‘Abdul Qadir Al-Jailani, siapakah beliau? Tahukah kita siapa
sebenarnya sosok yang selalu diagungkan oleh banyak orang dan bahkan
‘photonya’ digantungkan di dinding-dinding rumah, tempat usaha, kantor,
dan lain sebagainya? Pada kesempatan kali ini saya akan mengajak pembaca
sekalian menelusuri jejak kehidupan ulama besar tersebut melalui
rekaman-rekaman yang terdapat dalam kamus biografi ulama semacam Al-Bidayah wa An-Nihayah (XVI/419-420), Siyar A’lam An-Nubala’ (XX/439-451), Adz-Dzail ‘Ala Thabaqat Al-Hanabilah (II/187-212), Syadzarat Adz-Dzahab (VI/330-336), dan lain sebagainya.
Nama
lengkapnya ialah ‘Abdul Qadir bin Abu Shalih ‘Abdullah bin Janki Dusat
bin Abu ‘Abdillah bin ‘Abdullah Al-Jili Al-Baghdadi. Oleh para ulama
disebutkan bahwa Al-Jailani atau Al-Kailani adalah seorang ulama
panutan, penasehat ulung yang telah menghidupkan banyak orang-orang yang
telah mati hatinya, pakar fiqih menurut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal,
pemilik banyak karomah, dan gelar-gelar mulia lainnya yang panjang untuk
dituliskan di sini.
Kelahirannya pada tahun 470 atau 471 H,
terdapat perbedaan penanggalan di tengah sejarawan, di sebuah kota
bernama Jilan. Dalam Al-Ansab (III/414) As-Sam’ani mengatakan bahwa kota
Jilan juga disebut Kail dan Kilan. Sedangkan untuk menisbatkan ke
daerah tersebut dapat menggunakan Jili, Jilani, dan Kilani.
Kegemaran
Al-Jilani (atau menurut lisan Melayu: Al-Jailani) menuntut ilmu sudah
ia mulai sedari dini mungkin. Bahkan di waktu usianya yang masih
terbilang muda, ia sudah melawat ke Kota Baghdad untuk mengaji kepada
ulama-ulamanya, seperti Abu Ghalib bin Al-Baqillani, Ja’far As-Sarraj,
Abu Bakar bin Sausan, Ibnu Bayan, Abu Thalib bin Yusuf, Ibnu Khusyaisy,
Ubai An-Narsi, Abu Al-Khattab Al-Kalwadzani, dan Al-Qadhi Abu Sa’d
Al-Makharrimi. Ada yang mengatakan Al-Jailani juga mengaji kepada Ibnu
‘Aqil, dan Al-Qadhi Abul Husain.
Ibnu Al-‘Imad mengatakan, “Adalah
gurunya para ulama, Syaikh ‘Abdul Qadir, berperawakan kurus, dadanya
lebar, janggutnya lebar, kulitnya berwarna kecoklatan, alis matanya
berbentuk melengkung, bersuara lantang (keras), dan bersifat tenang yang
elok.
Ketika ia mulai tumbuh dewasa dan mengetahui betapa
wajibnya menuntut ilmu, ia mulai menyingsingkan lengan bajunya untuk
belajar dan bersegera memperoleh pokok dan cabangnya ilmu setelah
sebelumnya menyelesaikan Al-Quran hingga kuat.”
Ibnu Rajab
Al-Hanbali menulis, “‘Abdul Qadir Al-Jailani pandai dalam bidang fiqih
madzhab Imam Ahmad, khilaf yang terjadi di tengah ulama madzhab yang
empat, ushul fiqih, dan lain sebagainya. Ia mempelajari sastra dari Abu
Zakariya At-Tibrizi, bermurid kepada Syaikh Hammad Ad-Dabbas Az-Zahid,
dan mengajar di madrasah gurunya yang bernama Al-Makharrimi hingga
tutup usia dan dikebumikan di sana.”
