Al-Hikam Pasal 264-265
BUAH DARI KETAATAN
Pasal 264
وِجْدَانُ ثَمَرَاتِ الطَّاعَةِ عَاجِلًا بَشَائِرُ لِلْعَامِلِيْنَ بِوُجُوْدِ الْجَزَاءِ عَلَيْهَا آجِلًا.
Artinya :”Bisa merasakan buah dari taat yang dilakukan didunia ini, itu sebagai bukti dan kabar gembira bagi orang yang beramal, atas adanya balasan besor di akhirat.”
Barang siapa mendapatkan manis lezatnya permulaan mujahadah, maka itu sebagai berita gembira dengan adanya musyahadah. Dan barang siapa menemukan buahnya amal didunia ini, maka bergembiralah dengan akan adanya balasan besok diakhirat. Adapun bagian dari buah amal didunia yaitu bertambahnya keyakinan, merasa senang melkukan ibadah, puas dan ridho menerima segala ajaran tuntunan Allah dan rasulNya. Maka siapa saja yang bisa merasakan manisnyha ibadah itu sebagai tanda ditereimanya amal tersebut.
Rasulullah saw bersabda: “Pasti akan dapat merasakan kelezattaan iman, siapa yang benar benar ridho berTuhankan Allah, dan bernabikan nabi Muhammad dan beragama Islam”.
Pasal 265
كَيْفَ تَطْلُبُ الْعِوَضَ عَلَى عَمَلٍ هُوَ مُتَصَدِّقٌ بِهِ عَلَيْكَ اَمْ كَيْفَ تَطْلُبُ الْجَزَاءَ عَلَى صِدْقٍ هُوَ مُهْدِيْهِ اِلَيْكَ؟
Artinya :”Bagaimana engkau akan minta upah balasan atas amal yang Allah sendiri yang bersedekah dengan amal itu kepadamu, atau bagaimana engkau akan minta balasan atas suatu keikhlasan amalmu, padahal Allah sendiri yang memberi hadiyah keikhlasan itu kepadamu”.
Amal/perbuatan yang pantas meminta upah balasan itu apabila amal itu menguntungkan atau menghindarkan kerugian terhadap siapa yang engkau beramal untuknya, sedangkan amal ibadah itu semuanya tidak menguntungkan Tuhan dan tidak menolak mudhorot terhadap Tuhan, bahkan amal itu akan kembali manfaatnya kepada yang beramal sendiri.
Lebih lebih amal perbuatan itu sebagai sedekah dari Allah, sedangkan keikhlasan itu suatu hadiah yang sangat berharga dari Allah kepada hambanya.
Syeikh Abul Abbas bin Atho’ ketika ditanya : Amal pebuatan apa yang terdekat kepada murka Allah?. Jawabannya : Melihat diri dari perbuatannya, dan lebih dari itu menuntut upah balasan atas kelakuan amalnya.
Syeikh Alwasithy berkata : Menuntut balasan atas amal taat itu disebabkan oleh karena lupa terhadap fadhol/karunia pemberian Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar