yang diwajibkan, sperti contoh : ringan dan senang bersedekah, tapi berat bahkan tidak mau mengeluarkan zakat. padahal shodaqoh itu sunnah, sedangkan zakat itu hukumnya wajib. dan masih banyak contoh lainnya.

Syeikh Muhammad bin Abil-Ward berkata : Kebinasaan manusia itu terjadi karena dua hal : Mengerjakan yang sunnah dan mengabaikan yang wajib (fardhu). Dan amal perbuatannya hanya mementingkan bagian lahir/luarnya, dan mengabaikan bagian batin/hatinya( yakni niat dan keikhlasannya amal).

Al-Khowwas berkata : Terputusnya makhluk dari Alloh , itu karena dua hal : mengejar amal-amal sunnah dan meninggalkan yang wajib. Dan memperbaiki lahirnya amal, tetapi tidak memperlihatkan keikhlasan amal, sedang Alloh tidak menerima amal kecuali jika ikhlas dan benar menurut runtunan syari’at.

Al-Hikam Pasal 204

Al-Hikam Pasal 204
“ Malu Meminta Karena Sudah Puas”

رُبّماَ اسْتَحْيَاالعَارِفُ اَنْ يَرْفَعَ حَاجَتـَهُ اِلىٰ مَوْلاَهُ لاِكْتِفَاءِـهِ بِمشِيـءَـتِهِِ فَكَيْفَ لاَ يَسْتَحِى انْ يَرْفَعَهَا إِلىَ خَلِيقَتِهِ
“ Terkadang seorang ‘Arif itu malu meminta hajatnya kepada Tuhannya karena sudah merasa rela(puas dengan kehendakNya, maka bagaimana tidak malu meminta hajat/kebutuhannya kepada makhlukNya.”
Syarah
Pada hikmah ke 185-186, telah banyak dibahas tentang lebih utama mana antara meminta/berdo’a atau tidak, dan merasa puas dengan pembagian dan pilihan Alloh, dan pada hikmah ini Syeih ibnu ‘Ato’illah menerangkan tentang sikap para ‘Aarif yang malu meminta hajatnya kepada Alloh, karena sudah merasa puas dengan kehendak Alloh, apalagi meminta kepada makhluk.
Syeih Sahl bin Abdulloh ra. berkata : Tiada suatu nafas atau hati melainkan diperhatikan oleh Alloh pada tiap detik, baik siang maupun malam, maka apabila Alloh melihat dalam hati itu ada hajat kepada sesuatu selain Alloh, niscaya Alloh mendatangkan iblis untuk hati itu.
Syeih Abu Ali Ad-daqqoq berkata : suatu tanda dari makrifat itu, tidak meminta hajat/kebutuhan kecuali kepada Alloh, baik besar maupun kecil. Contoh nabi Musa as. Yang rindu ingin melihat Alloh ia berkata : “ Robbi arini andhur ilaika. Dan ketika ia membutuhkan roti ia berdo’a : Robbi innii lamaa anzalta ilayya min khoirin faqiir.(Ya Tuhan sungguh aku terhadap apa yang engkau berikan kepadaku dari makanan itu sangat membutuhkan).
Nabi Ibrohim ketika akan dilemparkan kedalam api, ia didatangi malaikat Jibril dan ditanya : Apakah engkau ada hajat ? jawabnya : kepadamu tidak. Dan kepada Alloh? Ya. Jika demikian mintalah kepada Alloh. Jawab Ibrohim : Hasbi min su-ali ilmuhu billahi. (Cukup bagiku, Ia mengetahui keadaanku sehingga tidak usah saya minta kepadaNya).
Syeih Abul Hasan As-Syadzili ra. Ketika ditanya tentang ilmu kimia jawabnya : Keluarkanlah semua makhluk dari dalam hatimu, dan putuskan harapanmu untuk mendapat sesuatu selain yang telah ditentukan oleh Tuhanmu untuk kamu. Alloh berfirman : “Sabarlah terhadap hukum Tuhanmu karena engkau selalu dibawah pengawasan Kami”.

Al-Hikam Pasal 203

Al-Hikam Pasal 203
“Salik, Hati-Hati Dengan Pemberian Makhluk”

لا تَمُدَّ نَّ يَدَ كَ اِلىَ اْلاَخْذِ من الخَلاَٰ ءِـقِ اِلاَّ تَرٰى اَنَّ الْمُعْطِىَ فِيْهِمْ مَولاٰ كَ فَإِنْ كُنْتَ كذٰ لكَ فَخُذْ ماَ وَا فقَ الْعِلمَ
“Jangan engkau ulurkan tangan untuk menerima pemberian makhluk, kecuali (sehingga) bila sudah bisa merasa bahwa sebenarnya yang memberi itu Tuhanmu, apabila engkau sudah demikian, maka terimalah pemberian mereka yang sesuai dengan ilmumu(syari’at/ halal).”
Syarah
Sebab bila engkau masih merasa yang memberi itu makhluk (berarti ada yang dapat membantumu selain Alloh), maka Tauhidmu belum benar(murni) dalam menerima pengertian keEsaan Alloh dalam kalimah :Laa-ilaaha illalloh dan Laa haula walaa quwwata illa billah. Sebab hakikatnya semua pemberian itu hanya dari Alloh, semua hak dan kekuasaan Alloh semata,sehingga bila ada pemberian dari tangan siapa saja(makhluk), haruslah meyakini bahwa itu langsung dari Alloh yang menyuruh seorang hamba untuk menyampaikan kepadamu. Kamu juga jangan menerima pemberian makhluk kecuali yang sesuai dengan ilmumu, yakni : ilmu lahir (syariat) dan ilmu batin.
Kholid Al-Juhany ra. Berkata : Rosululloh saw. Bersabda : Siapa yang kedatangan hadiah/sedekah dari temannya tanpa ia meminta dan berharap dalam hatinya, maka hendaknya diterima, sebab yang demikian itu sebagai rizqi yang dihantar oleh Alloh kepadanya. Dalam riwayat lain ada tambahan: dan bila ia tidak membutuhkan karena sudah cukup, maka hendaknya diberikan kepada yang lebih berhajat dari padanya. Rosulullh bersabda : Siapa yang menolak rizqi yang diberi oleh makhluk tanpa minta-minta, maka sesungguhnya ia telah menolak pemberian Alloh.
Umar bin Khottob berkata : Rosululloh selalu memberi kepada saya, maka saya berkata, : berikan kepada orang yang lebih membutuhkan daripada saya. Rosululloh bersabda : Terimalah dan pergunakan atau sodakohkan, dan tiap harta yang datang kepadamudengan tidak engkau harapkan atau engaku minta, maka terimalah, dan yang tidak jangan engkau harap-harapkan.
Syeih Ibrahim al-Khowwas, berkata: Seorang shufi itu tidak harus memilih jalan tidak berusaha ((tajrid), kecuali jika memang sudah cukup keadaannya. Syeih abu Abdulloh Al-qurasy berkata : selama keinginan berusaha itu kuat dalam perasaan nafsu, maka berkasab itu lebih utama.
Syeih Al-A’masy (sulaiman) ra. Berkata: Ada seorang pemuda yang datang kepada Syeih Ibrohim At-taimy, untuk memberi hadiah uang sebanyak 2ooo dirham, sambil berkata: Terimalah uang ini, ini bukan dari raja, juga bukan uang syubhat dan lain-lainnya. Jawab Ibrohim, : Semoga Alloh memberkahi hartamu, dan membalas engkau dengan kebaikan dan terima kasih, lalu ditolaknya uang itu. Setelah pemuda itu pergi saya bertanya : Ya aba Imron, mengapa engkau tidak menerima pemberian itu, Demi Alloh, istrimu tidak memiliki gamis. Jawab Ibrahim : Benar, tetapi anak itu masih muda, belum banyak pengalaman, saya kuatir kalau ia kembali kekampungnya lalu memberi tahu kepada teman-temannya :saya telah memberi Ibrahim dua ribu dirhaham, maka hilang pahalanya dan hilang pula uangnya.