As-Sam’ani mengatakan
sebagaimana yang dikutip oleh Adz-Dzahabi, “Abdul Qadir merupakan
penduduk Jilan, imam serta gurunya ulama-ulama madzhab Hanbali di
zamannya, pakar fiqih, shalih, religius, penderma (خَيِّرٌ), banyak
melantunkan dzikir, selalu berfikir, cepat melinangkan air mata. Ia
belajar fiqih dari Al-Mukharrimi dan bermurid kepada Syaikh Hammad
Ad-Dabbas. Ia dahulu tinggal di Bab Azaj, yaitu di sebuah madrasah yang
memang dibangunkan untuknya. Kami pernah mengunjunginya. Pada saat itu
ia keluar untuk memberikan pengajian kepada anak-anak muridnya. Mereka
semua mengkhatamkan Al-Quran. Kemudian beliau memberikan pelajaran yang
tidak bisa kumengerti sama sekali. Yang lebih aneh dari itu ialah
murid-muridnya tersebut kemudian mengulangi pelajaran yang beliau
sampaikan tadi. Mungkin mereka memahaminya melalui kata-kata beliau
(dihafal?).”
Ibnul Jauzi menceritakan sebagaimana yang dikutip
oleh Ibnu Rajab, “Dahulunya madrasah ini berukuran kecil. Kemudian
diserahkan kepada ‘Abdul Qadir. Beliaupun mengambil tugas sebagai
penyampai kajian nasehat (tazkiyatun nufus) yang dihadiri oleh
orang-orang. Dan nampaklah dari sosoknya sifat zuhud. Beliau juga
memiliki sifat yang tenang dan diam. Kemudian madrasah tersebut pun
akhirnya sesak oleh para hadirin… Banyak orang yang kemudian taubat
melalui beliau. Sehingga madrasah tersebut diperlebar dan banyak orang
awam bersikap fanatik kepadanya. Di madrasah tersebut beliau memberikan
nasihat pelajaran hingga wafat.”
Karomah Syaikh ‘Abdul Qadir
Berkaitan
dengan karomah Al-Jailani, muridnya yang bernama Muwaffaquddin Ibnu
Qudamah -penulis Al-Mughni Syarh Al-Khiraqi- menyampaikan, “Aku tidak
mendengar tentang seorang pun yang dikisahkan karomah-karomahnya yang
lebih banyak dari Syaikh ‘Abdul Qadir. Aku juga tidak pernah menjumpai
ada orang yang dihormati karena agamanya melebihi beliau.”
Sementara
itu, Syaikh ‘Izzuddin Ibnu ‘Abdissalam mengatakan, “Tidak ada kisah
karomah yang datang dari ulama-ulama yang berkualitas mutawatir selain
Syaikh ‘Abdul Qadir. Sebab kisah karomahnya diriwayatkan secara
mutawatir.”
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak
kisah-kisah kekaromahan Syaikh ‘Abdul Qadir yang dipalsukan yang isinya
justru ‘menciderai’ keulamaan beliau. Hingga Ibnu Rajab berkata, “Akan
tetapi Al-Muqri’ Abul Hasan Asy-Syatthanufi Al-Mishri telah mengumpulkan
kisah-kisah Syaikh ‘Abdul Qadir dan manaqibnya sebanyak tiga jilid. Di
dalam kitab tersebut beliau menulis sedikit banyak (baca: semuanya
ditulis). Dan ‘Seseorang itu sudah cukup dikatakan berdusta apabila ia
menceritakan semua yang ia dengar.’ Aku pernah melihat kitab ini. akan
tetapi hatiku tidak tenang apabila harus menjadikannya sebagai referensi
sedikit pun. Oleh karena itu, aku hanya akan menukilkan kisah-kisah
yang masyhur saja dari refrensi lain. Sebab kitab ini dipenuhi oleh
kisah-kisah dari orang-orang yang tidak diketahui (baca: majhul). Di sini juga banyak syathahat,
bencana, dakwaan, serta ucapan batil yang tidak dapat dihitung dan hal
semacam itu tidak layak dinisbatkan pada Syaikh ‘Abdul Qadir –rahimahullah-.
Kemudian aku mendapati Kamaluddin Ja’far Al-Udfawi menyebutkan bahwa
Asy-Syatthanufi sendiri tertuduh dusta karena apa yang ia hikayatkan
dalam kitabnya ini.”
Di antara kisah kekaromahan Syaikh ‘Abdul
Qadir yang masyhur ialah hikayat yang disampaikan oleh putra beliau yang
bernama Musa. Katanya, aku mendengar bapakku berkisah bahwa pada suatu
saat aku dalam sebuah salah satu perjalananku (tour) ke padang
pasir. Aku tinggal beberapa hari tidak memperoleh air sehingga dahaga
semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba sebuah awan menaungiku dan darinya turun
sesuatu menyerupai embun. Aku pun memikirkan akan peristiwa tersebut.
