01. Biografi para nabi Baca
02. Biodata Nabi Baca
03. Kisah Nabi Baca
04. Biografi Nabi Baca
Sabtu, 06 Juli 2019
Selasa, 18 Juni 2019
Al Hikam 1
Al Hikam : Ma'rifat, Fana, dan Mahabbah
من
عرف الحق شهده في كل شيئ, و من فني به غاب عن كل شيئ, ومن أحبه لم يؤثر عليه شيئا
Artinya : " Barang siapa yang ma'rifat kepada Al Haq (Allah), maka ia akan
menyaksikanNya disetiap sesuatu, barang siapa yang fana' denganNya maka ia akan
merasa hilang dari setiap sesuatu dan barang siapa yang mahabbah (cinta)
kepadaNya maka tidak akan mendahulukan sesuatu dariNya (Allah) ".
Setiap hamba yang beriman kepada Allah wajib baginya mempunyai tiga unsur sifat yang meliputi, ma'rifat, fana' dan mahabbah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Karena, bagaimana mungkin seorang hamba dikatakan beriman kalau ia tidak tahu akan Allah? bagaimana bisa dikatakan beriman kalau ia masih bersama selain Allah (belum bisa fana' denganNya) dan bagaimana mungkin dikatakan beriman kalau semua cintanya hanya kepada selain Allah ? jika ketiga sifat tadi bisa dipraktekkan maka seorang mukmin akan naik kederajat muqorobah sesuai dengan kwalitas ketiga sifat tadi.
Kalau hikmah diatas kita tela'ah, dari dlohirnya memberikan pemahaman bahwa ketiga sifat tadi terkadang satu dengan yang lainnya bisa terpisah, dengan arti kadang seorang mukmin bisa menerapkan sifat ma'rifat yang sempurna tanpa disertai fana', terkadang bisa fana denganNya tanpa dengan ma'rifat yang sempurna dan juga terkadang timbul mahabbah yang tanpa ma'rifat dan fana.
Namun pemahaman ini bukanlah maksud yang termaktub dalam hikmah diatas karena diantara ketiga sifat tersebut mempunyai ketalazuman (saling berkaitan) yang tidak bisa lepas satu dengan lainnya
Dari ketiga sifat tersebut yang menjadi pokok dan yang paling penting adalah ma'rifat. ma'rifatullah tidaklah seperti halnya manusia tahu makhluq lainnya secara kasat mata dan ini sangatlah mustahil karena bagaimana bisa akal makhluq bisa menemukan Dzat al kholiq, oleh karena itu dikatakan :
كل ما خطر ببالك فالله بخلاق ذلك
Artinya : " Apapun yang terlintas dihatimu, maka Allah adalah selainnya "
Ma'rifat kepada Allah bisa diap;ikasikan dengan mengetahui sifat-sifatNya, sifat Wujud, Esa, Qudroh, 'Ilmu, Hikmah, Rohmah, Lembut, Keagungan, memaksa, menciptakan menghidupkan, mematikan dan sifat-sifat lainnya.
Kemudian seorang hamba didalam ma'rifatnya kepada Allah dengan tahu akan sifat-sifatNya berbeda-beda kwalitasnya, ada yang sebatas tahu sifat-sifatNya dengan akalnya dan hafal nama-namaNya. Ada yang bisa ma'rifat sampai meresap pada perasaannya. Dan ada juga yang tahu atau ma'rifat akan sifat-sifatNya, sedang ia dalam keadaan disibukkan/mu'amalah dengan dunia namun hatinya masih teguh memegang prinsip dan menggantungkan semua urusan atas fadlol, sifat murah, dan qhodo qhodarnya Allah. Ia tetap memandang kehendak dan pengaturanNya serta hanya mengharapkan rahmat dan takut akan siksaanNya.
Dan sebagian yang lain ada yang lebih dari itu, ia makrifat/tahu akan sifat-sifatNya dan merasakannya sehingga tidak bisa melihat alam ini di setiap tingkahnya kecuali ia melihat jelasnya sifat-sifat Allah, ketika ia melihat sesuatu yang indah ia tidak melihat kecuali melihat sifat jamalnya Allah, ketika melihat ajaibnya pengaturan Allah pada alam ini ia tidak melihat kecuali hikmah dan pengaturanNya, jika ia dikagetkan dengan musibah dan mara bahaya yang menimpanya ia tidak melihat kecuali sifat tajalli dan sifat memaksaNya serta menganggap ujian itu adalah tarbiyah dari Allah kepada hambaNya.
Ia tidak menoleh, memandang dan tidak menemukan sesuatu didepannya kecuali jelasnya sifat ketuhanan Allah dalam ajaibnya makhluqNya, sekiranya dalil (sesuatu yang menunjukan) menjadi hancur dan hilang karena jelasnya madlulnya (yang ditunjukan), perasaan hadir dan ma'rifatnya sang arif kepada madlulnya dalil lebih dominan, bukan kepada dalil yang tugasnya sudah selesai didalam menunjukkan madlulnya.
Derajat/maqom makrifat inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Attho Illah :
Kemudian, termasuk suatu keharusan/kelaziman dari makrifat ini adalah tingkah/haliyah yang disebut Fana' Juz'i, karena tidak mungkin seorang ‘arif yang menyaksikan Allah didalam setiap sesuatu kecuali ketika wujudnya mahluk di depannya hancur atau rusak (menurut pandangan mata batin / basirohnya) serta ia masih yakin akan wujudnya makhluk dan masih muamalah/bisa berhubungan dengannya. Inilah yang disebut الفناء الجزئيّ
Akan tetapi ada sebagian orang yang ‘arif billah, yang bisa atau mampu pindah dari haliyah fana' juz'i ke fana' kulli, maka ia merasa hilang dari makhluk atau alam ini secara keseluruhan, dan tidak bisa lagi mu'amalah dengannya. Barang kali Ibnu 'Attoillah menghendaki makna fana' dengan fana' kulli ini, yang mana beliau memberikan devinisi orang yang fana' dengan ‘ibarot :
و من فني به غاب عن كل شيئ
Hanya saja haliyah fana' kulli ini sangatlah langka, karena orang yang sudah merasa hilang dengan ma'rifat billah dari setiap sesuatu, tidak bisa mu'amalah dengan manusia, ia tidak bisa bangkit untuk menuntun/membimbing manusia dan tidak bisa melakukan dakwah, tapi ia tetap dalam keadaan menyaksikan Allah dengan hatinya.
Akan tetapi, haliyah fana' kulli ini, kebanyakan hanyalah dirasakan oleh orang yang ‘arif disebagian haliyahnya saja. Kemudian ia akan kembali pada haliyah baqo' namun masih ma'rifat billah, sebagaimana ta'bir:
من عرف الحق شهده في كل شيئ
Dan inilah yang dimaksud dengan fana' juz'i, haliyah yang sering dijalani oleh sahabat - sahabat Nabi dan orang-orang shiddiqiin atau robbaniyyiin setelah mereka.
Seorang hamba yang sudah masuk pada fana' kulli ia dikatakan seorang yang majdzub (مجذوب) yang tidak bisa lagi mu'amalah dengan makhluk lainnya karena ia sedang terpana musyahadah kepada Allah, bahkan haliyahnya kadang berlawanan arus dengan syari'at, namun pada haliyah ini ia termasuk dalam keadaan 'udzur.
Bagi orang lain yang sedang menyaksikan/melihatnya diharapkan tidak langsung berprasangka buruk (سوء الظن) dan berbuat tidak sopan (سوء الأدب) kepadanya serta tidak segera menghinanya karena ia dalam keadaan udzur.
Beliau Ibnu 'Athoillah rahimahullah dalam hikmah diatas tidaklah membicarakan tentang fana' kulli yang pada sampai tingkah majdzub, namun beliau sedang membahas tentang fana juz'i yang mana hamba yang sudah sampai haliyah ini masih bisa menjalankan syari'at dan mu'amalah dengan lainnya, inilah makna yang tersirat dalam qoulnya : و من فني به غاب عن كل شيئ
Kemudian termasuk kelaziman dari ma'rifat adalah mahabbahnya sang 'arif kepada Allah ta'ala. Karena pokoknya iman tidak bisa istiqomah dan terwujud kecuali dengan mahabbah ini, cinta yang ditimbulkan dari ma'rifat tersebut.
Karena hamba yang 'arif tidak melihat alam ini kecuali ia hanya memandang sifat-sifatNya yang Maha Indah, agung dan ia mampu melihat sifat Ihsannya Allah.
Jika mahabbah ini terwujud dan bisa dilaksanakan, maka sang muhib tidak akan mendahulukan / mementingkan sesuatu kecuali hanya ridhonya orang yang dicintainya yang tidak lain hanyalah ridhonya Allah subhanahu wa ta'ala. Beliau rahimahullah berkata :
ومن أحبه لم يؤثر عليه شيئا Kesenangan-kesenangan nafsu dan tabi'at kemanusiaan menjadi lenyap dan hancur karena wujudnya Mahabbatullah ini.
Akan tetapi adanya tabi'at kemanusiaan, kekuatan hamba yang maha lemah dan terbatas, yang mana Allah menggambarkan dalam firmanNya :
وخلق االإنسان ضعيفا (النساء : ٢٨)
Artinya : "Dan manusia dijadikan bersifat lemah" (al nisa' : 28), dan juga firmanNya yang berbunyi :
لقد خلقنا الإنسان فى كبد ( البلد : ٤)
Artinya : "Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia berada dalam susah payah" (al balad : 4).
apakah dengan keadaaan seorang hamba yang lemah tersebut mampu mewujudkan mahabbah ini ?
Oleh karena itu, seorang yang muhib lillah harus mampu berusaha keras melawan hawa nafsunya walaupun memang diciptakan dalam keadaan yang dhoif. Atas dasar mahabbah seharusnya terus memperlihatkan hina dan lemahnya dirinya dihadapan Allah, dan ketidak mampuannya dalam merealisasikan cintanya serta ia harus selalu bersabar dalam merealisasikan istiqomah dalam jalan 'ubudiyyah.
Jadi, seorang yang 'arif dan muhib lillah, sebagaimana digambarkan oleh Ibnu 'Athoillah, tidak akan mendahulukan dan mementingkan sesuatu urusan kecuali hanya urusan Mahbubnya (Allah Subhanahu wa ta'ala). Wallahu a'lam
Setiap hamba yang beriman kepada Allah wajib baginya mempunyai tiga unsur sifat yang meliputi, ma'rifat, fana' dan mahabbah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Karena, bagaimana mungkin seorang hamba dikatakan beriman kalau ia tidak tahu akan Allah? bagaimana bisa dikatakan beriman kalau ia masih bersama selain Allah (belum bisa fana' denganNya) dan bagaimana mungkin dikatakan beriman kalau semua cintanya hanya kepada selain Allah ? jika ketiga sifat tadi bisa dipraktekkan maka seorang mukmin akan naik kederajat muqorobah sesuai dengan kwalitas ketiga sifat tadi.
Kalau hikmah diatas kita tela'ah, dari dlohirnya memberikan pemahaman bahwa ketiga sifat tadi terkadang satu dengan yang lainnya bisa terpisah, dengan arti kadang seorang mukmin bisa menerapkan sifat ma'rifat yang sempurna tanpa disertai fana', terkadang bisa fana denganNya tanpa dengan ma'rifat yang sempurna dan juga terkadang timbul mahabbah yang tanpa ma'rifat dan fana.
Namun pemahaman ini bukanlah maksud yang termaktub dalam hikmah diatas karena diantara ketiga sifat tersebut mempunyai ketalazuman (saling berkaitan) yang tidak bisa lepas satu dengan lainnya
Dari ketiga sifat tersebut yang menjadi pokok dan yang paling penting adalah ma'rifat. ma'rifatullah tidaklah seperti halnya manusia tahu makhluq lainnya secara kasat mata dan ini sangatlah mustahil karena bagaimana bisa akal makhluq bisa menemukan Dzat al kholiq, oleh karena itu dikatakan :
كل ما خطر ببالك فالله بخلاق ذلك
Artinya : " Apapun yang terlintas dihatimu, maka Allah adalah selainnya "
Ma'rifat kepada Allah bisa diap;ikasikan dengan mengetahui sifat-sifatNya, sifat Wujud, Esa, Qudroh, 'Ilmu, Hikmah, Rohmah, Lembut, Keagungan, memaksa, menciptakan menghidupkan, mematikan dan sifat-sifat lainnya.