Al-Hikam Pasal 194-202

Al-Hikam Pasal 194-202
“Rahasia Mengajar,
Memberi Nasihat Kebaikan”

من عَبَّرَ مِن بِساطِ احْسانِه اصْمَتـَتْهُ الاِساءةُ ومنْ عَبَّرَ مِن بِساطِاِحْساَنِ اللهِ اليهِ لم يَصْمُتْ اذاأساءَ
194. “Barang siapa menerangkan ilmu/mengajar dengan memandang bahwa keterangannya itu muncul dari kebaikan dirinya, maka dia akan terdiam jika berbuat salah/maksiat, dan siapa yang menerangkan ilmu/mengajar dengan memandang bahwa ilmu/keterangannya itu pemberian Alloh padanya, maka ia tidak akan diam bila ia berbuat salah/dosa.”
Syarah
Hikmah ini menerangkan tentang orang yang mengajar/memberi nasihat tentang kebaikan dengan merasa bahwa dirinya sudah baik, dan merasa bahwa keterangannya itu hasil dari kebaikannya sendiri(yakni dia masih memandang dirinya sendiri), maka bila suatu saat dia tergelincir dalam dosa, dia akan merasa malu untuk memberi nasihat/mengajar orang lain, akan tetapi bila ia ketika memberi nasihat/mengajarkan ilmu pada orang lain itu hanya memandang bahwa ilmunya itu karunia dari Alloh, ia tidak memandang dirinya, maka dia tidak merasa malu untuk menerangkan ilmu/memberi nasihat jika suatu saat ia tergelincir dalam dosa. Sebab berbuat kebaikan itu hanya semata-mata karunia dari Alloh.
Syeih Abul-Abbas Al-Mursy ra. Berkata: Manusia itu terbagi menjadi tiga golongan. Pertama : golongan yang selalu memperhatikan apa-apa yang dari dirinya kepada Alloh. kedua : Golongan yang selalu hanya ingat pemberian dan karunia dari Alloh kepda dirinya. Ketiga : Golongan yang hanya memandang bhwa semua dari Alloh kembali pada Alloh.
Golongan pertama : selalu memikirkan kekurangan diri dalam menunaikan kewajibannya, sehingga selalu berduka cita.
Golongan kedua : selalu melihat semua itu adalah karunia dari Alloh, maka ia selalu gembira.
Dan golongan ketiga : Telah lupa pada dirinya sendiri, hanya teringat bahwa semuanya berasal dari Alloh dan akan kembali kepada Alloh, maka semua terserah Alloh.
Syeih Abul Hasan As-Syadzily ra. Berkata : Pada suatu malam saya membaca surat Qul-a’udzu birobbinnas hingga akhir surat. Tiba-tiba terasa bagiku bahwa : Syarril was-waasil-khonnaas, yang berbisik dalam hati itu ialah yang menyusup antara kau dengan Alloh, untuk melupakan engkau dari karunia-karunia Alloh, yang halus dan samar, dan mengingatkan engkau pada perbuatan-perbuatanmu yang jahat/dosa. Tujuannya untuk membelokkan engkau dari khusnud-dhon kepada su’udh-dhon terhadap Alloh. Maka waspadalah. Beliau juga berkata : Seorang ‘Aarif itu ialah seorang yang telah mengetahui rahasia-rahasia karunia Alloh didalam berbagai macam ujian bala’ yang menimpanya sehari-hari. Danjuga menyadari/mengakui kesalahan-kesalahanny didalam lingkungan belas kasih Allohkepadanya. Beliau berkata lagi : Sedikitnya amal dengan mengkui karunia Alloh, itu lebih baik dari banyaknya amal dengan merasa kekurangan diri sendiri. Yakni seolah-olah mempunyai kekuatan sendiri untuk bikin baik, hanya sekarang belum baik, sehingga ia selalu berduka cita memikirkan bagaimana ia dapatnya lebih baik. Padahal seharusnya ia menyerah dan hanya meminta kepada Alloh saja. sebab jika Alloh belum memberi maka tetap tidak ada perubahan pada dirinya, berdasarkan pengertian ayat :
وَمنْ يَتَوكـَّلْ عَلى اللهِ فـَهُوَ حَسْبُهُ
(Dan siapa yang berserah diri kepada Alloh, maka Alloh sendiri yang akan mencukupi/ melengkapi kekurangannya.)