Kemudian aku melihat sebuah cahaya yang menyinari ufuk. Nampak padaku
suatu bentuk dan darinya aku dipanggil, ‘Abdul Qadir, akulah tuhanmu.
Aku telah menghalalkan semua perkara yang haram untukmu,’ atau dia
katakan, ‘Yang aku haramkan untuk selainmu.’ Aku pun berkata:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
“Aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk”.
Enyahlah kamu wahai setan yang terkutuk!’ Tiba-tiba cahaya tersebut
berubah menjadi kegelapan sedangkan bentuk yang tadi menjadi asap.
Kemudian ia mengatakan padaku, ‘Abdul Qadir, engkau terselamatkan dariku
karena berkat ilmumu, hukum Rab-mu, kefahamanmu terhadap hal ihwalmu.
Sungguh, aku telah menyesatkan tujuh puluh orang shufi dengan cara
semacam ini.’ Aku pun berkata, segala karunia dan keutamaan kembali pada
Rab-ku.’”
Musa bertanya, ada yang bertanya padanya, bagaimana
Anda tahu kalau itu adalah syetan? “Aku tahu karena dia mengatakan, ‘Aku
telah menghalalkan semua perkara yang haram untukmu’”, jawabnya.
Di
antara karomah Syaikh ‘Abdul Qadir ialah apa yang diceritakan oleh
Syaikh Syihabuddin ‘Umar bin Muhammad As-Sahrawardi, penulis Al-‘Awarif,
katanya, “Aku pernah bertekad membaca sebagian ilmu kalam dan aku ragu
apakah membaca Al-Irsyad karya Imamul Haramain, Nihayatul Iqdam karya
Asy-Syihristani, atau kitab lainnya? Aku pun pergi bersama pamanku Abu
An-Najib yang biasa shalat di dekat Syaikh ‘Abdul Qadir. Beliau pun
menolah seraya berkata padaku, ‘Umar, itu bukan bekal di kubur, itu
bukan bekal di kubur.’ Akupun mengurungkan niat membaca ilmu kalam.”
Kisah karomah ini pernah ditulis oleh muridnya Muwaffaquddin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.
Redaksi
lain datang dari Ibnu An-Najjar, katanya, Aku mendengar ‘Umar bin
Muhammad As-Sahrawardi, syaikhnya para shufi, bercerita, “Di masa mudaku
aku belajar fiqih di Madrasah Nizhamiyah. Dalam benakku terbetik ingin
rasanya membaca sedikit ilmu kalam dan akupun bertekat untuk itu tanpa
kukemukakan. Kebetulan aku shalat Jum’at bersama pamanku Abu An-Najib di
masjid agung. Maka tibalah Syaikh ‘Abdul Qadir mengucapkan salam
kepadanya. Pamanku tadi meminta pada beliau agar kiranya Syaikh berkenan
mendoakan kebaikan untukku. Beliau menceritakan bahwa aku tengah sibuk
mempelajari fiqih. Aku pun bergegas berdiri dan mencium tangan Syaikh.
Syaikh lantas memegang tanganku dan berkata, “Bertaubatlah dari tekadmu
itu karena kamu akan beruntung.” Kemudian beliau diam dan melepaskan
tanganku.
Akan tetapi tekadku belum lagi memudar hingga kemudian
semua urusanku menjadi berantakan dan waktuku menjadi keruh. Aku pun
menyedari sebabnya ialah karena menyelisihi Syaikh. Hari itu juga aku
bertaubat kepada Allah dari itu semua dan akhirnya urusanku menjadi
membaik dan hatiku tentram damai.”
Ibnu An-Najjar berkata, aku
pernah mendengar Abu Muhammad Al-Akhfasy berkisah, “Aku pernah menemui
Syaikh ‘Abdul Qadir di tengah musim yang sangat dingin sekali. Beliau
hanya mengenakan sehelai pakaian saja. Di atas kepalanya terbalut sebuah
peci. Sedangkan keringan terus bercucuran dari badannya dan orang yang
berada di sisinya bertugas mengipasinya dengan sebuah kipas layaknya di
waktu yang sangat panas.”
Di samping karomah-karomah di atas,
masih banyak lagi karomah yang muncul dari diri beliau, sebagiannya
berdasarkan kenyataan dan banyak di antaranya yang direka-reka yang
justru menjatuhkan martabat Syaikh sebagai seorang ulama besar yang
berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah serta mengikuti madzhab
Imam Ahmad bin Hanbal. Di antara karomah yang sampai kepada kita secara
valid ialah apa yang disampaikan oleh Syaikh Abul Hasan An-Nadwi dalam Rijal Al-Fikr wa Ad-Da’wah,
“Sesungguhnya di antara karomah Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jilani yang
paling besar ialah menghidupkan jiwa dan hati, menanamkan keimanan, khasyyah
terhadap Allah dan mencintainya, serta menyalakan kembali dari awal
hati yang telah padam. Sungguh melalui Syaikh, Allah telah mengembalikan
kehidupan dan keimanan ke dalam hati orang-orang yang jumlahnya tidak
ada yang mampu menghitungnya melainkan Allah.”
Sementara itu
Syaikh Taqiyyuddin Al-Harrani menjelaskan bahwa karomah paling besar
yang Allah berikan kepada wali Allah ialah istiqamah. Dan jelas bahwa
karomah semacam ini juga ada dijumpai pada diri Syaikh ‘Abdul Qadir
Al-Jilani. Sehingga kisah-kisah karomah seperti firasat yang jarang/
tidak pernah meleset dan lain sebagainya tidak ada nilainya jika
dibandingkan dengan karomah istiqamah ini.
Ajaran Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani Al-Hanbali
Ibnu Rajab Al-Hanbali menulis, “Syaikh ‘Abdul Qadir –rahimahullah ta’ala– memiliki pendapat yang bagus berkaitan dengan tauhid, sifat (Allah), qadar, dan yang berkaitan dengan ilmu ma’rifat
yang selaras dengan Sunnah. Beliau mengarang Kitab الغُنْيَةُ
لِطَالِبِي طَرِيْقِ الحَقِّ yang terkenal itu. Beliau juga menulis Kitab
فتوح الغيب. Murid-muridnya telah menghimpun banyak nasehat yang beliau
sampaikan di kajian-kajiannya. Beliau adalah sosok yang berpegang teguh
dengan As-Sunnah dalam perkara-perkara semacam sifat Allah dan qadar.
Beliau sangat keras menyanggah orang yang menyelisihinya.
Di dalam
Kitab Al-Ghun-yah yang masyhur itu beliau berkata, ‘Allah berada di
arah atas, bersemayam di atas ‘Arsy, meliputi kerajaan, mengetahui
segala sesuatu.
إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ
“Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya.” [QS Fathir: 10]
يُدَبِّرُٱلۡأَمۡرَ
مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ فِي يَوۡمٖ
كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ
“Dia
mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik
kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut
perhitunganmu.” [QS As-Sajdah: 5]
Dan
tidak boleh menyifati Allah bahwa dia berada di semua tempat. Akan
tetapi dikatakan bahwa Allah berada di langit, di atas ‘Arsy,
sebagaimana firman-Nya
ٱلرَّحۡمَٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy.” [QS Thaha: 5]
Dan beliau mengutip beberapa ayat dan hadits, hingga beliau berkata, “Dan seyogyanya menyematkan sifat istiwa’ (bersemayam di atas ‘Arsy) tanpa mentakwilnya dan bahwa yang beristiwa’ ialah Diri-Nya di atas ‘Arsy.”
Beliau
berkata, “Sifat Allah berada di atas ‘Arsy itu telah disebutkan dalam
semua kitab yang diturunkan kepada setiap nabi yang diutus, tanpa
membagaimanakan.’ Beliau menjelaskan dengan panjang lebar. Beliau
menyebutkan semacam ini dalam seluruh sifat Allah.” Selesai ucapan Ibnu
Rajab.
Ucapan Ibnu Rajab di atas juga dinukil oleh Ibnu Al-‘Imad dalam Syadzarat.
Syaikh
Abu Zakariya yahya bin Yusuf Ash-Sharshari menyebutkan, sebagaimana
yang dikutip oleh Ibnu Rajab, dari gurunya Al-‘Arif ‘Ali bin Idris,
bahwa beliau bertanya pada Syaikh ‘Abdul Qadir, “Tuanku, apakah Allah
memiliki wali yang tidak berkeyakinan seperti keyakinan Ahmad bin
Hanbal?” Jawabnya, “Tidak pernah dan tidak akan pernah.” Kemudian hal
tersebut dikisahkan dalam bentuk syair oleh Syaikh Yahya dalam
qashidahnya.