Kemudian seorang hamba didalam ma'rifatnya kepada Allah dengan tahu akan sifat-sifatNya berbeda-beda kwalitasnya, ada yang sebatas tahu sifat-sifatNya dengan akalnya dan hafal nama-namaNya. Ada yang bisa ma'rifat sampai meresap pada perasaannya. Dan ada juga yang tahu atau ma'rifat akan sifat-sifatNya, sedang ia dalam keadaan disibukkan/mu'amalah dengan dunia namun hatinya masih teguh memegang prinsip dan menggantungkan semua urusan atas fadlol, sifat murah, dan qhodo qhodarnya Allah. Ia tetap memandang kehendak dan pengaturanNya serta hanya mengharapkan rahmat dan takut akan siksaanNya.
Dan sebagian yang lain ada yang lebih dari itu, ia makrifat/tahu akan sifat-sifatNya dan merasakannya sehingga tidak bisa melihat alam ini di setiap tingkahnya kecuali ia melihat jelasnya sifat-sifat Allah, ketika ia melihat sesuatu yang indah ia tidak melihat kecuali melihat sifat jamalnya Allah, ketika melihat ajaibnya pengaturan Allah pada alam ini ia tidak melihat kecuali hikmah dan pengaturanNya, jika ia dikagetkan dengan musibah dan mara bahaya yang menimpanya ia tidak melihat kecuali sifat tajalli dan sifat memaksaNya serta menganggap ujian itu adalah tarbiyah dari Allah kepada hambaNya.
Ia tidak menoleh, memandang dan tidak menemukan sesuatu didepannya kecuali jelasnya sifat ketuhanan Allah dalam ajaibnya makhluqNya, sekiranya dalil (sesuatu yang menunjukan) menjadi hancur dan hilang karena jelasnya madlulnya (yang ditunjukan), perasaan hadir dan ma'rifatnya sang arif kepada madlulnya dalil lebih dominan, bukan kepada dalil yang tugasnya sudah selesai didalam menunjukkan madlulnya.
قال سيدي الشيخ احمد زروق : والمعرفة
تحقق العارف بما يقتضيه جلال معروفه حتى يصير ذلك التحقق كأنه صفة له لا يتحول ولا
يتزحزح ولا تجري أحواله الا على مقتضاها
Derajat/maqom makrifat inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Attho Illah :
من عرف الحق شهده في كل شيئ
Kemudian, termasuk suatu keharusan/kelaziman dari makrifat ini adalah tingkah/haliyah yang disebut Fana' Juz'i, karena tidak mungkin seorang ‘arif yang menyaksikan Allah didalam setiap sesuatu kecuali ketika wujudnya mahluk di depannya hancur atau rusak (menurut pandangan mata batin / basirohnya) serta ia masih yakin akan wujudnya makhluk dan masih muamalah/bisa berhubungan dengannya. Inilah yang disebut الفناء الجزئيّ
الفناء الجزئيّ هو أن ترى من المكونات
أشباحها أن تغيب عنك ما قد يتوهم من فاعليتها
Akan tetapi ada sebagian orang yang ‘arif billah, yang bisa atau mampu pindah dari haliyah fana' juz'i ke fana' kulli, maka ia merasa hilang dari makhluk atau alam ini secara keseluruhan, dan tidak bisa lagi mu'amalah dengannya. Barang kali Ibnu 'Attoillah menghendaki makna fana' dengan fana' kulli ini, yang mana beliau memberikan devinisi orang yang fana' dengan ‘ibarot :
و من فني به غاب عن كل شيئ
Hanya saja haliyah fana' kulli ini sangatlah langka, karena orang yang sudah merasa hilang dengan ma'rifat billah dari setiap sesuatu, tidak bisa mu'amalah dengan manusia, ia tidak bisa bangkit untuk menuntun/membimbing manusia dan tidak bisa melakukan dakwah, tapi ia tetap dalam keadaan menyaksikan Allah dengan hatinya.
Akan tetapi, haliyah fana' kulli ini, kebanyakan hanyalah dirasakan oleh orang yang ‘arif disebagian haliyahnya saja. Kemudian ia akan kembali pada haliyah baqo' namun masih ma'rifat billah, sebagaimana ta'bir:
من عرف الحق شهده في كل شيئ
Dan inilah yang dimaksud dengan fana' juz'i, haliyah yang sering dijalani oleh sahabat - sahabat Nabi dan orang-orang shiddiqiin atau robbaniyyiin setelah mereka.
Seorang hamba yang sudah masuk pada fana' kulli ia dikatakan seorang yang majdzub (مجذوب) yang tidak bisa lagi mu'amalah dengan makhluk lainnya karena ia sedang terpana musyahadah kepada Allah, bahkan haliyahnya kadang berlawanan arus dengan syari'at, namun pada haliyah ini ia termasuk dalam keadaan 'udzur.
Bagi orang lain yang sedang menyaksikan/melihatnya diharapkan tidak langsung berprasangka buruk (سوء الظن) dan berbuat tidak sopan (سوء الأدب) kepadanya serta tidak segera menghinanya karena ia dalam keadaan udzur.
Beliau Ibnu 'Athoillah rahimahullah dalam hikmah diatas tidaklah membicarakan tentang fana' kulli yang pada sampai tingkah majdzub, namun beliau sedang membahas tentang fana juz'i yang mana hamba yang sudah sampai haliyah ini masih bisa menjalankan syari'at dan mu'amalah dengan lainnya, inilah makna yang tersirat dalam qoulnya : و من فني به غاب عن كل شيئ
Kemudian termasuk kelaziman dari ma'rifat adalah mahabbahnya sang 'arif kepada Allah ta'ala. Karena pokoknya iman tidak bisa istiqomah dan terwujud kecuali dengan mahabbah ini, cinta yang ditimbulkan dari ma'rifat tersebut.
Karena hamba yang 'arif tidak melihat alam ini kecuali ia hanya memandang sifat-sifatNya yang Maha Indah, agung dan ia mampu melihat sifat Ihsannya Allah.
Jika mahabbah ini terwujud dan bisa dilaksanakan, maka sang muhib tidak akan mendahulukan / mementingkan sesuatu kecuali hanya ridhonya orang yang dicintainya yang tidak lain hanyalah ridhonya Allah subhanahu wa ta'ala. Beliau rahimahullah berkata :
ومن أحبه لم يؤثر عليه شيئا Kesenangan-kesenangan nafsu dan tabi'at kemanusiaan menjadi lenyap dan hancur karena wujudnya Mahabbatullah ini.
Akan tetapi adanya tabi'at kemanusiaan, kekuatan hamba yang maha lemah dan terbatas, yang mana Allah menggambarkan dalam firmanNya :
وخلق االإنسان ضعيفا (النساء : ٢٨)
Artinya : "Dan manusia dijadikan bersifat lemah" (al nisa' : 28), dan juga firmanNya yang berbunyi :
لقد خلقنا الإنسان فى كبد ( البلد : ٤)
Artinya : "Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia berada dalam susah payah" (al balad : 4).
apakah dengan keadaaan seorang hamba yang lemah tersebut mampu mewujudkan mahabbah ini ?
Oleh karena itu, seorang yang muhib lillah harus mampu berusaha keras melawan hawa nafsunya walaupun memang diciptakan dalam keadaan yang dhoif. Atas dasar mahabbah seharusnya terus memperlihatkan hina dan lemahnya dirinya dihadapan Allah, dan ketidak mampuannya dalam merealisasikan cintanya serta ia harus selalu bersabar dalam merealisasikan istiqomah dalam jalan 'ubudiyyah.
Jadi, seorang yang 'arif dan muhib lillah, sebagaimana digambarkan oleh Ibnu 'Athoillah, tidak akan mendahulukan dan mementingkan sesuatu urusan kecuali hanya urusan Mahbubnya (Allah Subhanahu wa ta'ala). Wallahu a'lam
Kitab Taisirul Khollaq
بسم
الله الرحمن الرحيم
مقدمة
الحمد
لله الكريم الخلاق, والصلاة والسلامة على سيدنا محمد المبعوث لتتميم مكارم
الاخلاق, وعلى اله واصحابه ماجرى قلم التلخيص والبيان على صفحات الاوراق. اما بعد
: فهذه مختصر فى علم الاخلاق الدينية, وضعته لطلاب السنة الاولى الازهرية. وسميته
تيسير الخلاق فى علم الاخلاق, فقلت وبالله العصمة, وبيده اتمام النعمة. علم
الاخلاق : عبارة عن قواعد يعرف بها صلاح القلب وسائر الحواس. وموضوعه : الاخلاق من
حيث التحلى بمحاسنها والتخلى عن عن قبائحها وثمرته صلاح القلب وسائر الجواس فى
الدنيا, والفوز بأعلى المراتب فى الآخرة.
التقوى
هى
امتثال اوامر الله عز وجل, واجتناب نواهيه سرا وعلانية, فلا تتم الا بالتخل عن كل
رذيلة, والتحلى بكل فضيلة, فهى الطريق الذى من سلكه اهتدى والعروة الوثقى التى من
استمسك بها نجا واسبابها كثيرة منها : ان يلاحظ الانسان انه عبد ذليل, وان ربه قوى
عزيز. ولا ينبغى للذليل ان يعصى العزيز لان ناصيته بيده ومنها : ان يتذكر احسان
الله اليه فى جميع الاحوال ومن كان كذالك لا ينبغى ان تجحد نعمته, ومنها ان
يتذكرالموت لان من علم انه سيموت وانه ليس امامه الا الجنة او النار بعثه ذلك الى
الاعمال الصالحة حسب الاستطاعة. ومن الاعمال الصالحة مساعدة المسلمين, والنظر
اليهم بعين العطف والرحمة, خصوصا اذا سبق منهم احسان اليه. واما ثمرتها فسعادة
الدارين. اما فى الدنيافارتفاع القدر, وجمال الصيت والذكر, واكتساب المودة من الناس,
لان صاحب التقوى يعظمه الاصاغر ويهابه الاكابر, ويراه كل عاقل انه الاولى بالبر
والاحسان واما فى الاخرة : فالنجاة من النار والفوز بدخول الجنة وكفى المتقين شرفا
ان الله يقول فيهم (ان الله مع الذين اتقوا والذين هم محسنون).
تقوى
ياايكو مانوت كابيه فرنتاه الله لن عدوهى كابيه لاراعان, انا اغ وقت سفى اتوا
رامى. سباب2 كع كامفاعاكى علاكونى تقوى دى انترانى : عرتى يين اوائى اينا فعيرانى
كع قوة اكوع. عيليع2 اوليهى اكاوى باكوس الله انا سكابيهى تعكاه. ايليع2 ماتى لن
ساء ويسى ماتى ايكو اورا انا مانيه كجابا سواركا اتوا نراكا. لن نعالى كانطى راصا
ولاص, لويه2 ناليكا ووع مسلم ماهو ويس اكاوى باكوس. انفون بواهى تقوى ايكو اوليه
كابجان دنيا لن اخرة. نيع دنيانى دوور فاعكاتى, سجاراهى لن سبوتانى, عاصيلاكى
كاتريسنان. ووع2 جيليئى عكوعاكى, ووع2 كدى فادا ودى لن ووع2 برعقل عاكونى
كاوتمانى.
انا اع
اخراتى : سلامة سكع نراكا. الله داووه (ستوهونى الله سرتانى ووع2 كع فادا تقوى لن
ووع2 كع كاوى باكوس.
آداب
المعلم
المعلم
دليل التلميذ الى مايكون به كماله من العلوم والمعارف فيشترط ان يكون من ذوى
الاوصاف المحمودة, لان روح التلميذ ضعيفة بالنسبة الى روحه, فاذا اتصف المعلم
باوصاف الكمال كان التلميذ الموفق كذالك. فاذان لابدان يكون تقيا متواضعا لين
الجانب لتميل القلوب فتستفيد منه. وان يكون حليما وقورا لتقتدى به, وان يكون ذا
رحمة للتلاميذ, شفيقا عليهم, لتعظم رغبتهم فيما يلقيه اليهم, وان ينصحهم, ويؤدبهم
فيحسن تأديبهم, وان لايكلفهم من المعانى ماتقصر عنه ادركاتهم.
آداب
المتعلم
للمتعلم
اداب فى نفسه, واداب مع استاذه, واداب مع اخوانه. اما ادابه فى نفسه فكثيرة : منها
ترك العجب ومنها التواضع والصدق ليكون محبوبا موثوقابه. ومنها : ان يكون وقورا فى
مشيته, غاضا طرفه عن النظر الى المحرمات, وان يكون امينا على اوتيه من العلم
فلايجيب بغير مايعرف. واما ادابه مع استاذه فمنها : ان يعتقد ان فضله اكبر من فضل
والديه عليه لانه يربى روحه, ومنها الخضوع امامه, والجلوس فى درسه بالادب وحسن
الاصغاء الى مايقوله, ومنها ترك المزاح, وان لايمدح غيره من العلماء بحضرته مخافة
ان يفهم استاذه انه يذمه, ومنها ان لايصده الحياء عنى السؤال عما لايعرف. واما
ادابه مع اخوانه فمنها احترامهم وترك احتقار واحد منهم, وترك الاستعلاء عليهم,
ومنها : ان لايسخرببطئ الفهم منهم وان لايفرح اذا وبخ الاستاذ بعض القاصرين. فان
ذلك اسباب البغض والعداوة.
حقوق
الوالدين
الوالدان
هما السبب فى وجود الانسان, لولاعناؤهما مااستراح ولولا سقاؤهما ماتنعما. اما امه
فحملته كرها واما ابوه فقد بذل وسعه فيما يعود اليه بالنفع من تربية جسمه وروحه.
فيجب عليه ان يذكر نعمتهما ليشكرهماعليها, وان يمتثل امرهما الا اذا كان بمعصية,
وان يجلس معهما خاشعا غاضا طرفه عن زلتهما, وان لايؤذيهما, ولوبقول اف, وان لايطيل
جدالهما, وان لايمشى امامهما الا فى خذمتهما, وان يدعولهما بالرحمة والمغفرة, وان
يأمرهما بالمعروف وينهاهما عن المنكر ليكون سببا فى نجاتهما من النار كما كانا
سببا فى وجوده. قال الله تعلى : وقضى ربك ان لاتعبد الا اياه وبالوالدين احسانا
اما يبلغن عندك الكبر احد هما او كلاهما فلا تقل لهما اف ولاتنهرهما وقل لهما قولا
كريما, واخفض لهما جناحا الذل من الرحمة وقل رب ارحمهما كما ربيانى صغيرا. هذا
وليخص الام بزيادة البر لقول النبى صلى الله عليه وسلم : بر الوالدة على الوالد
ضعفان.
حقوق
القرابة
اقارب
الانسان هم ذورحمه. وقد امرالله بوصل الرحم ونهى عن قطعها. قال النبى صلى الله
عليه وسلم : يقول الله : اناالرحمن وهذه الرحم اشتققت لها اسما من اسمى فمن وصلها
وصلته ومن قطعها قطعته. فلهذا ينبغى للانسان مراعاة حقوقهما والقيام بها فلايؤذى
احدا منهم بفعل اوقول, وانيبواضع لهم, وانيتحمل اذاهم, ولوتطاولوا عليه وان يسأل
عمن يغيب منهم, وان يساعدهم فى الحصول على مآربهم اذا قدر. وان يمنع عنهم الضرر
متى امكن وان كانوا غير محتاجين الى شيئ من ذلك فعليه ان يبعهدهم بالزيادة.
حقوق
الجيران
الجار
من جاورت داره دارك الى اربعين دارا من كل جانب وله عليك حقوق, منها ان تبدأ
بالسلام, وان تصنع معه المعروف, وان تكافئه على معروفه اذا بدأك به, وان تؤدي ماله
عليك من الحقوق المالية, وان تعوده اذا مرض, وتهنئه اذا فرح, وتعزيه اذا اصيب. وان
لا تتعمد النظر الى نسائه ولو كن خدما له, وان تستر عورته, وان ترد عنه المكروه
بقدرما تستطيع, وان تقابله بالبشاشة والإحترام. قال النبى صلى الله عليه وسلم من
كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره. وعن عائشة رضى الله عنها عن النبى صلى
الله عليه وسلم قال: مازال جبريل يوصينى بالجار حتى ظننت انه سيورثه.
اداب
المعاشرة
ادابها
كثيرة منها : طلاقة الوجه ولين الجانب, والاصغاء الى حديث العشير, والوقار بلا
كبر, والسكوت عند الهزل, والصفح عند الزلل, والمواساة, وترك الافتخار بالجاه والغانى,
فان ذلك موجب للسقوط من اعين الناس, ومنها : كتمان السر, لانه لاقيمة لمن لا يكتم
الاسرار. قال الشاعر : اذا المرء لم يحفظ ثلاثا فبعه ولو بكف من رماد.
وفاء
للصديق وبذل مال # وكتمان السرائر فى الفوأد.
الالفة
هى
الاستئناس بالناس والفرح بلقائهم, واسبابها خمسة اولها الدين, لان كمال الايمان
يوجب العطف وثانيها النسب لان الانسان يحنو على اقاربه, ويبودد اليهم, ويكف الاذى
عنهم كما قال النبى صلى الله عليه وسلم : ان الرحم اذا عماست تعاطفت. وثالثها
المصاهرة, لان الانسان اذا احب عرسه احب كل من ينتمى اليها. قال خالد بن يزيد بن
معاوية : كان ابغض خلق الله الا آل الزبيرحتى تزوجت منها فصاروا احب خلق الله الى.
ورابعها البر وهو الاحسان الى الناس. قال الشاعر :
احسن
الى الناس تستعبد قلوبهما # فطالما استعبد الانسان احسان
وخامسها
الاخاء, كما اخى رسول الله صلى الله عليه وسلم بين المهاجرين والانصار, لتقوى
رابطتهم وتزيد الفتهم. واما فضل الالفة فالافادة والاستفادة, والتعاون على البر
والتقوى, وبذلك تستقيم الاحوال وتعتدل الامور. قال الله تعالى : واعتصموا بحبل لله
جميعا ولا تفرقوا.
الاخاء
هو
رابطة بين الشخصين تحقق بينهما المودة, فيطلب من كل منهما لآخر المواساة بالمال,
والاعانة بالنفس, والعفو عن الزلات, والاخلاص, والوفاء, والتحفيف عليه وترك التكلف
له, والسكوت عما يؤذى, والتكلم بما يرضاه الشرع, ويقبله الدين, فيأمره بالمعروف
وينهاه عن المنكر, ويدعوله بحسن الحال, ودوام الاستقامة, واما فضل الاخاء فكبير,
لانه يبعث على التخلق بمحاسن الاخلاق ويؤلف بين القلوب, وبه يكون اصلاح ذات الين
الذى جعله الله من ثمرات التقوى فقال : فاتقوا الله واصلحوا ذات بينكم.
آداب
المجالس
على
من يأتى المجالس ان يبدأ الحاضرين بالسلام, وان يجلس حيث انتهى به المجلس, وان
يعرض عن اقوال العامة الخالية عن الفائدة, وان يغير المنكر بيده, فان لم يستطع
فبلسانه, فان لم يستطع فبقلبه, وليقم من المجلس ان لم تدع الى المقام بضرورة, وان
لا يحتقر احدا من جلسائه ربما كان خيرا منه عند الله, وان لايعظم احدا لماله لان
ذلك يضعف الدين ويسقط المروءة. وان كان فى الطريق فليغض طرفه, وليغث الملهوف,
وليعن الضعيف, وليرشد الضال, وليرد بالسلام على من بدأه به, وليعط السائل, ولنكن
فى جلسته وقورا, فان ذلك ادعى الى تعظيمه, والاعتناء لشأنه.
آداب
الكل
اما
الاداب التى قبله فهى غسل اليدين, ووضع الطعام على سفرة بالارض, والجلوس, ونية
التقوى على العبادة, وترك الاكل مع الشبع, والرضا بالحاضرمن الطعام وترك ذمه, وطلب
من يأكل معه, واما التى معه فهى البدء بالتسمية جهرا ليذكر غيره, والاكل باليمنى,
وتصغير اللقمة, واجادة مضغها, وترك مديده الى غيرها قبل الفراغ منها, والاكل ممايليه
الا فى الفاكهة, وان لاينفخ فى الطعام, وان لايقطعه بالسكين, وان لايمسح يده به
وان لايجمع بين التمر والنوى فى اناء, وان لايشرب الماء الا عند الاحتياج اليه,
واما التى بعده فهى القيام قبل الشبع وغسل اليدين بعد لعقهما والتقاط الفتات, وحمد
الله.
آداب
الشرب
ادابه
كثيرة منها : تناول الاناء باليمن والنظر فيه قبل الشرب, والتسمية, والجلوس, ومص
الماء لان عبه يضر الكبد. قال النبى صلى الله عليه وسلم : مصوا الماء مصا ولاتعبوه
عبا. ومنها الشرب فى ثلاثة انفاس يسمى فى كل واحد يحمد فى اخره, ولايتنفس فى
الاناء, ولا يتجشأ فيه. واذا شرب واراد ان يسقى غيره فليقدم من على يمينه على من
بيساره ولو كان افضل, لان النبى صلى الله عليه وسلم سقى اعرابيا كان على يمينه قبل
ابى بكر وعمر رضى الله عنهما, وقال : الايمن فالايمن.
آداب
النوم
هى
ان يتطهر من الحدث, وان ينام عىل جنبه الايمن مستقبل القبلة, وان يقصد بنومه راحة
بدنه ليقوى على العبادة, وان يذكر الله تعالى عند نومه وبعد يقظته. وقد كان النبى
صلى الله عليه وسلم اذا اخذ مضجعه من الليل وضع يده تحت خده ثم يقول : اللهم باسمك
احيا واموت. واذا استيقظ قال : الحمد لله الذى احيانا بعد ما اماتنا واليه النشور.
آداب
المسجد
المساجد
بيوت الله, ومن علق قلبه بها اظله الله فى ظله يوم القيامة كما فى الحديث, فيطلب
المشى اليها باشتياق مع السكينة والوقار, ودخولها باليمنى مع تنظيف نعليه خارجها,
وقوله عند الدخول : اللهم افتح لى ابواب رحمتك واداء تحية المسجد, والتسليم ولو
خلا المسجد من الناس لانه لايخلو من الجن والملائكة. والجلوس بنية التقرب ومراقبة
الله تعالى. والاكثار من ذكره, وحبس النفس عن الشهوات, واجتناب الخصومة, وان
لاينتقل من مكانه الا لحاجة, وان لاينشد ضالة, وان لايرفع صوته بحضرة المصلين, وان
لايمر بين ايديهم, وان لايشتغل بصنعة, وان لايخوض فى كلام اهل الدنيا ليسلم من
الوعيد الوارد فى قول النبى صلى الله عليه وسلم يأتى فى آخر الزمان ناس من امتى
يأتون المساجد يقعدون فيها حلقا حلقا ذكرهم الدنيا وحب الدنيا لاتجالسوهم فليس لله
بهم حاجة. فاذا اراد الخروج طلب منه البدء باليسرى وان يضعها على ظهر نعليه, ثم
يلبس اليمنى اولا وليقل عند خروجه : اللهم انى اسألك من فضلك, قال النبى صلى الله
عليه وسلم : قال الله تعالى : ان بيوتى فى ارضى المساجد وان زوارى فيها عمارها,
فطوبى لعبد تطهر فى بيته ثم زارنى فى بيتى, فحق على المزور ان يكرم زائره. وعن انس
رضى الله عنه : من اسرج فى مسجد سراجا لم تزل الملائكة وحملة العرش تستغفر له
مادام فى ذلك المسجد ضوءه.
النظافة
اعلم
ان نظافة البدن, والثوب والمكان مطلوبة شرعا فينبغى للانسان تنظف بدنه متعهدا شعر
رأسه بالتسريح والدهن, واذنيه بالغسل والمسح, وفاه بالمضمضة والسواك, وانفه
بالاستنشاق والاستنثار واظافره بغسل ماتحته. وقد كان النبى صلى الله عليه وسلم
يدهن رأسه ويسرح شعره. وينبغى له ايضا تنظيف ثوبه بالماء وحده او مع الصابون ان
احتاج الى ذلك, وكذلك ينبغى له تنظيف مكانه. وذلك لما فى النظافة من حفظ الصحة
وذهاب الهموم, واقبال السرور, ورضا العشير, واظهار نعمة الله تعالى. وقال عز وجل :
واما بنعمتك ربك فحدث.
الصدق
والكذب
الصدق
هو الاخبار بما يطابق الواقع. والكذب هو الاخبار بما لايطابقه. واسباب الصدق العقل
والدين والمروءة, لان العقل يدرك منفعة الصدق ومضرة الكذب فلا يرضى صاحبه المضرة
فيلتزم الصدق, ولان الدين يأمر بالصدق وينهى عن ضده, وكذلك صاحب المروءة لايرضى
لنفسه الا الصدق, لانه يطلب التحلى بجميل الخصال, ولا جمال فى الكذب. وسبب الكذب
ارادة جلب النفع وارادة دفع الضرر, لان الانسان قد يرى فى الكذب السلامة العاجلة
فيأتيه, ويرى فى الصدق ضدها فلايأتيه. وضرر الكذب يعود الى صاحبه فيحتقر, وتضيع
الثقة به ويسترذل فى الدنيا ويعاقب فى الاخرة, ويعود الى غير صاحبه, لان الكذب يعد
غيره خيرا ثم يخلفه, فتنكسر نفسه لخيبة رجائه, ولانه يستسهل الغيبة والنميمة فيبعث
الناس بسبب ذلك على التباغض والتخاصم وكفى الكذب مذمة قول الله عز وجل : انما
يفترى الكذب الذين لايؤمنون بآيات الله. وقوله صلى الله عليه وسلم اذا كذب العبد
كذبة تباعد عنه الملك ميلا من نتن ماجاءبه. وكفى الصدق ثناء قوله تعالى : يآيها
الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين. وقول النبى صلى الله عليه وسلم :
تحروا الصدق وان رايتم ان فيه الهلكة فان فيه النجاة.
الامانة
هى
القيام بحقوق الله تعالى وحقوق عباده, فبها يكمل الدين, وتصان الاعراض, وتحفظ
الاموال, لان القيام بحقوق الله عبارة عن فعل المعمورات, واجتناب المنهيات والقيام
بحقوق عباده عبارة وعن رد الودائع, وترك التطفيف فى كيل, او وزن, او درع, وترك
الانشاء الاسرار والعيوب, وان يختار لنفسه ماهو اصلح لها فى الدين والدنيا. قال
الله تعالى : ان الله يأمركم ان تؤدوا الامانات الى اهلها. وقال النبى صلى الله
عليه وسلم : لا ايمان لمن لاامانة له, ولادين لمن لاعهدله. وضد الامانة الخيانة,
وهى مخالفة الحق بنقض العهد فى السر. ومضارها كثيرة منها : ان يوصف صاحبها بالغدر
ونقص الدين, وانحطاط الهمة, ودناءة النفس, ومنها : اعراض الناس عنه لاساته اليهم
وقطع يده لم يراع ماكلفه به. قال الله تعالى : يآايها الذين آمنوا لاتخونوا الله
والرسول وتخونوا اماناتكم وانتم تعلمون.
العفة
هى
صفة للنفس تكفها عن المحرمات ورذائل الشهوات, وهى من اشرف الخصال واسماها, وعليها
يتفرع كثير من الفضائل, كالصبر, والقناعة, والسخاء, والمسالمة, والورع, والوقار,
والرحمة, والحياء, فهى كنز من لا مال معه وتاج من لاشرف له. وسببها انقطاع الطمع
وترك الحرص على كسب المال, والقناعة بما تدعوا اليه الضرورة قال الله تعالى :
يحسبهم الجاهل اغنياء من التعفف. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طوبى لمن
هدى للاسلام وكان عيشه كفافا وقنع به.
المروءة
هى
صفة تدعوا الى التمسك بمكارم الاخلاق, ومحاسن العادات, وسببها علو الهمة, وشرف
النفس فان من كان على الهمة شريف النفس كانت غايته احراز المعالى, وادراك الفضائل,
وابتناء المكارم, وبذل الندى, وكف الاذى, وهى عنوان العفة, والنزاهة, والصيانة,
ولذى لايرى صاحب المروءة الا تقيا بعيدا عن المطامع راضيا بما قسمه الله له غير
ناظر الى ما فى ايدى الناس. ومما يدل على مدح المروءة قول النبى صلى الله عليه
وسلم : ان الله يحب معالى الامور واشرفها.
الحلم
هو
صفة تحمل صاحبها على ترك الانتقام ممن اغضبه مع قدرته على ذلك. وسببها : رحمة
الجهال, او الترافع عن المشاتمة او الاستحياء من جزاء الجواب, او التفضل على
المسئ, او رعاية نعمة سابقة, او المكروتوقع الفرص. وذلك لان الترفع عن المشاتمة من
شرف النفس وعلو الهمة, والاستحياء من صيانة النفس وكمال المروءة, ورعاية النعمة من
الوفاء والمكر وتوقع الفرص من الدهاء, لان من ظهر غضبه قل كيده. قال النبى صلى
الله عليه وسلم فى ثناء اهل الحلم : ان الله يحب الحى الحليم ويبغض الفاحش البذئ.
السخاء
وهو
بذل المال من غير مسألة واستحقاق, وهو فضيلة مستحسنة وخصلة محمودة, لما فيه من
ارتباط القلوب واجتماعها, فيعظم الانتفاع ويعم الارتفاق, فقد كان صلى الله عليه
وسلم يعطى عطاء من لايخشى الفقر. وفى الحديث قال جبريل قال الله تعالى : هذا دين
ارتضيته لنفسى لايصلحه الا السخاء وحسن الخلق فاكرموه بهما مااستطعتم.
التواضع
هو
خفض الجناح والانة الجانب من غير خسة
ولامذلة والمقصود منه اعطاء كل ذى حق حقه, فلا يرفع وضيعا عن درجته ولاينزل شريفا
عن مقامه, وهو من اسباب الرفعة ودواعى الشرف. قال النبى صلى الله عليه وسلم من
تواضع لله رفعه.
عزة
النفس
هى
صفة بها يجعل الانسان نفسه فى منازل الرفعة والاحترام. وسببها : معرفة الانسان قدر
نفسه. وثمرتها التحمل, والصبر على مكاره الدهر, وترك اظهار الاحتياج وتعظيم الناس
له واحسان الله اليه. قال الله تعالى : ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين. وقال النبى
صلى الله عليه وسلم : رحم الله امرأ عرف قدر نفسه.
الحقد
هو
اضمار السوء والحرص على الايذاء, وسببه : الغضب ويتبعه ثمان خصال محرمة وهى : حسد المحقود
عليه والشماتة بمصيبته, وهجره وان تودده, والاعراض عنه استصغارا له, والتكلم فيه
بالفحش كاغتيابه وافشاء سره ومحاكاته استهزاء به, وايذاءه بما يؤلم بدنه, ومنعه
حقه كان لايقضيه دينه. ومما يدل على ذم الحقد قول النبى صلى الله عليه وسلم :
المؤمن ليس بحقود.
الحسد
هو
تمنى زوال النعمة عن الغير. واما تمنى مثل ما للغيرفيسمى غبطة وليست بمذمومة بل هى
مطلوبة لانها سبب لاكتساب الخصال الحميدة. ولذا قال صلى الله عليه وسلم : المؤمن
يغبط والمنافق يحسد. واسباب الحسد ثلاثة : الاول بغض المحسود لفضيلة ظهرت منه او
نعمة ساقها الله اليه. الثانى توفق المحسود فى الفضل بحيث يعجز الحاسد عن الوصول
اليه. الثالث شح الحاسد بالفضائل فيحسد كل من ناله خير. والذى يذهب الحسد من
القلوب التمسك بالدين, وملاحظة ما فى الحسد من الضرر والرضا بالقضاء والقدر. ومما
ورد فى ذم الحسد قول النبى صلى الله عليه وسلم : الحسد يأكل الحسنات كما تأكل
النار الحطب.
الغيبة
هى
ذكر اخيك بما يكره ولو فى وجهه كقولك : فلان اعرج, او فاسق, او فقير, اوقصيرالثياب
تريد بذلك تنقيصه, واسبابها ثمانية : الحسد, وشفاء الغيظ, وارادة الترفع,
والمبادرة الى تعطيل المؤذى عن الوصول الى مراده والقصد الى تبرئة النفس, ومجاملة
الرفقاء, والهزل والاستهزاء. وليس من الاستهزاء لوم المقصر على تقصيره وارشاده الى
مافيه مصلحته لان الله عز وجل لم ينه عن النصيحة ولكنه نهى عن الغيبة وبالغ فى
الانكار عليها فقال : ولا يغتب بعضكم بعضا ايحب احدكم ان يأكل لحم اخيه ميتا
فكرهتموه.
النميمة
هى
نقل اقوال الناس او اعمالهم, او احوالهم الى الغير على وجه الافساد. والباعث عليها
اما ارادة السوء بالمنقول عنه, او اظهار الحب للمنقول اليه, او التفريج فى الحديث,
او الخوض فى الفضول. والذى يكف الانسان عن النميمة علمه بانها تدعوا الى التقاطع.
وايقادنارالعداوة, واستحقاق العقابز قال النبى صلى لله عليه وسلم : ان احبكم الى
الله الذين يألفون ويؤلفون. وان ابغضكم الى الله المشاءون بالنميمة المفرقون بين
الاخوان. وقال صلى الله عليه وسلم : لايدخلون الجنة نمام.
الكبر
هو
استعظام النفس ورؤية قدرها فوق قدر الغير. ومفاسده كثيرة : منها : انه يؤذى الغير,
ويقطع الجبال المودة, ويفرق القلوب, ويحمل الناس على بغض صاحبه واتفاقهم على اذاه.
ومنها ان صاحبه لاينقاد الى الحق ولايكظم الغيظ ولايتلطف فى النصح. وكفى الكبر
مذمة قول النبى صلى الله عليه وسلم : لايدخل الجنة من كان فى قلبه مثقال ذرة من
الكبر. ومن عرف انه مخلوق من نطفة وانه صائر الى جيفة هان عليه ان يترك الكبر الذى
سببه العجب.
الغرور
هو
سكون النفس الى ما يوافق الهوى ويميل اليه الطبع بسبب سبهة شيطانية, وهو نوعان :
الاول غرور اهل الكفر الذين اشتروا الحياة الدنيا بالاخرة, فمنهم من سكن الى
الدنيا وزخرفها وانكر البعث ومنهم من اغتر سيادته فى الدنيا فظن انه على فرض
المعاد والرحمة يكون اولى بهما. الثانى غرور العضاة من المؤمنين فمنهم من لم يعمل
اغترارا بسعة عفو الله تعالى, او عتمادا على طاعة الاباء, او على كثرة العلم, ولم
يدر الاول ان الرغبة فى الشيئ من غير اخذ فى اسبابه طمع مذموم, ولم يذكرالثانى
قوله تعالى : واخسو يوما لايجزى والد عن ولده ولا مولود هو جاز عن والده شيئا. ولم
يتنبه الثالث الى ان العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر, ومنهم من اغتر بكثرة عبادته
فظن انه احق بالعفو من غيره, ولم يدر ان هذا مذهب لاخلاصه. مفوت لثواب اعماله.
ومنهم من غرته كثرة المال, فظن انه بذلك يفوق غيره فمال الى زخرف الدنيا ونسى فضل
الله عليه ومن معايب الغرور انه يولد الكبر الذى شبق انه يمنع صاحبه دخول الجنة.
الظلم
هو
الخروج عن حد الاعتدال بالتقصير او تجاوز الحد فيشمل جميع المعاصى, ويعم انواع
الرذائل, وصاحبه اما ظالم لنفسه او ظالم لغيره, فظلم النفس عبارة عن التقصير فى
طاعة الله تعالى او ترك الايمان. وظلم الغير عبارة عن التفريط فى حقه كايذاء
الجار, واهانة الضيف, وافتراء الكذب, والغيبة, والنميمة. قال النبى صلى الله عليه
وسلم : الظلم ظلمات يوم القيامة. وفى الحديث القدسى : ياعبادى انى حرمت الظلم على
نفسى وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا.
العدل
هو
التوسط فى الامور والسير فيها على وفق الشريعة, وهو نوعان : الاول عدل الانسان فى
نفسه وهو ان يسلك الانسان سبيل الاستقامة, الثانى عدله مع غيره. وهو ثلاثة اقسام :
عدل السلطان فى رعيته باتباع الميسورواعطاء كل ذى حق حقه. عدل الرعية مع السلطان
والتلميذ مع استاذه والولد مع والديه باخلاص الطاعة, عدل الانسان مع امثاله بترك
التكبر عليهم, وكف الاذى عنهم. قال الله تعالى : ان الله يأمر بالعدل والاحسان.
اما العدل فقد عرفته واما الاحسان فهو كما فى الحديث : ان تعبد الله كانك تراهز
وهذا كمال الايمان ونهاية الاذعان.
Kitab Sulam Safinah
متن سفينة النجاه \ سلم سفينة
تألف
الفاضل الشيخ سالم بن الشيخ سمير الحضرمى
على مذهب الامام الشافعى
رحمه الله تعالى
آمين
للمدرسة الاسلامية السلفية
رياضة العقول
بالمعهد الإسلامى السلفى دار الصفا
عادى ماجا كديرى
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على
امور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد خاتم النبيين واله وصحبه اجمعين ولا
حول ولا قوة الا باالله العليى العظيم (فصل) اركان الاسلام خمسة شهادة ان لا اله
الاالله وان محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة وصوم رمضان وحج البيت من
استطاع اليه سبيلا (فصل) اركان الايمان ستة ان تؤمن
بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الاخر والقدر خيره وشره من الله تعالى (فصل)
ومعنى لا اله الاالله لا معبود بحق فى الوجود الا الله (فصل) علامات البلوغ ثلاث تمام خمس عشرة سنة فى الذكر
والانثى والاحتلام فى الذكر والانثى لتسع سنين والحيض فى الانثى لتسع سنين (فصل)
شروط اجزاء الحجر ثمانية ان يكون بثلاثة احجار وان ينقى المحل وان لايجف النجس
ولاينتقل ولايطرأ عليه آخر ولايجاوز صفحته وحشفته ويصيبه ماء وان تكون
الاحجارطاهرة (فصل) فروض الوضوء ستة الاول النية الثانى غسل الوجه الثالث غسل
اليدين مع المرفقين الرابع مسح شيئ من الرأس الخامس غسل الرجلين مع الكعبين السادس
الترتيب (فصل) النية قصد الشيئ مقترنا بفعله ومحلها القلب والتلفظ بها سنة ووقتها
عند غسل اول جزء من الوجه والترتيب ان لايقدم عضوا على عضو (فصل) الماء قليل وكثير
القليل مادون القلتين والكثير قلتان فاكثر القليل يتنجس بوقوع النجاسة فيه وان لم
يتغير والماء الكثير لايتنجس الا اذا تغير طعمه او لونه اوريحه (فصل) موجبات الغسل
ستة ايلاج الحشفة فى الفرج وخروج المنى والحيض والنفاس والولادة والموت (فصل) فروض
الغسل اثنان النية وتعميم البدن بالماء (فصل) شروط الوضوء عشرة الاسلام والتمييز
والنقاء عن الحيض والنفاس وعما يمنع وصول الماء الى البشرة وان لايكون على العضو
مايغير الماء والعلم بفرضيته وان لايعتقد فرضا من فروضه سنة والماء الطهور ودخول
الوقت والموالاة لدائم الحدث (فصل) نواقض الوضوء اربعة اشياء الاول الخارج من احد
السبيلين من قبل او دبر ريح او غيره الا المنى الثانى زوال العقل بنوم او غيره الا
نوم قاعد ممكن مقعده من الارض الثالث التقاء بشرتى رجل وامرأة كبيرين اجنبيين من
غير حائل الرابع مس قبل الادمى او حلقة دبره ببطن الراحة او بطون الاصابع (فصل) من
انتقض وضوؤه حرم عليه اربعة اشياء الصلاة والطواف ومس المصحف وحمله ويحرم على
الجنب ستة اشياء الصلاة والطواف ومس المصحف وحمله واللبث فى المسجد وقراءة القرآن
ويحرم بالحيض عشرة اشياء الصلاة والطواف ومس المصحف وحمله واللبث فى المسجد وقراءة
القرآن والصوم والطلاق والمرور فى المسجد ان خافت تلويثه والاستمتاع بما بين السرة
والركبة (فصل) اسباب التيمم ثلاثة فقد الماء والمرض والاحتياج اليه لعطش حيوان
محترم غير المحترم ستة تارك الصلاة والزانى المحصن والمرتد والكافر الحربى والكلب
العقور والخنزير (فصل) شروط التيمم عشرة ان يكون بتراب وان يكون التراب طاهرا وان
لا يكون مستعملا وان لا يخالطه دقيق ونحوه وان يقصده وان يمسح وجهه ويديه بضربتين
وان يزيل النجاسة اولا وان يجتهد فى القبلة وان يكون التيمم لكل فرض (فصل) فروض
التيمم خمسة الاول نقل التراب الثانى النية الثالث مسح الوجه الرابع مسح اليدين
الى المرفقين الخامس الترتيب بين المسحتين (فصل) مبطلات التيمم ثلاثة ماابطل
الوضوء والردة وتوهم الماء ان تثمم لفقده (فصل) الذى يطهر من النجاسات ثلاث الخمر
اذا تخللت بنفسها وجلد الميتة اذا دبغ وماصار حيوانا (فصل) النجاسات ثلاث مغلظة
ومخففة ومتوسطة المغلظة نجاسة الكلب والخنزير وفرع احدهما والمخففة بول الصبى الذى
لم يطعم غير اللبن ولم يبلغ الحولين والمتوسطة سائر النجاسات (فصل) المغلظة تطهر
بسبع غسلات بعد ازالة عينها اجداهن بتراب والمخففة تطهر برش الماء عليها مع الغلبة
وازال عينها والمتوسطة تنقسم على قسمين عينية وحكمية والعينية التى لها لون وريح
وطعم فلابد من ازالة لونها وريحها وطعمها والحكمية التى لالون ولاريح ولاطعم يكفيك
جرئ الماء عليها (فصل) اقل الحيض يوم وليلة وغالبه ست اوسبع واكثره خمسة عشريوما
بليالها اقل الطهر بين الحيضتين خمسة عشر يوما وغالبه اربعة وعشرون يوما او ثلاثة
وعشرون يوما ولاحد لاكثره اقل النفاس مجة وغالبه اربعون يوما واكثره ستون يوما
(فصل) اعذار الصلاة اثنان النوم والنسيان (فصل) شروط الصلاة ثمانية طهارة الحدثين
والطهارة عن النجاسة فى الثوب والبدن والمكان وستر العورة واستقبال القبلة ودخول
الوقت والعلم بفرضيتها وان لايعتقد فرضا من فروضها سنة واجتناب المبطلات الاحداث
اثنان اصغر واكبر فالاصغر مااوجب الوضوء والاكبر مااوجب الغسل العورات اربع عورة
الرجل مطلقا والامة فى الصلاة مابين السرة والركبة وعورة الحرة فى الصلاة جميع بدنها
ماسوى الوجه والكفين وعورة الحرة والامة عند الاجانب جميع البدن وعند محارمهما
والنساء ما بين السرة والركبة (فصل) اركان الصلاة سبعة عشر الاول النية الثانى
تكبيرة الاحرام الثالث القيام على القادر فى الفرض الرابع قراءة الفاتحة الخامس
الركوع السادس الطمأنينة فيه السابع الاعتدال الثامن الطمأنينة فيه التاسع السجود
مرتين العاشر الطمأنينة فيه الحادى عشر الجلوس بين السجدتين الثانى عشر الطمأنينة
فيه الثالث عشر التشهد الاخير الرابع عشر القعود فيه الخامس عشر الصلاة على النبى
صلى الله عليه وسلم فيه السادس عشر السلام السابع عشر الترتيب (فصل) النية ثلاث
درجات ان كانت الصلاة فرضا وجب قصد الفعل والتعيين والفرضية وان كانت نافلة مؤقتة
كراتبة اوذات سبب وجب قصد الفعل والتعيين وان كانت نافلة مطلقة وجب قصد الفعل فقط
الفعل اصلى والتعيين ظهرا او عصرا والفرضية فرضا (فصل) شروط تكبيرة الاحرام ستة
عشر ان تقع حالة القيام فى الفرض وانتكون بالعربية وان تكون بلفظ الجلالة وبلفظ
اكبر والترتيب بين اللفظين وان لايمد همزة الجلالة وعدم مد باء اكبر وان لايشدد
الباء وان لايزيد واوا ساكنة اومتحركة بين الكليمتي التكبير وقفة طويلة ولاقصيرة
وان يسمع نفسه جميع حروفها ودخول الوقت فى المؤقت وايقعها حال الاستقبال وان لايخل
بحرف من حروفها وتأخيرتكبيرة الاحرام وعند الركوع وعند الاعتدال وعند القيام من
التشهد الاول (فصل) شروط السجود سبعة ان يسجد على سبعة اعضاء وان تكون جبهته
مكشوفة والتحامل رأسه وعدم الهوى لغيره وان لايسجد على شيئ يتحرك بحركته وارتفاع
اسافله على اعاليه والطمأنينة فيه (ختيمة) اعضاء السجود سبعة الجبهة وبطون الكفين
والركبتان وبطون اصابع الرجلين (فصل) تشديدات التشهد احدى عشرون خمس فى اكمله وستة
عشر فى اقله التحيات على التاء والياء المباركات الصلوات على الصاد الطيبات على
الطاء والياء لله على لام الجلالة السلام على السين عليك ايها النبى على الياء
والنون والياء ورحمة الله على لام الجلالة وبركاته السلام على السين علينا وعلى
عباد الله على لام الجلالة الصالحين على الصاد اشهد ان لااله على لام الف الا الله
على لام الف ولام الجلالة واشهد ان على النون محمدا رسول الله على ميم محمد وعلى
الراء وعلى لام الجلالة (فصل) تشديدات اقل الصلاة على النبى اربع اللهم على اللام
والميم صل على اللام على محمد على الميم (فصل) اقل السلام السلام عليكم تشديد
السلام على السين (فصل) اوقات الصلاة خمس اول وقت الظهر زوال الشمس وآخره مصير ظل
الشيء مثله غير ظل الاستواء واول وقت العصر اذا صارظل كل شيئ مثله وزاد قليلا
وآخره غروب الشمس واول وقت المغرب غروب الشمس واخره غروب الشفق الاحمر واول وقت العشاء
غروب الشفق الاحمر وآخره طلوع الفجر الصادق واول وقت الصبح طلوع الفجر الصادق
واخره طلوع الشمس الاشفاق ثلاثة احمر واصفر وابيض الاحمر مغرب والاصفر والابيض
عشاء ويندب تأخيرصلاة العشاء الى يغيب الشفق الاصفر والابيض (فصل) تحرم الصلاة
التى ليس لها سبب متقدم ولا مقارن فى خمسة اوقات عند طلوع الشمس حتى ترتفع قدررع
وعند الاستواء فى غير يوم الجمعة حتى تزول وعند الصفرار حتى تغرب وبعد صلاة الصبح
حتى تطلع الشمس وبعد صلاة العصر حتى تغرب (فصل) سكتات الصلاة ستة بين تكبيرة
الاحرام ودعاء الافتتاح وبين دعاء الافتتاح والتعوذ وبين الفاتحة والتعوذ وبين آخر
الفاتحة وآمين وبين آمين والسورة وبين السورة والركوع (فصل) الاركان التى تلزم
فيها الطمأنينة اربعة الركوع والاعتدال والسجود والجلوس بين السجدتين الطمأنينة هى
سكون بعد حركة بحيث يستقركل عضو محلة بقدر سبحان الله (فصل) اسباب سجود السهو
اربعة الاول ترك بعض من ابعاض الصلاة او بعض البعض الثانى فعل مايبطل عمده ولايبطل
سهوه اذا فعله ناسيا الثالث نقل ركن قولى الى غير محله الرابع ايقاع ركن فعلى مع
احتمال الزيادة (فصل) ابعاض الصلاة سبعة التشهد الاول وقعوده والصلاة على النبى
صلى الله عليه وسلم فيه والصلاة على الآل
فى التشهد الاخر والقنوت والصلاة والسلام على النبى صلى الله عليه وسلم واله وصحبه
فيه (فصل) تبطل الصلاة باربع عشرة خصلة باحدث وبوكوع النجاسة ان لم تلق خالا من
غير حمل وانكشاف العورة ان لم تستر حالا والنطق بحرفين اوبحرف مفهم عمدا وبالمفطرعمدا
والاكل الكثير ياسيا وثلاث حركات متواليات ولو سهوا والوثبة الفاحشة والضربة
المفرطة وزيادة ركن فعلى عمدا والتقدم على امامه بركنين فعليين والتخلف بهما بغير
عذر ونية قطع الصلاة وتعليق قطعها بشيئ والتردد فى قطعها (فصل) الذى يلزم فيه نية
الامامة اربع الجمعة والمعادة والمنذورة جماعة والمتقدمة فى المطر (فصل) شروط
القدوة احد عشر ان لايعلم بطلان صلاة امامه بحدث اوغيره وان لايعتقد وجوب
قصائهاعليه وان لايكون مأموما ولااميا وان لايتقدم عليه فى الموقف وان لايعلم
انتقالات امامه وان يجتمعا فى مسجد اوفى ثلاثمائة ذراع تقريبا وان ينوى القدوة او
الجماعة وان يتوافقا نظم صلاتهما وان لايخالفه فى سنة فاحشة المخالفة وان يتابعه
(فصل) صور القدوة تسع تصح فى خمس قدوة رجل برجل وقدوة امرأة برجل وقدوة خنثى برجل
وقدوة امرأة بخيثى وقدوة امرأة بامرأة وتبطل فى اربع قدوة رجل بامرأة وقدوة رجل
بخنثى وقدوة خنثى بامرأة وقدوة خنثى بخنثى (فصل) شروط جمع التقديم اربعة البداءة
بالاولى ونية الجمع فيها والموالاة بينهما ودوام العذر (فصل) شروط جمع التأخير
اثنان نية التأخير وقدبقى من وقت الاولى مايسعها ودوام العذر الى تمام الثانية
(فصل) شروط القصر سبعة ان يكون سفره مرحلتين وان يكون مباحا والعلم بجواز القصر
ونية القصر عند الاحرام وان تكون الصلاة رباعية ودوام السفر الى تمامهاوان لايقتدى
بمتم فى جزء من صلاته (فصل) شروط الجمعة ستة ان تكون كلها فى وقت الظهر وان تقام
فى خطة البلد وان تصلى جماعة وان تكونوا اربعين احرارا ذكورا بالغين مستوطنين وان
لايسبقها ولاتقارنها جمعة فى تلك البلد وان يتقدمها خطبتان (فصل) اركان الخطبتين
خمسة حمد الله فيهما والصلاة على النبى صلى الله عليه وسلم فيهما والوصية بالتقوى
فيهما وقراءة آية من القرآن فى احداهما والدعاء للمؤمنين والمؤمنات فى الاخيرة
(فصل) شروط الخطبتين عشرة الطهارة عن الحدثين الاصغر والاكبر والطهارة عن النجاسة
فى الثوب والبدن والمكان وستر العورة والقيام على القادر والجلوس بينهما فوق
طمأنينة الصلاة والموالاة بينهما وبين الصلاة وان تكون بالعربية وان يسمعهما
اربعين وان تكون كلها فى وقت الظهر (فصل) الذى يلزم للميت اربع خصال غسله وتكفينه
والصلاة عليه ودفنه (فصل) اقل الغسل تعميم بدنه بالماء واكمله ان يغسل سوأتيه وان
يزيل القذرمن انفه وان يوضئه وان يدلك بدنه بالسدر وان يصب الماء عليه ثلاثا (فصل)
اقل الكفن ثوب يعمه واكمله للرجل ثلاث لفائف وللمرأة قميص وخمار وازار ولفافتان
(فصل) اركان الصلاة الجنازة سبعة الاول النية والثانى اربع تكبيرات الثالث القيام
على القادر الرابع قراءة الفاتحة الخامس الصلاة على النبى صلى الله عليه وسلم بعد
الثانية السادس الدعاء للميت بعد الثالثة السابع السلام (فصل) اقل الدفن حفرة تكتم
رائحته وتحرسه من السباع واكمله قامة وبسطة ويوضع خده على التراب ويجب توجيهه الى
القبلة (فصل) ينبش الميت لاربع خصال للغسل اذا لم يتغير ولتوجيهه الى القبلة
وللمال اذا دفن معه وللمرأة اذا دفن جنينها معها وامكنت حياته (فصل) الاستعانات
اربع خصال مباحة وخلاف الاولى ومكروهة وواجبة فالمباحة هى تقريب الماء وخلاف
الاولى هى صب الماء على نحو المتوضئ والمكروهة هى لمن يغسل اعضاءه والواجبة هى
للمريض عند العجز (فصل) الاموال التى تلزم فيها الزكاة ستة انواع النعم والنقدان
والمعثرات واموال التجارة واجبها ربع عشرقيمة عروض التجارة والركاز والمعدن.
Manaqib Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani
‘Abdul Qadir Al-Jailani, siapakah beliau? Tahukah kita siapa
sebenarnya sosok yang selalu diagungkan oleh banyak orang dan bahkan
‘photonya’ digantungkan di dinding-dinding rumah, tempat usaha, kantor,
dan lain sebagainya? Pada kesempatan kali ini saya akan mengajak pembaca
sekalian menelusuri jejak kehidupan ulama besar tersebut melalui
rekaman-rekaman yang terdapat dalam kamus biografi ulama semacam Al-Bidayah wa An-Nihayah (XVI/419-420), Siyar A’lam An-Nubala’ (XX/439-451), Adz-Dzail ‘Ala Thabaqat Al-Hanabilah (II/187-212), Syadzarat Adz-Dzahab (VI/330-336), dan lain sebagainya.
Nama
lengkapnya ialah ‘Abdul Qadir bin Abu Shalih ‘Abdullah bin Janki Dusat
bin Abu ‘Abdillah bin ‘Abdullah Al-Jili Al-Baghdadi. Oleh para ulama
disebutkan bahwa Al-Jailani atau Al-Kailani adalah seorang ulama
panutan, penasehat ulung yang telah menghidupkan banyak orang-orang yang
telah mati hatinya, pakar fiqih menurut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal,
pemilik banyak karomah, dan gelar-gelar mulia lainnya yang panjang untuk
dituliskan di sini.
Kelahirannya pada tahun 470 atau 471 H,
terdapat perbedaan penanggalan di tengah sejarawan, di sebuah kota
bernama Jilan. Dalam Al-Ansab (III/414) As-Sam’ani mengatakan bahwa kota
Jilan juga disebut Kail dan Kilan. Sedangkan untuk menisbatkan ke
daerah tersebut dapat menggunakan Jili, Jilani, dan Kilani.
Kegemaran
Al-Jilani (atau menurut lisan Melayu: Al-Jailani) menuntut ilmu sudah
ia mulai sedari dini mungkin. Bahkan di waktu usianya yang masih
terbilang muda, ia sudah melawat ke Kota Baghdad untuk mengaji kepada
ulama-ulamanya, seperti Abu Ghalib bin Al-Baqillani, Ja’far As-Sarraj,
Abu Bakar bin Sausan, Ibnu Bayan, Abu Thalib bin Yusuf, Ibnu Khusyaisy,
Ubai An-Narsi, Abu Al-Khattab Al-Kalwadzani, dan Al-Qadhi Abu Sa’d
Al-Makharrimi. Ada yang mengatakan Al-Jailani juga mengaji kepada Ibnu
‘Aqil, dan Al-Qadhi Abul Husain.
Ibnu Al-‘Imad mengatakan, “Adalah
gurunya para ulama, Syaikh ‘Abdul Qadir, berperawakan kurus, dadanya
lebar, janggutnya lebar, kulitnya berwarna kecoklatan, alis matanya
berbentuk melengkung, bersuara lantang (keras), dan bersifat tenang yang
elok.
Ketika ia mulai tumbuh dewasa dan mengetahui betapa
wajibnya menuntut ilmu, ia mulai menyingsingkan lengan bajunya untuk
belajar dan bersegera memperoleh pokok dan cabangnya ilmu setelah
sebelumnya menyelesaikan Al-Quran hingga kuat.”
Ibnu Rajab
Al-Hanbali menulis, “‘Abdul Qadir Al-Jailani pandai dalam bidang fiqih
madzhab Imam Ahmad, khilaf yang terjadi di tengah ulama madzhab yang
empat, ushul fiqih, dan lain sebagainya. Ia mempelajari sastra dari Abu
Zakariya At-Tibrizi, bermurid kepada Syaikh Hammad Ad-Dabbas Az-Zahid,
dan mengajar di madrasah gurunya yang bernama Al-Makharrimi hingga
tutup usia dan dikebumikan di sana.”
As-Sam’ani mengatakan
sebagaimana yang dikutip oleh Adz-Dzahabi, “Abdul Qadir merupakan
penduduk Jilan, imam serta gurunya ulama-ulama madzhab Hanbali di
zamannya, pakar fiqih, shalih, religius, penderma (خَيِّرٌ), banyak
melantunkan dzikir, selalu berfikir, cepat melinangkan air mata. Ia
belajar fiqih dari Al-Mukharrimi dan bermurid kepada Syaikh Hammad
Ad-Dabbas. Ia dahulu tinggal di Bab Azaj, yaitu di sebuah madrasah yang
memang dibangunkan untuknya. Kami pernah mengunjunginya. Pada saat itu
ia keluar untuk memberikan pengajian kepada anak-anak muridnya. Mereka
semua mengkhatamkan Al-Quran. Kemudian beliau memberikan pelajaran yang
tidak bisa kumengerti sama sekali. Yang lebih aneh dari itu ialah
murid-muridnya tersebut kemudian mengulangi pelajaran yang beliau
sampaikan tadi. Mungkin mereka memahaminya melalui kata-kata beliau
(dihafal?).”
Ibnul Jauzi menceritakan sebagaimana yang dikutip
oleh Ibnu Rajab, “Dahulunya madrasah ini berukuran kecil. Kemudian
diserahkan kepada ‘Abdul Qadir. Beliaupun mengambil tugas sebagai
penyampai kajian nasehat (tazkiyatun nufus) yang dihadiri oleh
orang-orang. Dan nampaklah dari sosoknya sifat zuhud. Beliau juga
memiliki sifat yang tenang dan diam. Kemudian madrasah tersebut pun
akhirnya sesak oleh para hadirin… Banyak orang yang kemudian taubat
melalui beliau. Sehingga madrasah tersebut diperlebar dan banyak orang
awam bersikap fanatik kepadanya. Di madrasah tersebut beliau memberikan
nasihat pelajaran hingga wafat.”
Karomah Syaikh ‘Abdul Qadir
Berkaitan
dengan karomah Al-Jailani, muridnya yang bernama Muwaffaquddin Ibnu
Qudamah -penulis Al-Mughni Syarh Al-Khiraqi- menyampaikan, “Aku tidak
mendengar tentang seorang pun yang dikisahkan karomah-karomahnya yang
lebih banyak dari Syaikh ‘Abdul Qadir. Aku juga tidak pernah menjumpai
ada orang yang dihormati karena agamanya melebihi beliau.”
Sementara
itu, Syaikh ‘Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam mengatakan, “Tidak ada kisah
karomah yang datang dari ulama-ulama yang berkualitas mutawatir selain
Syaikh ‘Abdul Qadir. Sebab kisah karomahnya diriwayatkan secara
mutawatir.”
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak
kisah-kisah kekaromahan Syaikh ‘Abdul Qadir yang dipalsukan yang isinya
justru ‘menciderai’ keulamaan beliau. Hingga Ibnu Rajab berkata, “Akan
tetapi Al-Muqri’ Abul Hasan Asy-Syatthanufi Al-Mishri telah mengumpulkan
kisah-kisah Syaikh ‘Abdul Qadir dan manaqibnya sebanyak tiga jilid. Di
dalam kitab tersebut beliau menulis sedikit banyak (baca: semuanya
ditulis). Dan ‘Seseorang itu sudah cukup dikatakan berdusta apabila ia
menceritakan semua yang ia dengar.’ Aku pernah melihat kitab ini. akan
tetapi hatiku tidak tenang apabila harus menjadikannya sebagai referensi
sedikit pun. Oleh karena itu, aku hanya akan menukilkan kisah-kisah
yang masyhur saja dari refrensi lain. Sebab kitab ini dipenuhi oleh
kisah-kisah dari orang-orang yang tidak diketahui (baca: majhul). Di sini juga banyak syathahat,
bencana, dakwaan, serta ucapan batil yang tidak dapat dihitung dan hal
semacam itu tidak layak dinisbatkan pada Syaikh ‘Abdul Qadir –rahimahullah-.
Kemudian aku mendapati Kamaluddin Ja’far Al-Udfawi menyebutkan bahwa
Asy-Syatthanufi sendiri tertuduh dusta karena apa yang ia hikayatkan
dalam kitabnya ini.”
Di antara kisah kekaromahan Syaikh ‘Abdul
Qadir yang masyhur ialah hikayat yang disampaikan oleh putra beliau yang
bernama Musa. Katanya, aku mendengar bapakku berkisah bahwa pada suatu
saat aku dalam sebuah salah satu perjalananku (tour) ke padang
pasir. Aku tinggal beberapa hari tidak memperoleh air sehingga dahaga
semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba sebuah awan menaungiku dan darinya turun
sesuatu menyerupai embun. Aku pun memikirkan akan peristiwa tersebut.
Kemudian aku melihat sebuah cahaya yang menyinari ufuk. Nampak padaku
suatu bentuk dan darinya aku dipanggil, ‘Abdul Qadir, akulah tuhanmu.
Aku telah menghalalkan semua perkara yang haram untukmu,’ atau dia
katakan, ‘Yang aku haramkan untuk selainmu.’ Aku pun berkata:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
“Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk”.
Enyahlah kamu wahai setan yang terkutuk!’ Tiba-tiba cahaya tersebut
berubah menjadi kegelapan sedangkan bentuk yang tadi menjadi asap.
Kemudian ia mengatakan padaku, ‘Abdul Qadir, engkau terselamatkan dariku
karena berkat ilmumu, hukum Rab-mu, kefahamanmu terhadap hal ihwalmu.
Sungguh, aku telah menyesatkan tujuh puluh orang shufi dengan cara
semacam ini.’ Aku pun berkata, segala karunia dan keutamaan kembali pada
Rab-ku.’”
Musa bertanya, ada yang bertanya padanya, bagaimana
Anda tahu kalau itu adalah syetan? “Aku tahu karena dia mengatakan, ‘Aku
telah menghalalkan semua perkara yang haram untukmu’”, jawabnya.
Di
antara karomah Syaikh ‘Abdul Qadir ialah apa yang diceritakan oleh
Syaikh Syihabuddin ‘Umar bin Muhammad As-Sahrawardi, penulis Al-‘Awarif,
katanya, “Aku pernah bertekad membaca sebagian ilmu kalam dan aku ragu
apakah membaca Al-Irsyad karya Imamul Haramain, Nihayatul Iqdam karya
Asy-Syihristani, atau kitab lainnya? Aku pun pergi bersama pamanku Abu
An-Najib yang biasa shalat di dekat Syaikh ‘Abdul Qadir. Beliau pun
menolah seraya berkata padaku, ‘Umar, itu bukan bekal di kubur, itu
bukan bekal di kubur.’ Akupun mengurungkan niat membaca ilmu kalam.”
Kisah karomah ini pernah ditulis oleh muridnya Muwaffaquddin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.
Redaksi
lain datang dari Ibnu An-Najjar, katanya, Aku mendengar ‘Umar bin
Muhammad As-Sahrawardi, syaikhnya para shufi, bercerita, “Di masa mudaku
aku belajar fiqih di Madrasah Nizhamiyah. Dalam benakku terbetik ingin
rasanya membaca sedikit ilmu kalam dan akupun bertekat untuk itu tanpa
kukemukakan. Kebetulan aku shalat Jum’at bersama pamanku Abu An-Najib di
masjid agung. Maka tibalah Syaikh ‘Abdul Qadir mengucapkan salam
kepadanya. Pamanku tadi meminta pada beliau agar kiranya Syaikh berkenan
mendoakan kebaikan untukku. Beliau menceritakan bahwa aku tengah sibuk
mempelajari fiqih. Aku pun bergegas berdiri dan mencium tangan Syaikh.
Syaikh lantas memegang tanganku dan berkata, “Bertaubatlah dari tekadmu
itu karena kamu akan beruntung.” Kemudian beliau diam dan melepaskan
tanganku.
Akan tetapi tekadku belum lagi memudar hingga kemudian
semua urusanku menjadi berantakan dan waktuku menjadi keruh. Aku pun
menyedari sebabnya ialah karena menyelisihi Syaikh. Hari itu juga aku
bertaubat kepada Allah dari itu semua dan akhirnya urusanku menjadi
membaik dan hatiku tentram damai.”
Ibnu An-Najjar berkata, aku
pernah mendengar Abu Muhammad Al-Akhfasy berkisah, “Aku pernah menemui
Syaikh ‘Abdul Qadir di tengah musim yang sangat dingin sekali. Beliau
hanya mengenakan sehelai pakaian saja. Di atas kepalanya terbalut sebuah
peci. Sedangkan keringan terus bercucuran dari badannya dan orang yang
berada di sisinya bertugas mengipasinya dengan sebuah kipas layaknya di
waktu yang sangat panas.”
Di samping karomah-karomah di atas,
masih banyak lagi karomah yang muncul dari diri beliau, sebagiannya
berdasarkan kenyataan dan banyak di antaranya yang direka-reka yang
justru menjatuhkan martabat Syaikh sebagai seorang ulama besar yang
berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah serta mengikuti madzhab
Imam Ahmad bin Hanbal. Di antara karomah yang sampai kepada kita secara
valid ialah apa yang disampaikan oleh Syaikh Abul Hasan An-Nadwi dalam Rijal Al-Fikr wa Ad-Da’wah,
“Sesungguhnya di antara karomah Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jilani yang
paling besar ialah menghidupkan jiwa dan hati, menanamkan keimanan, khasyyah
terhadap Allah dan mencintainya, serta menyalakan kembali dari awal
hati yang telah padam. Sungguh melalui Syaikh, Allah telah mengembalikan
kehidupan dan keimanan ke dalam hati orang-orang yang jumlahnya tidak
ada yang mampu menghitungnya melainkan Allah.”
Sementara itu
Syaikh Taqiyyuddin Al-Harrani menjelaskan bahwa karomah paling besar
yang Allah berikan kepada wali Allah ialah istiqamah. Dan jelas bahwa
karomah semacam ini juga ada dijumpai pada diri Syaikh ‘Abdul Qadir
Al-Jilani. Sehingga kisah-kisah karomah seperti firasat yang jarang/
tidak pernah meleset dan lain sebagainya tidak ada nilainya jika
dibandingkan dengan karomah istiqamah ini.
Ajaran Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani Al-Hanbali
Ibnu Rajab Al-Hanbali menulis, “Syaikh ‘Abdul Qadir –rahimahullah ta’ala– memiliki pendapat yang bagus berkaitan dengan tauhid, sifat (Allah), qadar, dan yang berkaitan dengan ilmu ma’rifat
yang selaras dengan Sunnah. Beliau mengarang Kitab الغُنْيَةُ
لِطَالِبِي طَرِيْقِ الحَقِّ yang terkenal itu. Beliau juga menulis Kitab
فتوح الغيب. Murid-muridnya telah menghimpun banyak nasehat yang beliau
sampaikan di kajian-kajiannya. Beliau adalah sosok yang berpegang teguh
dengan As-Sunnah dalam perkara-perkara semacam sifat Allah dan qadar.
Beliau sangat keras menyanggah orang yang menyelisihinya.
Di dalam
Kitab Al-Ghun-yah yang masyhur itu beliau berkata, ‘Allah berada di
arah atas, bersemayam di atas ‘Arsy, meliputi kerajaan, mengetahui
segala sesuatu.
إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ
“Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya.” [QS Fathir: 10]
يُدَبِّرُٱلۡأَمۡرَ
مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ فِي يَوۡمٖ
كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ
“Dia
mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik
kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut
perhitunganmu.” [QS As-Sajdah: 5]
Dan
tidak boleh menyifati Allah bahwa dia berada di semua tempat. Akan
tetapi dikatakan bahwa Allah berada di langit, di atas ‘Arsy,
sebagaimana firman-Nya
ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy.” [QS Thaha: 5]
Dan beliau mengutip beberapa ayat dan hadits, hingga beliau berkata, “Dan seyogyanya menyematkan sifat istiwa’ (bersemayam di atas ‘Arsy) tanpa mentakwilnya dan bahwa yang beristiwa’ ialah Diri-Nya di atas ‘Arsy.”
Beliau
berkata, “Sifat Allah berada di atas ‘Arsy itu telah disebutkan dalam
semua kitab yang diturunkan kepada setiap nabi yang diutus, tanpa
membagaimanakan.’ Beliau menjelaskan dengan panjang lebar. Beliau
menyebutkan semacam ini dalam seluruh sifat Allah.” Selesai ucapan Ibnu
Rajab.
Ucapan Ibnu Rajab di atas juga dinukil oleh Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat.
Syaikh
Abu Zakariya yahya bin Yusuf Ash-Sharshari menyebutkan, sebagaimana
yang dikutip oleh Ibnu Rajab, dari gurunya Al-‘Arif ‘Ali bin Idris,
bahwa beliau bertanya pada Syaikh ‘Abdul Qadir, “Tuanku, apakah Allah
memiliki wali yang tidak berkeyakinan seperti keyakinan Ahmad bin
Hanbal?” Jawabnya, “Tidak pernah dan tidak akan pernah.” Kemudian hal
tersebut dikisahkan dalam bentuk syair oleh Syaikh Yahya dalam
qashidahnya.
Ibnu Rajab berkata, “Aku telah menyalin dari tulisan
Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Qudamah Al-Maqdisi, aku pernah
mendengar Syaikh ‘Ali bin Salman Al-Baghdadi yang akrab disapa
Al-Khabbaz di pondoknya yang terletak di sebelah barat Baghdad. Beliau
berkisah tentang Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jili. Beliau ini pemilik mukasyafah
dan karomah yang tidak pernah dinukilkan dari seorang pun di zamannya.
Beliau berkata, “Tidak mungkin ada orang menjadi wali Allah Ta’ala
kecuali apabila ia beri’tiqad seperti i’tiqadnya Ahmad –radhiyallahu ‘anhu-.”