لاحَوْل ولاقُوَّة َالا بِاللهِ

dan tiada daya upaya atau kekuatan , kecuali atas bantuan dan pertolongan Alloh.

تـَسبِقُ اَنْوارُ الحُكمَاءِ اَقْوَالهُمْ فحَيْثُ صَارَالتَنْويْرُ وَصـلَ التّـَعْبيْرُ
195. “Nur ulama’ ahli hikmah(makrifat) itu selalu mendahului perkataan mereka, karena itu apabila sudah mendapat penerangan dari nur dalam hatinya, maka sampailah keterangan yang dikatakan mereka itu.”
Syarah
Ulama’ ahli hikmah(ahli makrifat) itu bila memberikan nasihat/keterangan akan bisa diterima oleh hati orasng yang mendengarkan,sebagaimana tanah yang tandus dan mati yang disirami dengan air hujan yang lebat, lalu orang yang mendengar bisa mengambil manfaat dari nasihatnya, itu semua dikarenakan mereka (‘arifiin) selalu berhubungan dengan Alloh, dan minta taufiq dan hidayah dari Alloh, dan hanya Alloh yang mengatur kalimat yang keluar dari perkataannya, dan Alloh yang mengatur pendengaran orang yang mendengarkan.
Rosululloh bersabda :
رأ ْسُ الحِكمةِ مَخافَةاللهِ
pokok dari segala hikmah itu ialah takut kepada Alloh.
Ulama’ yang tidak takut kepada Alloh, adalah ulama’ suu’ (penipu ummat). Siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayah imannya, maka tidak bertambah dekatnya kepada Alloh, bahkan bertambah jauh.
Alloh berfirman :

إ ِنَّماَ يَخْشىَ اللهَ مِنْ عِباَدهِ العُلماءُ

(Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Alloh hanyalah para ulama’).

كُـلُّ كلاَمٍ يَبْرُزُ وَعَليْهِ كِسْوَةُ القَلبِ الذى مِنْهُ بَرَزَ
196. “ Setiap perkataan yang keluar itu pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya.”
Syarah
Jadi apabila hati bersinar nurnya makaperkataannya pasti membawa nur juga,sehingga bisa diterima oleh hati orang yang mendengarkannya, berbeda orang yang hanya mengaku-aku (ahli hikmah), perkataan yang keluar itu membawa kegelapan, yakni tidak bisa di ambil manfaatnya (masuk telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri).
Dan lagi tiap-tiap tempat (wadah) itu pasti akan mengeluarkan yang terisi didalamnya,sebagai contoh :gelas atau lainnya yang terisi kopi, itu pasti yang dikeluarkan juga kopi, tidak mungkin air putih.
Ada seorang yang berkata : Mengapa sekarang hati oranr-orang tidak bisa khusyu’ dan matanya tidak bisa mencucurkan air mata. Maka di jawab oleh Syeih Muhammad bin Wasi’ : kemungkinan yang demikian itu penyebabnya dari kamu sendiri, sebab bila nasihat itu keluar dari hati yang ikhlas pasti masuk kedalam hati juga. Sebaliknya kalau hanya berupa kata-kata dilidah dan fantasi belaka, maka ia akan masuk telinnga kanan dan keluar lewat telinga kiri.
Syeih Abul Abbas Al-Mursy ra. Berkata: keadaan hamba itu hanya ada empat macam : Nikmat, bala’, taat, maksiat. Maka jika didalam nikmat kewajiban hamba bersyukur kepada Alloh, dan jika menerima bala’ maka hamba harus bersabar, dan jika dapat melakukan taat harus merasa itu taufiq dan hidayah dari Alloh, dan bila tergelincir dalam dosa/ maksiat maka harus meminta ampun(beristighfar).

منْ اُذ ِنَ لهُ فى التَّعْبيرِفُهمَتْ فـِىمسَامعِ الخَلقْ العِبارَتـُهُ وجُلِّيَتْ اِليهمْ اِشارَتُهُ
197. “Barang siapa sudah mendapat izin dari Alloh untuk mengajar (menerangkan ilmu makrifat), maka keterangannya itu bisa difahami oleh pendengarnya, dan isyarat petunjuknya bisa diterima dengan jelas.”
Syarah
Maksud dari orang yang sudah mendapat izin dari Alloh yaitu : orang yang mengajar/memberi nasihat itu Lillahi (karena Alloh) wa Billahi (dan sebab bantuan/pertolongan Alloh, wa Fillahi(dalam tuntunan hukum Alloh).
Syeih Junaidy Al-Baghdady ra. Berkata : Kalimat/perkataan yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin, sebagaimana firman Alloh :

لاَيَتَكَـلمُونَ إلاَّ من اَذِنَ لَهُ الرّ َحمٰنُ وَقَالَ صَواَباً

“ Mereka tidak berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Ar-Rohman (Alloh) dan berkata dengan benar”.
Syeih Hamdun bin Ahmad bin Umaroh Al-qosshor ketika ditanya: Mengapa kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini? Jawabnya : Karena mereka bicara /berkata untuk kemuliaan islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhoan Alloh. Sedangkan kita bicara untuk kemuliaan diri, dan mencari dunia, dan keridhoan penerima/pendengar (makhluk).

رُبَّماَ بَرَزَتِ الحَقَاءِـقُ مَكْسُوفََة َالاَنْوَارِ اِذاَلَمْ يُوءْذَنْ لكَ فِيهاَ بِالاِظهارِ
198. “ Terkadang ilmu hakikat itu tampak pudar /suram cahayanya jika engkau belum mendapat izin untuk mengeluarkan/ menerangkannya.”
Syarah
Yang dimaksud ilmu hakikat disini yaitu ilmu yang berhubungan makrifatulloh.
Barang siapa yang belum sempurna sifat-sifatnya, dan belum mendapat izin untuk menerangkan Hakikat, dan bila ia menerangkannya pasti akan terlihat suram cahayanya, karena keluar dari lisan yang masih tertutupi kegelapan yaitu selain Alloh. Dan ia sendiri masih diliputi sesuatu yang berlawanan dengan hakikat itu, yang akibatnya orang yang mendengarkan tidak faham dan bahkan yang mendengar akan ingkar dan menolak.
Syeih Abul Abbas al-Mursy ra. Berkata : Seorang Wali itu lebih dahulu telah dipenuhi oleh ilmu dan pemahamn ma’rifat, sehingga Hakikat itu menjadi keyakinan dan terlihat terang baginya. Karena itu jika mengeluarkan kalimat/perkataan seolah-olah mendapat izin dariAlloh, dan kalimat/perkataan yang dikeluarkannya itu berhias keindahan yang bukan buatan, maka langsung diterima oleh pendengarnya.

عِبَارَتـُهمْ إمّاَلِفَيَضَانِ وُجْدٍ اَوْ لِقَصْدِ هِدَايَةِ مُرِيدٍ فالاوَّلُ حالُ السَّالِكِينَ والثانِى حالُ اَرْبابِ المِكْنةِ وَالمُحققينَ.
199. “Kata-kata/keterangan orang yang menerangkan (ilmu makrifat), itu ada kalanya muncul karena luapan perasaan dalam hatinya yang tidak dapat ditahan, atau karena tujuan memberi petunjuk pada murid. Yang pertama itu hal keadaan seorang salik, sedang yang kedua hal keadaan orang yang sudah matang dan mendalam dalam makrifatnya kepada Alloh (ahli tahqiq).”
Syarah
Jika seorang salik (berjalan menuju Alloh), itu berkata-kata/ menerangkan ilmu makrifat, yang bukan karena luapan apa yang dirasakan dalam hatinya, berarti ia hanya merupakan pengakuan yang palsu belaka, demikian pula orang yang mendalam ilmu makrifatnya (arbabul miknah),jika bicara tidak untuk memberi petunjuk kepada murid, berarti ia telah membuka rahasia yang tidak diizinkan. Yang seharusnya ia diam tidak bicara sebab ia selalu dalam adab terhadap Alloh.

العِبَاراتُ قُوْتٌ لعَا ءـلةِ المُسْتَمِعِيْنَ، ليْسَ لكَ الاَّ ماَ انْتَ لهُ اٰ كِلٌ
200. “Keterangan (kata-kata yang berhubungan dengan ilmu makrifat), itu bagaikan makanan bagi yang mendengarkan (membutuhkannya), dan engkau tidak mendapat apa-apa kecuali apa yang engkau makan.”
Syarah
Pada kenyataan lahir bahwa warna dan bentuk makanan itu bermacam-macam(berbeda-beda), dan makanan yang cocok dengan seseorang kadang tidak cocok bagi yang lainnya karena bedanya watak dan selera, dan makanan itu yang berguna bagi tiap-tiap orang itu hanya yang dimakan. Begitu juga makanan yang bangsa maknawi, yang difahami dari ilmu makrifat itu juga berbeda-beda. Apa yang cocok dengan seseorang kadang tidak cocok untuk orang lainnya, sehingga suatu keterangan yang disampaikan kepada orang banyak/jamaah, itu terkadang berbeda juga pemahaman satu dengan yang lainnya, itu karena berbeda tujuannya.
Syeih Muhyiddin Muhammad Ibnu ‘Aroby ra. Berkata : Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zuqoqil-qonadil di mesir, dan disitu bertemu dengan guru-guru, dan setelah hidangan dikeluarkan, disitu ada satu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang-orang makan tiba-tiba wadah itu berkata : Karena kini aku telah mendapat kehormatan dari Alloh untuk tempat makanan guru-guru ini maka mulai saat ini aku tidak rela dipakai tempat kotoran. Kemudian ia terbelah menjadi dua. Syeih Muhyidin bertanya kepada hadirin semua : apakah kalian semua telah mendengar? Jawab mereka : ya, kami mendengar ia berkata : sejak aku dipakai tempat makanan guru-guru, maka aku tidak mau menjadi tempat kotoran lagi. Syeih Muhyidin berkata : Tidak begitu katanya. Para hadirin bertanya : lalu ia berkata apa ? jawab Syeih Muhyidin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Alloh dijadikan tempat Iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia.

رُبَّمَا عَبَّرَ عَنِ المَقَامِ مَنِاسْـتَشْرَفَ عَلَيْهِ، وَرُبَّمَا عَبّـرَ عَنْهُ منْ وَصَلَ اِليهِ وَذٰلكَ مُلتَبِسٌ الاَّ على صاحِبِ بَصيْرَةٍ
201. “ Terkadang orang yang menerangkan satu maqom (tingkat dalam kemakrifatan) itu orang yang ingin/akan sampai kepada maqom tersebut. Dan terkadang orang yang menerangkan/membicarakan maqom itu orang yang telah sampai kedalam maqom tersebut, dan yang demikian itu kabur (samar/tidak berbeda), kecuali bagi orang yang tajam mata hati (bashiroh)nya.”
Syarah
Hikmah ini sebagai lanjutan hikmah ke 199, yang perlu kita perhatikan ada orang yang menerangkan suatu maqom karena mengambil dari keterangan kitab, atau menghafal kata-kata para ulama’ shufiyyah, lalu diterangkan pada orang lain. Berbeda dengan orang-orang yang sudah sampai pada maqom itu, yang berbicara tentang maqom itu biasa saja,seperti berbicara tentang lainnya.

لاَيَنْبَغى للسَّالكِ اَنْيُعَبِّرَ عنْ واَرِدَتِهِ فَاِنَّ ذٰ لكَ يُقِلُّ عَمَلَهاَ فى قَلْبِهِ وَيَمْنَعُهُ وُجُوْدَ الصِّدْ قِ مع رَبِّهِ
202. “ Tidak layak bagi seorang salik menerangkan waridnya pada orang lain, sebab bisa mengurangi pengaruh warid dalam hati, dan menghalangi kesungguhannya kepada Alloh Tuhannya.”
Syarah
Seperti keterangan-keterangan terdahulu tentang Warid yaitu : perkara yang diberikan Alloh kepada hambanya yang berupa ilmu yang langsung dari Alloh yang berhubungan dengan Tauhid.
Sebaiknya salik (orang yang berjalan menuju Alloh) tidak menerangkan dan membuka waridnya kepada orang lain, kecuali pada guru Mursyidnya, karena bisa mengurangi atsarnya dalam hati sehingga tidak sempurna manfaatnya warid didalam hati, dan juga bisa menghalangi kesungguhannya kepada Alloh, karena menerangkan Warid itu tidak lepas dari syahwat/kesenangan nafsu, nafsu merasa enak dan senang, yang bisa menjadikan kuat sifat-sifatnya nafsu. Yang demikian itu pandangannya belum bulat kepda Alloh, tetapi masih selalu mengharap apa-apa dari makhluk. Dan lagi kalau ia bisa menyimpan rahasia Tuhan yang diberikan kepadanya, ia akan mendapatkan kepercayaan untuk rahasia-rahasia yang lebih besar selanjutnya.

Al-Hikam Pasal 193

Al-Hikam Pasal 193
“Tanda-tanda Kedudukan/Maqom”

من عَلاَماتِ اِقَاَمةِ الحقّ ِلكَ فِي شيءٍاقامتهُ اِيَّكَ فيهِ مع حُصُول النَّتـَاءـجِ
“Suatu tanda bahwa Alloh telah menempatkan engkau pada suatu maqom(kedudukan), bila engkau dalam kedudukan itu bisa mendapatkan hasil/ buahnya.”
Syarah
Sebagaimana sudah dijelaskan pada hikmah kedua tentang maqom Tajrid dan maqom kasab, hikmah ini kembali meneragkan tentang tanda-tanda orang yang berada di salah satu maqom tersebut, Tanda orang yang dimaqom Tajrid yaitu:
Apabila Alloh memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Tanda orang yang berada di maqom kasab yaitu:
Apabila Alloh memudahkan kamu dalam usaha/bekerja mencari maisyah, dan dalam bekerja itu bisa selamat agamamu(ibadahmu).

Al-Hikam Pasal 192

Al-Hikam Pasal 192
“Hakikatnya Karomah”

رُبَّما رُزِقَ الكرَامة َمن لم تَكـْمُلْ لهُ الاِسْتِقَامةُ
“Terkadang Alloh memberikan karomah (keistimewaan) kepada seseorang yang belum sempurna istiqomahnya.”
Syarah
Seorang murid sebaiknya tidak mengharapkan karomah, dan tidak tertipu dengan munculnya karomah pada dirinya. Karena keistimewaan yang diberikan pada murid yang belum sempurna istiqomahnya, bisa jadi hanya berupa ma’unah, atau bahkan istidroj. Karena hakikat karomah itu ialah Istiqomah. Dan kesempurnaan istiqomah itu ada pada dua perkara yaitu: sungguh-sungguhnya iman, dan benar-benar mengikuti apa yang di ajarkan Rosululloh saw. Secara lahir batin.
Syeih Abul Hasan As-Syadzily ra. berkata: Tiap kekramatan yang tidak disertai keridhoan terhadap Alloh, berarti orang itu tertipu dan akan binasa.
Syeih Abul Abbas Al-Mursy ra. berkata: Bukannya kebesaran(karomah) itu bagi orang yang bisa melipat dunia ini sehingga dalam satu detik bisa sampai ke makkah dan negara lain-lain. Tetapai kebesaran itu ialah orang yang dilipatkan baginya sifat-sifat hawa nafsunya, sehingga ia langsung disisi Tuhannya.
Syeih Sahl bin Abdulloh ra. Berkata: Sebesar-besar karomah yaitu berubahnya akhlaq yang jelek menjadi akhlaq yang baik. Dan ada yang mengatakan : kamu jangan heran dari seseorang yang tidak menaruh apa-apa dalam sakunya, tetapi ketika ia ingin sesuatu dimasukkan tangannya dalam sakunya dan mendapat apa yang di inginkan. Tapi kamu boleh heran dari seorang yang menaruh apa-apa dalam sakunya, ketika ia ingin sesuatu dimasukkan tangannya dalam sakudan tidak mendapat apa-apa, dan tidak berubah imannya kepada Alloh.
Syeih Abu Yazid Al-Busthomy ra. Berkata: Andaikata ada orang berjalan diatas air, atau duduk diudara, maka jangan kau tertipu olehnya sehingga kau perhatikan ia, bagaimana terhadap perintah dan larangan Alloh dan Rosululloh. Sebab setan dapat bergerak dari timur kebarat dalam sekejap mata, dan dia tetap dilaknat(terkutuk).

Al-Hikam Pasal 187-191

Al-Hikam Pasal 187-191
“Hari Rayanya Murid”

وُرُوْدُالفـَاقَةِ اعْيادُ المُريدِين
187. “Datangnya kefakiran/kesulitan itu sebagai hari rayanya murid (orang yang sedang melatih diri untuk taqorrub kepada Alloh).”
Syarah
Seorang murid itu ketika kedatangan kesulitan, kefakiran, bala’, sehingga merasa rendah diri dihadapan Alloh, itu adalah saat yang terbaik untuk mendapat belas kasih Alloh, dan mempercepat tercapainya tujuan yaitu taqorrub kepada Alloh. Sebagaimana diterangkan pada hikmah yang lalu bahwa dengan kefakiran nafsu tidak dapat bagian apa-apa, yakni dengan kefakiran itu sebagai kemenangan melawan hawa nafsu, sehingga saat yang demikian itu sebagai hari raya yang sangat menggembirakan, sebab tunduknya hawa nafsu, hilangnya rasa kesombongan,ujub atau besar diri.

رُبّما وَجَدْتَ من المزيدِ فى الفاقةِ مالاتَجِدُهُ فى الصلاةِ والصَّوْمِ
188. “ Terkadang pada saat kefakiran itu engkau bisa mendapatkan kelebihan karunia dan kebesaran dari Alloh, yang tidak bisa engkau dapatkan dengan puasa dan sholat.”
Syarah
Itu bisa terjadi sebab puasa dan sholat terkadang karena kesenangan dan kepentingan hawa nafsu,sehingga ibadahnya tidak bisa selamat dari afatnya ibadah seperti riya’, takabbur, ujub dan lain-lain. Berbeda ketika dalam kondisi fakir, akan hilang kesenangan dan kepentingan hawa nafsu. Dan lagi hikmah ini bisa di artikan bahwa datangnya kefakiran, bala’ itu sebagai nikmat batin (samar).

الفاقَاتُ بُسُطُ المَوَاهبِ
189. “ Berbagai macam ujian bala’(kefakiran dan kekurangan)itu, bagaikan hamparan (lemek) untuk hidangan pemberian dan karunia dari Alloh.”
Syarah
Dengan datangnya kefakiran, hakikatnya Alloh mendudukkan kamu dihadapanNya, dan cukuplah bagi kamu apa yang ada dari macam-macam anugerah dari Alloh.
Dan lagi apabila Alloh akan memberi anugerah yang besar kepada hamba, akan tetapi amal ibadah lahiryahnya tidak mencukupi sebagai tebusan karunia alloh, maka Alloh menguji padanya dengan bala’ sebagai tebusan berbagai dosa, kemudian diberikannya anugerah karunia dari Alloh.

اذااَرَدْتَ وُرُودَالمَوَاهِبِ عَليكَ صَحِّح الفَقْرَ والفَاقَة َ لديْكَ "انّماَ الصّدقاتُ لِلفُقرَاءِ"
190. “Jika engkau ingin datangnya macam-macam karunia dari Alloh kepadamu, maka bersungguh-sungguhlah dalam mengakui dan membuktikan kefakiran dan sangat berhajatmu kepada Alloh. Firman Alloh: Sesungguhnya yang berhak menerima pemberian(shodaqoh) itu hanyalah mereka yang benar-benar fakir.”

تحَقـَّقْ بِأوْصافِكَ يُمِدَّكَ بِأوْصافهِ، تحَقـَّقْ بذٰلِكَ يُمدَّكَ بعِزِّهِ، تحَقـَّقْ بِعَجْزِكَ يُمدَّكَ بقُدْرَاتهِ، تحَقـَّقْ بضُعفِكَ يمدَّكَ بِحَولهِ وَقوَّتهِ
191. “Buktikan dengan benar sifat-sifatmu, niscaya Alloh membantumu dengan sifat Nya, Buktikan dengan benar sifat kehinaanmu, niscaya Alloh membantumu dengan sifat kemuliaanNya, Buktikan dengan benar sifat kekuranganmu, niscaya Alloh membantumu dengan sifat kekuasaanNya, Buktikan dengan benar sifat kelemahanmu, niscaya Alloh membantumu dengan sifat kekuatanNya.”
Syarah
Kedua hikmah ini mengajarkan kepada kita supaya menempati posisi kita yang semestinya, yaitu sebagai hamba, yang mempunyai sifat asli yaitu: fakir, kurang lemah, hina, dan bodoh. Apabila kita mengakui dan memposisikan diri sebagai hamba, niscaya Alloh akan menolong kita, memberi kemudahan dan karuniaNya kepada kita. Dan ketika Alloh memberikan kekayaan, kemuliaan, kekuasaan dan kekuatan, kita akan sadar dan merasa bahwa itu semua dari Alloh, bukan dari diri sendiri, dan bukan dari lain-lainnya Alloh.itulah tauhid yang murni, yang tidak ada Tuhan, tidak ada daya kekuatan, melainkan Alloh, dan semata-mata bantuan dan pertolonganNya, tanpa ada perantara dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Sebaliknya apabila kita tidak mau menempati kedudukan kita sebagai hamba, dan lupa akan sifat kehambaan, yang akan menjadikan murka Alloh, dan menyaingi sifat-sifat Alloh.

Al-Hikam Pasal 185-186

Al-Hikam Pasal 185-186
“Lebih Utama Mana Antara Berdo’a Atau Tidak”

رُبّـَماَ دَلـَّهُمُ الاَدابُ علَى تَركِ الطلبِ اِعْتماداً على قِسـمتهِ واستغالا بذِكرِه عنْ مسـءـلتهِ
185. “ Terkadang Alloh menunjukkan pada hambanya (para ‘Arif) adabnya seorang hamba untuk tidak meminta/berdo’a karena menyerah pada kebijaksanaan dan merasa puas dengan pembagian dari Alloh, dan terlalu sibuk berdzikir sehingga tidak sempat minta-minta”
Syarah
Ada sebagian ‘Arifin yang mereka terkadang terpaksa untuk tidak meminta, dan menyerah pada Alloh dan hanya mengandalkan pembagian yang sudah ditetapkan Alloh dizaman ‘azal.
Para ulama ada yang berbeda pendapat tentang lebih utama mana antara meminta/berdo’a atau diam/tidak meminta.
Ada yang berpendapat: lebih utama berdo’a, karena berdo’a itu bagian dari ibadah, dan mengerjakan perkara yang disebut ibadah itu lebih utama daripada meninggalkannya.
Sebagian berpendapat : diam dan tidak berdo’a dan merasa puas dan ridho dengan berlakunya hukum (qodho’) itu lebih sempurna dan diridhoi, karena sesuatu yang sudah dipilihkan Alloh untuk kita itu lebih itu lebih utama daripada pilihan kita. Dalam hidist qudsi Alloh berfirman : barang siapa tersikkan dzikir kepadaKu dan meninggalkan meminta kepadaKu, Aku akan memberi yang terbaik dari apa yang Aku berikan pada orang yang meminta.
Dan ada yang berpendapat: waktu itu berbeda-beda, adakalanya lebih utama berdo’a dan adakalanya lebih baik diam, sebagaimana yang dikatakan Syeih Abul-Qosim Al-Qusyairi ra.
Apabila hati lebih condong kepada do’a, maka lebih baik berdo’a, dan apabila hati lebih condong diam, maka diam dan tidak berdo’a lebih baik,. Apabila hati lebih condong kepada ridho, dan puas dengan pembagian dan pilihan dari Alloh, dan lebih memperbanyak dzikir itulah adab tatakrama yang utama.

إنّـَما يُذَكَّرُ من يجُوزُ لهُ الاِغْـفالُ وإنّـَما ينبـَّهُ من يُمْكنُ لهُ الاِهمالُ
186. “ Sesungguhnya yang harus diingatkan itu hanya orang yang mungkin lupa, dan yang harus ditegur itu hana orang yang mungkin teledor(sembrono)”.
Syarah
Apakah mungkin Alloh itu lupa? Kok harus dingingatkan dengan meminta, Dan apakah mungkin Alloh itu teledor, sehingga tidak memperhatikan hambanya? Itu tidak mungkin, dan itu muhal bagi Alloh. Maka bagi para ‘Arif meninggalkan meminta itu bagian dari adab tatakrama kepada alloh.
Syeih Abu Bakar Al-Wasithi ra. Ketika diminta mendo’akan muridnya, lalu ia berkata: Saya kuatir kalau saya berdo’a, lalu ditanyakan kepadaku begini: kalau kamu meminta kepadaKu (Alloh) apa yang menjadi hakmu, berarti engkau curiga kepadaKu, dan bila kau meminta apa yang bukan menjadi hakmu, berarti engkau telah menyalahgunakan kewajibanmu untuk memuji kepadaKu, dan bila kau ridho maka Aku akan menjalankan padamu apa yang sudah Aku tetapkan pada masa yang sudah lalu(zaman ‘Azal).
Syeih Abdulloh bin Munazil berkata: sejak lima puluh tahun saya tidak pernah berdo’a meminta kepada alloh, juga tidak ingin di do’akan oleh oranglain. Sebab segala sesuatu berjalan menurut apa yang telah ditetapkan oleh Alloh dizman ‘azal, dan saya sudah merasa puas dengan itu.

Al-Hikam Pasal 183-184

Al-Hikam Pasal 183-184
“Keinginan Mendapatkan Sirrul ‘Inayah”

عَلِمَ اَنَّ الْعِبَادَ يَتَشَوَّقـُونَ اِلىَ ظُهُورِ سِـرِّالعِنَـَايَةِ فَقاَلَ :يَـخْتـَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَّـَشَـاءُ. وَعَلِمَ اَنّـَهُ لَوْ خَلاَّ هُمْ وَذَالكَ لَتَرَكُواالعملَ إعْتِمَادًا علىْ الاَزَلِ فَقاَلَ: إنَّ رَحْمَة َ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ المُحْسِنِيـْنَ
183. “ Alloh telah mengetahui bahwa hamba-hamba ingin mendapat rahasia (kebesaran) karunia Alloh(sirrul ‘inayah), maka Alloh berfirman: “ Alloh sendiri yang menentukan (menghususkan) rahmat dan karunia pada siapa yang dikehendaki” , dan Alloh mengetahui andaikan manusia dibiarkan (mengetahui rahasianya), mungkin mereka meninggalkan amal usaha karena berserah pada keputusan dizaman ‘azal, karena itu Alloh berfirman: “ Sesungguhnya rahmat Alloh itu dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan” .
Syarah
Sir itu berarti: semua perkara yang ditutupi, karena itu sir dirahasiakan pada kita.
 Inayah berarti: bersambungnya Irodah(kehendak Alloh) dengan berhasilnya Sir dimasa yang akan datang.
Berhubung Alloh mengetahui bahwa kita itu sangat menginginkan dapat mengetahia masadepan kita apa celaka apa bahagia, sehingga kita ingin tahu rahasia pemberian/karunia Alloh(sirrul ‘Inayah), lalu kita meminta dengan berdo’a dan beramal sholih, dan kita beri’tikat bahwa dengan do’a dan amal sholih itu bisa menarik sirrul ‘inayah, maka Alloh berfirman : “ YAKHTAS-SHU BIROHMATIHII- MAN-YASYA’U( “Alloh sendiri yang menentukan (menghususkan) rahmat dan karunia pada siapa yang dikehendaki” Al-Baqarah: 105) untuk mencegah kita dan menghilangkan keinginan kita, karena Alloh sendiri lebih mengetahui dimana Ia meletakkan risalahNya.
Dan Alloh juga mengetahui bila para hamba dibiarkan mengetahui rahasia pertolonganNya, dan terus menerus melihat bahwa sirrul ‘inayah ‘azaliyyah itu khusus pada sebagian orang,yakni tidak umum, bisa jadi para hamba meninggalkan amal dan berdoa, karena mengandalkan pada keputusan dizaman ‘azal, (kalau dizaman ‘azal aku sudah ditetapkan menjadi orang yang dapat inayah dan menjadi orang khusus, pasti aku akan masuk surga, walaupun tidak beramal, jadi tidak perlu beramal, begitu pula sebaliknya). Karena itu Alloh menunjukkan tanda-tanda orang yang mendapatkan ‘inayah/karunia, yaitu orang-orang yang berbuat baik dan memperbaiki perbuatannya. Yakni bukan amal kebaikan itu yang menyebabkan datangnya inayah/karunia, ia hanya sebagai tanda adanya ‘inayah.

إلى المشِيْـءَـةِ يَسْـتَـنِدُ كُلَّ شَىءٍ وَلاَ تَسْـتـنِدُ هِي الَى شَىءٍ
184.“Segala sesuatu tergantung KehendakNya, bukan KehendakNya bergantung pada segala sesuatu.”
Syarah
Segala yang ada ini muncul karena kehendak AzaliNya. Doa, amal ibadah, dan usaha tidak memiliki pengaruh apa pun, pada munculnya keinginan para hamba. Semua bergantung pada hukum Azali.
Lalu aturan kehambaan kita, adalah aturan harus dilakukan, yaitu berusaha, beramal ibadah, taat dan patuh dan senantiasa butuh kepada Allah Swt, sebagai perwujudan kepatuhan hamba kepadaNya.
Al-Wasithy mengatakan, sesungguhnya Allah Swt tidak mendekati si fakir karena kefakirannya, juga tidak menjauhi si kayak arena kekayaannya. Seluruh makhluk ini tidak memiliki pengaruh, baik sukses maupun gagal, bahkan seandainya dunia adan akhirat anda serahkan sepenuhnya kepada Allah, anda tetap tidak akan sampai kepada Allah Swt, dengan dunia dan akhirat anda. Allah mendekatkan mereka kepadaNya, bukan karena sebab atau faktor tertentu, dan Allah mejauhkan mereka dariNya, juga bukan karena faktor-faktor tertentu. Allah Swt, berfirman: “Siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah baginya, maka ia tidak akan meraih cahaya itu.”
Namun, bila Allah Swt, menghendaki hambaNya untuk meraih anugerahNya, maka si hamba pun ditakdirkan untuk berikhtiar, patuh dan beramal sholeh serta ibadah yang benar, tetapi seluruh tindakan hamba itu tidak menjadi penyebab yang mengharuskan turunnya anugerah, namun amal ibadah dan kepatuhan itulah anugerah yang sesungguhnya.

