Al-Hikam Pasal 290-294
Pasal
290
وَقَدْ قَالَ اَبُو بَكْرِ الصِّدِّيْقِ
رضى الله عنه لِعَا ئِشَةَ رضى الله عَنْهَا لَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَتُهَا مِنَ الْاِفْكِ
عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَاعَائِشَةَ! اُشْكُرِى رَسُوْلَ
اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَتْ : وَاللهِ لاَ اَشْكُرُ اِلَّا اللهَ. دَلَّهَا
اَبُو بَكْرٍ رضى الله عنه عَلَى الْمَقَامِ الْاَكْمَلِ مَقَامِ الْبَقَاءِ الْمُقْتَضِى
لِاِثْبَاتِ الْاَثَارِ وَقَدْ قَالَ اللهُ تعالى : اَنِ اشْكُرْلِى وَلِوَالِدَيْكَ.
وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَايَشْكُرُاللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُالنَّاسَ
وَكَانَتْ هِىَ فِى ذَلِكَ الْوَقْتِ مُصْطَلَمَةً عَنْ شَاهِدَهَا غَائِبَةً عَنِ
الْاَثَارِ فَلَمْ تَشْهَدْ اِلَّا الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ.
Artinya: “Abubakar Assiddiq ra. telah
berkata kepada 'Aisyah ra. ketika Allah menurunkan ayat yang menerangkan
kesuciannya dari tuduhan-tuduhan orang munafiq yang di turunkan kepada
Rosululloh saw. : Hai 'Aisyah bersyukur (terima kasih)lah kepada Rosululloh
saw.
Jawab 'Aisyah : Demi Allah, saya tidak akan bersyukur melainkan kepada Allah.
Abu bakar menunjukkan kepadanya tinggkat kedudukan yang lebih sempurna yaitu
baqaa' yang mengakui adanya makhluk.
Sedang Allah berfirman : Syukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu.
Juga Rosululloh saw bersabda : Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak
berterima kasih terhadap sesama manusia. Tetapi Siti Aisyah ra. ketika itu
sedang terpengaruh dari perasaannya, lupa dari semua makhluk, sehingga tidak
melihat sesuatu kecuali dzat Allah yang Esa Maha Kuasa.
Pasal
291
وَقَالَ اِبْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِىَ
اللهُ عَنْهُ لَمَّاسُئِلَ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَجُعِلْتُ
قُرَّةَ عَيْنِى فِى الصَّلَاةِ (قُرَّةَ الْعَيْنِ كِنَا يَهُ عَنْ غَايَةِ الْفَرْحِ
وَالسُّرُوْرِ وَالَّلذَّةِ فَكَاَنَّهُ يَقُوْلُ : وَجَعَلَتْ غَايَةُ فَرْحِى وَسُرُوْرِى فِى الصَّلاَةِ لِمُشَاهَدَةِ
الرَّبِّ فِيْهَا) هَلْ ذَلِكَ خَاصَّ بِهِ اَوْلِغَيْرِهِ مِنْ اُمَّتِهِ مِنْهُ
شَرَبٌ وَنَصِيْبٌ؟
فَاجَابَ : اِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالشُّهُوْدِ
عَلَى قَدْرِ الْمَعْرِفَةِ بِالْمَشْهُوْدِ فَالرَّسُوْلَ صَلَوَاةُ اللهِ عَلَيْهِ
وَسَلَامُهُ لَيْسَ مَعْرِفَةُ اَحَدٍ غَيْرِهِ كَمَعْرِفُتُهُ فَلَيْس قُرَّةُ عَيْنٍ
كَقُرَّتِهِ. وَاِنَّمَا قُلْنَا اِنَّ قُرَّةَ عَيْنِهِ فِى الصَّلَاتِهِ بِشُهُوْدِهِ
جَلَالَ مَشْهُوْدِهِ لِاَنَّهُ قَدْأَشَارَ اِلَى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فِى الصَّلَاةِ
وَلَمْ يَقُلْ بِالصَّلَاةِ، اِذْهُوَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهَ لَا تَقِرُّ
عَيْنُهُ بِغَيْرِ رَبِّهِ وكَيْفَ وَهُوَ يَدُلَّ عَلَى هَذَا الْمَقَامِ وَيَأْمُرُ
بِهِ مَنْ سِوَاهُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ : اُعْبُدِ اللهَ كَاَنَّكَ
تَرَاهُ وَمُحَالٌ اَنْ يَرَاهُ وَيَشْهَدَ مَعَهُ سِوَاهُ. فَاِنْ قَالَ قَائِلٌ
: قَدْ تَكُوْنُ قَرَّةُ الْعَيْنِ بِالصَّلَاةِ لِاَنَّهَا فَضْلٌ مِنَ اللهِ وَبَارِزَةٌ
مِنْ عَيْنِ مِنَّةِ اللهِ تَعَالَى فَكَيْفَ لَا يَفْرَحُ بِهَا وَكَيْفَ لَاتَكُوْنُ
قُرَّةَ الْعَيْنِ بِهَا وَقَدْ قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : قُلْ بِفَضْلِ
اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا. الاية. فَاعْلَمْ أَنَّ الْاَيَةَ
قَدْ اَوْمَأَتْ اِلَى الْجَوَابِ لِمَنْ تَدَبَّرَ سِرَّالْخِطَابِ اِذْ قَالَ :
فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا. وَمَاقَالَ : فَبِذَلِكَ فَافْرَحْ
يَامُحَمَّدُ قُلْ لَهُمْ فَلْيَفْرَحُوْا بِالْاِحْسَانِ وَالتَّفَضُّلِ وَلْيَكُنْ
فَرَحُكَ اَنْتَ بِالْمُتَفَضِّلِ كَمَا قَالَ فِى الْاَيَةِ الْاُخْرَى : قُلِ
اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى حَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ.
Artinya: “Ketika ibn athaillah ditanya
tentang sabda Nabi saw. Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam
sembahyang. Apakah itu khusus untuk Rosululloh saw. sendiri atau juga ummatnya
mendapat (bagian)
Jawabnya : Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut
kadar kekuatan ma'rifatnya terhadap apa yang di lihat itu, sedang ma'rifat
Rosululloh saw. tidak dapat disamakan dengan ma'rifat lain-lainnya, karena itu
tidak ada kesenangan (kepuasan) seperti kesenangannya.
Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam sembahyang, karena melihat
kebesaran yang di lihatnya. Nabi sendiri mengisyaratkan dalam sabdanya
:"Di dalam sembahyang", dan tidak berkata " Dengan
sembahyang," sebab Nabi saw. tidak akan puas/senang hatinya selain kepada
Tuhannya. Bagaimana tidak demikian, padahal ia sendiri menganjurkan untuk
mencapai tingkat itu dalam sabdanya : Sembahlah Allah seakan-akan engkau
melihat kepadaNya. Dan mustahil jika melihat Allah dan melihat lain-lainnya di
samping Allah.
Jika ada orang berkata : Adakalanya kesenangan itu karena sembahyang (dengan
sembahyang ), sebab sembahyang itu sebagai karunia yang timbul langsung dari
sumber pemberian Allah, maka bagaimana tidak akan gembira dengan itu, dan
bagaimana tidak menjadi puncak kesenangan karenanya, sedang Allah berfirman :
Hanya dengan (karena) karunia dan rahmat Allah itulah mereka harus gembira.
Maka ketahuilah bahwa dengan ayat itu juga telah ada isyarat untuk jawaban
terhadap pertanyaan ini bagi orang yang memperhatikan rahasia kata-katanya.
Sebab Allah berkata : maka dengan itulah mereka harus gembira. Dan tidak
berkata : Dengan itulah engkau harus gembira ya Muhammad. Seolah-olah berkata :
Katakanlah kepada mereka supaya mereka bergembira dengan karunia itu. tetapi tersebut
dalam ayat : katakanla Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka
berkecimpung.
Sembahyang itu sebagai pemberian Allah
yang terbesar untuk hambaNya, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw. :
Tiada diberikan kepada seorang hamba di dunia ini sesuatu yang lebih baik
daripada diizinkan baginya untuk sembahyang dua rakaat. Sebab sembahyang itu
sebagai hubungan langsung antara hamba dengan Allah, bertemu berkata-kata, dan
berkhalwat. Di situlah seorang menyatakan kehambaan, kerendahan, kehinaan hajat
dan kebutuhannya.
Pasal
292
اَلنَّاسُ فِى وُرُوْدِالْمِنَنِ عَلَى ثَلَاثَةِ
اَقْسَامٍ : فَرِحِ بِالْمِنَنِ لاَمِنْ خَيْثُ مُهْدِيْهَا وَمُنْشِئُهَا وَلَكِنْ
بِوُجُوْدِ مُتْعَتِهِ فِيْهَا، فَهَذَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ
تَعَالَى : حَتَّى اِذَا فَرِحُوْا بِمَا اُوْتُوْا اَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً، وَفَرِحِ
بِالْمِنَنِ مِنْ حَيْثُ اِنَّهُ شَهِدَهَا مِنَّةً مِمَّنْ اَرْسَلَهَا وَنِعْمَةً
مِمَّنْ أَوْصَلَهَا يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى : قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ
فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ وَفَرِحِ بِاللهِ مِا
شَغَلَهُ مِنَ الْمِنَنِ ظَاهِرُ مُتْعَتِهَا وَلَابَاطِنُ مِنَّتِهَا بَلْ شَغَلَهُ
النَّظَرُ اِلَى اللهِ عَمَّا سِوَاهُ وَالْجَمْعُ عَلَيْهِ فَلَا يَشْهَدُ اِلَّا
اِيَّاهُ يَصْدُقَ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى : قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ
يَلْعَبُوْنَ.
Artinya: “Manusia di dalam menghadapi
nikmat karunia Allah terbagi tiga :
1.
Gembira dengan nikmat itu, bukan karena yang memberikannya,
tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawa nafsu dari nikmat itu,
maka ini termasuk orang lalai (ghafli), orang ini sesuai dengan firman Allah :
Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang diberikan itu, Kami
tangkap mereka dengan tiba-tiba (Kami siksa mereka dengan tiba-tiba).
2.
Orang yang gembira dengan nikmat karena ia merasa bahwa itu
karunia yang diberikan Allah kepadanya, ini sesuai firman Allah : Karena merasa
mendapat karunia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus gembira,
yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
3.
Orang yang hanya gembira dengan Allah, tidak terpengaruh
oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena karunia Allah, sebab ia sibuk
memperhatikan Allah sehingga terhibur dari segala lainNya, maka tidak ada yang
terlihat padanya kecuali Allah, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah :
Hanya Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung
(main-main).
Asysyibly berkata : Syukur itu jalan
melihat pada pada yang memberi, bukan melihat nikmat pemberiannya.
Abdul Aziz Almahdawy berkata : Siapa
yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya
berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala.
Pasal
293
وَقَدْ اَوْحَى اللهُ اِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ
السَّلَامُ : قُلْ لِلصِّدِّيْقِيْنَ بِى فَلْيَفْرَحُوْا وَبِذِكْرِى فَلْيَتَنَعَّمُوْا.
Artinya: “Allah telah mewahyukan kepada
Nabi Dawud as. : Hai Dawud katakan kepada orang-orang siddiqin : Dengan Aku
mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir menyebut namaKu hendaknya
mereka merasakan nikmat.
Pasal
294
وَاللهُ تَعَالَى يَجْعَلُ فَرَحَنَا وَاِيَّاكُمْ
بِهِ وَبِالرِّضَا مِنْهُ وَاَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْفَهْمِ عَنْهُ وَاَنْ
لَا يَجْعَلَنَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ وَاَنْ يَسْلُكَ بِنَا مَسَالِكَ الْمُتَّقِيْنَ
بِمَنِّهِ وكَرَمِهِ آمِيْنَ.
Artinya : “Semoga Allah menjadikan
kesenangan (kegembiraan) kami dan kamu dengan Allah dan dengan rela (ridha)
terhadap apa-apa yang dari Allah, semoga Allah menjadikan kami dari golongan
yang mengerti segala sesuatu daripada Allah, dan jangan menjadikan kami dari
golongan orang yang ghafli (lalai), dan semoga Allah menjadikan kami di jalanan
orang-orang yang muttaqin dengan karunia dan kemurahan Allah swt. Amin.’