Keluarga Syaikh Abdul Qadir
As-Sahrawardi
berkata mengisahkan bahwa Syaikh ‘Abdul Qadir berkata, “Pernah beberapa
saat aku ingin menikah. Namun aku tidak berani karena khawatir waktuku
menjadi keruh. Ketika aku bersabar hingga datang ketetapan takdir, Allah
Ta’ala mengirimkan padaku empat wanita yang kesemuanya mendapatkan
nafkah kapan dikehendaki dan disukai.” Maksudnya semua istrinya berasal
dari keluarga kaya.
Ibnu An-Najjar berkata, sebagaimana yang
direkam oleh Ibnu Al-‘Imad, “Aku mendengar ‘Abdurrazzaq bin Syaikh
‘Abdul Qadir berkata, ‘Terlahir dari ayahku 49 anak. 27 di antaranya
laki-laki, sedangkan sisanya wanita.”
Akan tetapi tidak ada yang
tersisa selain tiga belas saja, yaitu ‘Abdul Wahhab, ‘Abdullah,
‘Abdurrazzaq, ‘Abdul ‘Aziz, ‘Abdul Jabbar, Ibrahim, Muhammad,
‘Abdurrahman, ‘Isa, Musa, Shalih, ‘Abdul Ghani, Yahya, dan seorang lagi
perempuan bernama Fathimah. Artinya selama hidupnya beliau diuji dengan
kehilangan 14 anaknya laki-laki dan 21 anaknya perempuan.
Syaikh ‘Abdul Qadir Wafat
Adz-Dzahabi
berkata, “Syaikh ‘Abdul Qadir hidup selama 90 tahun. Beliau kembali ke
haribaan Allah pada 10 Rabi’ul Akhir tahun 561 H. Dan jenazahnya
dilayati oleh orang banyak yang tak terhitung jumlahnya. Beliau
dimakamkan di madrasahnya. Semoga Allah merahmatinya.”
Karangan Syaikh ‘Abdul Qadir
- Al-Fath Ar-Rabbani wa Al-Faidh Ar-Rahmani
- Futuh Al-Ghaib
- Al-Ghun-yah Li Thalibi Al-Haq
- Jala’ Al-Khathir Min Kalam Asy-Syaikh ‘Abdil Qadir
- Yawaqit Al-Hikam
- Al-Mawahib Ar-Rahmaniyyah
- Washaya
- Bahjah Al-Asrar
- Sirr Al-Asrar
- Ar-Rad ‘Ala Ar-Rafidhah, bantahan terhadap agama Syi’ah Rafidhah
Murid-muridnya
Adz-Dzahabi menulis bahwa di antara muridnya ialah As-Sam’ani, ‘Umar bin ‘Ali Al-Qurasyi, Al-Hafizh ‘Abdul Ghani –penulis ‘Umdatul Ahkam-, Syaikh Muwaffaquddin Ibnu Qudamah –penulis Al-Mughni-,
‘Abdurrazzaq bin Abdul Qadir, Musa bin ‘Abdul Qadir, Syaikh ‘Ali bin
Idris, Ahmad bin Muthi’ Al-Bajisra’i, Abu Hurairah, Muhammad bin Laits
Al-Wusthani, Akmal bin Mas’ud Al-Hasyimi, Abu Thalib ‘Abdullathif bin
Muhammad bin Al-Qubayyathi, dan banyak lagi.
10 Sahabat yang dijamin masuk surga
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu
Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu (RA) adalah khalifah pertama, setelah Nabi
wafat. Ia sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah, kemanapun Nabi pergi, ia
selalu menyertainya. Termasuk saat Rasul dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke
Madinah, suatu perjalanan yang penuh dengan risiko.
Sejak remaja, Abu Bakar telah
bersahabat dengan Nabi. Ia juga orang yang pertama memeluk Islam. Tidak sulit
baginya untuk mempercayai ajaran islam, karena ia tahu betul keagungan ahklak
Rasulullah. Demikian juga saat Nabi menyampaikan peristiwa Isra Mi’raj. Abu
Bakarlah sahabat yang pertama kali membenarkan peristiwa tersebut. Oleh sebab
itu, ia diberi gelar oleh Rasulullah yakni Ash-Shiddiq ( yang benar, jujur, dan
membenarkan ). Abu Bakar wafat dalam usia 63 tahun ( 13 hijriah ). Ia
dimakamkan di Madinah bersebelahan dengan makam Rasulullah.
2. ‘Umar bin Khattab‘
Umar bin Khattab RA adalah khalifah
kedua. Ia termasuk sahabat yang sangat dikasihi oleh Nabi. Sebelum masuk Islam,
ia dikenal sebagai sosok yang jago gulat dan gemar mabuk-mabukan. Seluruh
penduduk Makkah merasa takut kepadanya.
‘Umar memeluk islam setelah
mendengar surat
Thoha yang dibacakan saudara perempuannya. Ia sangat keras dalam membela agama
Allah. Ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan
kaum Quraisy terhadap diri Nabi dan sahabat. Saat ‘Umar diangkat menjadi
khalifah, daerah kekuasaan Islam bertambah. Kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat
ditaklukan dalam kurun waktu satu tahun (636-637 M). Pemimpin yang sederhana
dan peduli pada rakyatnya ini, wafat setelah dibunuh Abu Lukluk saat hendak
memimpin shalat (23 H/644 M). Ia dimakamkan berdekatan dengan Abu Bakar dan
Rasulullah.
3. ‘Ustman bin Affan
‘Ustman bin Affan RA adalah khalifah
Islam ketiga. Pada saat kepemimpinannya, ia berhasil mengumpulkan wahyu, dan
menyusunnya dalam bentuk mushaf Al-Qur’an.
‘Ustman bin Affan masuk islam lewat
ajakan Abu Bakar. Ia mendapat gelar Dzun Nur ‘Ain ( pemilik dua cahaya ),
karena menikahi dua putri Nabi, Ruqqayah dan Ummu Kultsum. ‘Ustman dikenal
sebagai saudagar kaya dan dermawan. Ia selalu menafkahkan hartanya di jalan
Allah. Saat berkecamuk perang Tabuk, ‘Ustman menyumbang lebih dari 940 unta,
kemudian membawa 60 kuda untuk menggenapinya menjadi 1000. ‘Ustman wafat pada
tahun 35H atau 655M.
4. ‘Ali bin Abi Thalib
‘Ali bin Abi Thalib RA dilahirkan di
Makkah tahun 598 Masehi. Ali adalah orang yang pertama masuk Islam dari
golongan anak-anak.
Ali terkenal orang yang sangat
berani, ahli siasat perang, dan cerdas. Pada saat peristiwa hijrah, ‘Ali tidur
diatas tempat tidur Nabi. Sehingga, para tentara Quraisy yang mengepung rumah
Nabi, mengira Nabi masih berada di dalam rumah.
‘Ali wafat pada tahun 40 Hijriyah,
setelah ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam dengan pedang yang beracun setelah
shalat shubuh. Ia meninggal dalam usia 63 tahun dan menjabat selama 4 tahun 9
bulan. Beliau di makamkan di Kufah, Irak.
5. Thalhah bin Abdullah
Thalhah bin Abdullah dikenal sebagai
salah satu konsultan Rasulullah. Ia berasal dari suku Quraisy.
Saat berkecamuk perang Uhud, Thalhah
ikut serta. Di arena tersebut ia menderita luka parah. Dia menjadikan dirinya
sebuah perisai bagi Rasulullah dan mengalihkan panah yang akan menancapkan diri
Nabi dengan tangannya. Sehingga semua jari-jarinya putus. Thalhah wafat pada 36
H atau 656 M. Ia syahid saat mengikuti perang Jamal.
6. Zubeir bin Awwam
Zubeir bin Awwam termasuk golongan
yang pertama masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Usianya saat itu baru berumur
15 tahun.
Pembelaannya terhadap islam begitu
nyata. Zubeir tidak pernah absen dalam berbagai pertempuran bersama kaum
muslimin. Ia selalu berada di garda depan saat jihad di kumandangkan. Sekujur
tubuhnya terdapat luka dari hasil peperangan.
Ia sangat dicintai Rasulullah. Saat
terjadi perseteruan di antara kaum muslimin, Zubeir tidak sedikitpun memihak
yang berseteru. Ia malah berusaha menyatukannya.
Zubeir ditikam ketika sedang menghadap Allah, ia wafat pada tahun 36H atau 656M.
Zubeir ditikam ketika sedang menghadap Allah, ia wafat pada tahun 36H atau 656M.
7. Sa’ad bin Abi Waqqas
Sa’ad bin Abi Waqqas memeluk Islam
saat berusia 17 tahun. Ia sangat mahir menunggang kuda dan memanah. Jika ia
memanah musuh dalam sebuah peperangan pastilah tepat sasarannya. Hampir seluruh
peperangan ia ikuti.Saat awal memeluk Islam, ibunya mengancam untuk mogok makan
dan minum. Dengan harapan, Sa’ad kembali ke ajaran nenek moyang. Namun, hampir
sang ibu menemui ajalnya, ancaman itu tetap tidak dihiraukan oleh Sa’ad. Ia
tidak menjual keyakinannya dengan apapun, sekalipun dengan nyawa ibunya.Saat
periode khalifah Umar bin Khatab, Sa’ad diangkat sebagai gubernur mileter di Iraq yang
bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai panglima tentara.Sa’ad wafat pada
usia 70 tahun (55H atau 676M). Ia di makamkan di tanah Baqi’
8. Sa’id bin Zaid
Sa’id adalah di antara sahabat yang
beruntung. Dia masuk islam bersama-sama istrinya, Fathimah binti al-Khattab,
adik perempuan ‘Umar bin Khattab. Sa’id membaktikan segenap daya dan tenaganya
untuk berkhidmak kepada islam. Ketika memeluk islam usianya belum genap 20
tahun.
Sa’id turun berperang bersama
Rasulullah dalam setiap peperangan. Ia juga turut bersama kaum muslimin
mencabut singasana Kisra Persia.
Sa’id pernah diperintahkan Rasulullah memata-matai aktivitas musuh.
Ia wafat dalam usia 70 tahun (51H
atau 671M) dan di makamkan di Baqi’ Madinah.
9. ‘Abdurrahman bin ‘Auf
‘Abdurrahman bin ‘Auf termasuk tujuh
orang yang pertama masuk Islam. Ia termasuk diantara sahabat Nabi yang
mempunyai harta melimpah yang didapatkan dengan perniagaan.
Kesuksesannya tidak membuat ia lupa diri, ia selalu menafkahkan hartanya dijalan Allah. Bahkan saat ia diberitakan Rasulullah bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat sedekahnya makin membara. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 kuda perang, dan 1.500 ekor unta ia sumbangkan untuk perjuangan Islam.Abdurrahman sempat berhijrah ke Habsyah sebanyak 2 kali. Ia wafat pada umur 72 tahun(32H atau 652M) di Baqi’
Kesuksesannya tidak membuat ia lupa diri, ia selalu menafkahkan hartanya dijalan Allah. Bahkan saat ia diberitakan Rasulullah bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat sedekahnya makin membara. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 kuda perang, dan 1.500 ekor unta ia sumbangkan untuk perjuangan Islam.Abdurrahman sempat berhijrah ke Habsyah sebanyak 2 kali. Ia wafat pada umur 72 tahun(32H atau 652M) di Baqi’
10. Abu ‘Ubaidah bin
Jarrah
Rasulullah pernah memberikan
pernyataan tentang Abu ‘Ubaidah. “Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang
kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah,” begitu
kata Rasulullah. Abu ‘Ubaidah orang yang amanah dan jujur dalam berperilaku.
Abu Ubaidah masuk Islam melalui perantara Abu
Bakar Ash-Shiddik pada awal kerasulan nabi Muhammad SAW. Ia beberapa kali
dipercaya Rasul memimpin peperangan. Ia wafat pada tahun 18H atau 639M
Langganan:
Komentar (Atom)