Al-Hikam Pasal 179-182

Al-Hikam Pasal 179-182
“Do’a Bukan Penyebab Alloh Memberi”

لا يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَـبُّـبًا اِلى العَطَاءِ مِنْهُ فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ وَاليَكُنْ طَلَبُكَ لاِظْهارِ العُبُودِ يَّةِ وَقياماً بِحُقُوقِ الرُّبُوبيَّةِ
179. “ Jangan sampai do’a permintaanmu itu engkau jadikan alat/sebab untuk mencapai pemberian Alloh (jangan punya i’tiqod bahwa pemberian Alloh itu sebab do’amu), niscaya akan kurang pengertianmu(makrifatmu) kepada Alloh, tetapi hendaknya do’a permintaanmu itu semata-mata untuk menunjukkan kerendahan, kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap keTuhanannya Alloh.”
Syarah
Alloh swt. Telah memerintahkan hambanya untuk berdo’a dan meminta kepadaNya, tujuan utamanya hanya supaya hamba benar-benar menunjukkan sifat fakir, hina dan bodohnya dihadapan Alloh, bukan untuk sebab/alat menghasilkan apa yang diminta.
Hikmah dan pemahaman ini bagi orang yang sudah Arif billah, yang mereka tidak pernah berhenti dan bosan meminta kepada Alloh, walaupun tidak diberikan apa yang diminta, bagi mereka antara diberi atau tidak itu sama saja, sehingga mereka selalu menjadi hamba Alloh dalam segala keadaan.
Syeih Abul Hasan As-Syadzily ra. Berkata: Janganlah yang menjadi tujuan dari do’amu itu tercapainya hajat kebutuhanmu, maka jika demikian berarti engkau terhijab dari Alloh, tetapi seharusnya tujuan do’a itu untuk munajat kepada Alloh, yang memeliharamu, menciptakan dirimu. Dan bala’ dan bencana yang memaksa engkau berdo’a kepada Alloh, itu lebih baik daripada menerima nikmat kesenangan yang melupakan kepada Alloh dan menjauhkan daripadaNya.

كَيْفَ يَكُونُ طَلَبُكَ اللاَّحِقَُ سَبـبًا فى عَطَاءِـهِ السَّابِقِ
180. “Bagaimana mungkin permintaanmu yang datang belakangan, itu bisa menjadi sebab pemberian Alloh yang telah ditetapkan dan diputuskan lebih dahulu.”

جَلَّ حُكْمُ الاَزَلِ اَنْيُضَافَ اِلى الْعلَلِ
181. “ Maha suci hukum(putusan) Alloh yang telah pasti dalam azal, jika disandarkan kepada sebab musabab(‘ilat).”
Syarah
Sungguh tidak masuk akal kalau permintaan kita yang baru sekarang, itu menjadi sebab pemberian Alloh yang sudah lalu. Sesungguhnya keputusan Alloh dalam menentukan peraturan alam ini sudah ditentukan/tetapkan dalam zaman ‘azal sebelum adanya alam ini, dan termasuk juga segala kebutuhan hajat hidup semua makhluk termasuk kita manusia, artinya sebelum kita meminta sesungguhnya Alloh sudah menentukan apa yang diberikan kepada kita. Yakni Alloh sudah memberi sebelum kita meminta. Sebagai contoh kita tidak/belum pernah meminta hidup tapi Alloh sudah memberi kehidupan, sewaktu kita masih dalam alam kandungan sampai kita lahir, dan dimasa kanak-kanak, kita belum pernah meminta bahkan belum tahu caranya meminta hajat kebutuhan kita, Alloh sudah terlebih dahulu memberikan semua hajat kebutuhan kita sehingga kita bisa hidup sampai sekarang, dan itu sama berlaku seterusnya.
Karena itu jangan mengira seolah-olah Alloh lupa dengan hajat kebutuhanmu, sehingga kamu harus mengingatkan Alloh supaya memberikan hajat kebutuhanmu. Kalau memang demikian kepercayaanmu terhadap Alloh, berarti benar-benar engkau belum mengenal Alloh dalam sifat kesempurnaanNya.
Segala sesuatu yang terjadi dialam ini, semata-mata dari qudrat dan irodatnya Alloh secara mutlak, sehingga tidak disandarkan pada ‘ilat/sebab musabab (karena ini dan itu).

عِنَايَـتـُهُ فِيْـكَ لالِشَْىءٍ مِنْكَ وَايْنَ كُنْتَ حِينَ وَاجَهَـتـْكَ عِنَـَايَتـُهُ وَقَا بَلَتـْكَ رِعَايَتـُهُ لَمْ يَكُنْ فِى اَزَلِهِ اِخلاََصُ اَعْماَلٍِ وَلاَ وُجُدُ اَحْوَالٍ بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ الاَّ مَحْضُ الاِفْضال وَعَظيمُ النَّوّالِ
182. “ Pemberian dan perhatian Alloh kepadamu itu bukan karena sesuatu yang keluar/muncul dari kamu(seperti do’a dan amal sholih), buktinya: dimanakah kamu ketika Alloh menetapkan karunianya kepadamu dizaman ‘azal? ( dizaman ‘azal kamu dimana? Kamu tidak ada, kamu juga tidak berbuat apa-apa), disaat itu(zaman ‘azal) tidak ada do’a atau amal yang ikhlas atau akhwal, bahkan tidak ada apa-apa ketika itu kecuali hanya semata-mata anugerah karunia dan pemberian Alloh yang agung.”
Syarah
Alloh sudah melengkapi dan memenuhi hajat kebutuhan kita disaat kita sendiri belum mengerti apa saja kebutuhan kita, maka dari itu coba kita pikirkan dan perhatikan perhatian dan pemberian Alloh pada kita semenjak kita masih berupa air mani, sama sekali kita belum bisa berdo’a dan beramal, tetapi perlengkapan yang diberikan Alloh kepada kita tidak berkurang sedikitpun, dan selanjutnya hingga kita lahir, masa kanak-kanak, dewasa dan tua, karunia dan pemberian serta perhatian Alloh kepada kita tidak berubah. Dan semua itu tidak bersandar pada amal atau do’a kita. Tapi semata-mata kekuasaan dan kehendak Alloh yang mutlak.