Ibnu Rajab berkata, “Aku telah menyalin dari tulisan
Ahmad bin ‘Isa bin ‘Abdullah bin Qudamah Al-Maqdisi, aku pernah
mendengar Syaikh ‘Ali bin Salman Al-Baghdadi yang akrab disapa
Al-Khabbaz di pondoknya yang terletak di sebelah barat Baghdad. Beliau
berkisah tentang Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jili. Beliau ini pemilik mukasyafah
dan karomah yang tidak pernah dinukilkan dari seorang pun di zamannya.
Beliau berkata, “Tidak mungkin ada orang menjadi wali Allah Ta’ala
kecuali apabila ia beri’tiqad seperti i’tiqadnya Ahmad –radhiyallahu ‘anhu-.”
Keluarga Syaikh Abdul Qadir
As-Sahrawardi
berkata mengisahkan bahwa Syaikh ‘Abdul Qadir berkata, “Pernah beberapa
saat aku ingin menikah. Namun aku tidak berani karena khawatir waktuku
menjadi keruh. Ketika aku bersabar hingga datang ketetapan takdir, Allah
Ta’ala mengirimkan padaku empat wanita yang kesemuanya mendapatkan
nafkah kapan dikehendaki dan disukai.” Maksudnya semua istrinya berasal
dari keluarga kaya.
Ibnu An-Najjar berkata, sebagaimana yang
direkam oleh Ibnu Al-‘Imad, “Aku mendengar ‘Abdurrazzaq bin Syaikh
‘Abdul Qadir berkata, ‘Terlahir dari ayahku 49 anak. 27 di antaranya
laki-laki, sedangkan sisanya wanita.”
Akan tetapi tidak ada yang
tersisa selain tiga belas saja, yaitu ‘Abdul Wahhab, ‘Abdullah,
‘Abdurrazzaq, ‘Abdul ‘Aziz, ‘Abdul Jabbar, Ibrahim, Muhammad,
‘Abdurrahman, ‘Isa, Musa, Shalih, ‘Abdul Ghani, Yahya, dan seorang lagi
perempuan bernama Fathimah. Artinya selama hidupnya beliau diuji dengan
kehilangan 14 anaknya laki-laki dan 21 anaknya perempuan.
Syaikh ‘Abdul Qadir Wafat
Adz-Dzahabi
berkata, “Syaikh ‘Abdul Qadir hidup selama 90 tahun. Beliau kembali ke
haribaan Allah pada 10 Rabi’ul Akhir tahun 561 H. Dan jenazahnya
dilayati oleh orang banyak yang tak terhitung jumlahnya. Beliau
dimakamkan di madrasahnya. Semoga Allah merahmatinya.”
Karangan Syaikh ‘Abdul Qadir
- Al-Fath Ar-Rabbani wa Al-Faidh Ar-Rahmani
- Futuh Al-Ghaib
- Al-Ghun-yah Li Thalibi Al-Haq
- Jala’ Al-Khathir Min Kalam Asy-Syaikh ‘Abdil Qadir
- Yawaqit Al-Hikam
- Al-Mawahib Ar-Rahmaniyyah
- Washaya
- Bahjah Al-Asrar
- Sirr Al-Asrar
- Ar-Rad ‘Ala Ar-Rafidhah, bantahan terhadap agama Syi’ah Rafidhah
Murid-muridnya
Adz-Dzahabi menulis bahwa di antara muridnya ialah As-Sam’ani, ‘Umar bin ‘Ali Al-Qurasyi, Al-Hafizh ‘Abdul Ghani –penulis ‘Umdatul Ahkam-, Syaikh Muwaffaquddin Ibnu Qudamah –penulis Al-Mughni-,
‘Abdurrazzaq bin Abdul Qadir, Musa bin ‘Abdul Qadir, Syaikh ‘Ali bin
Idris, Ahmad bin Muthi’ Al-Bajisra’i, Abu Hurairah, Muhammad bin Laits
Al-Wusthani, Akmal bin Mas’ud Al-Hasyimi, Abu Thalib ‘Abdullathif bin
Muhammad bin Al-Qubayyathi, dan banyak lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar