Al-Hikam Pasal 250-256
Tawadhu’
Pasal 250
مَنْ اَثْبَتَ لِنَفْسِهِ تَوَاضَعًا فَهُوَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا اِذْ لَيْسَ التَّوَاضُعُ اِلَّا عَنْ رِفْعَةٍ فَمَتَى اَثْبَتَّ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَاَنْتَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا.
Barang siapa yang merasa diri sudah bertawadhu’, maka ia benar-benar sombong, sebab tidak mungkin ia merasa tawadhu’ kecuali ia merasa tinggi/besar. Karena itu bila engkau menetapkan bahwa dirimu itu besar/luhur, maka benar-benar engkau telah sombong (mutakabbir).”
Tawadhu’ yaitu : tidak melihat dan merasadirinya punya pangkat/kedudukan, dan ia merasa dirinya menghaki sifat sifat hina dibanding lainnya.
Orang yang merasa sudah bertawadhu’ itu muncul dari pada nasu, supaya dikatakan orang yang punya derajat tinggi dihadapan Allah, dan orang yang merasa sudah punya derajat itu namanya sombong yang hakiki.
Pasal 251
لَيْسَ الْمُتَوَاضِعُ الَّذِى اِذَا تَوَاضَعَ رَأَى اَنَّهُ فَوْقَ مَاصَنَعَ وَلَكِنِ الْمُتَوَاضِعُ الَّذِى اِذَا تَوَاضَعَ رَآى اَنَّهُ دُوْنَ مَاصَنَعَ.
Artinya: “Orang Tawadhu’ itu bukanlah orang yang ketika melakukan tawadhu’ lalu dia merasa bahwa dirinya itu lebih tinggi derajatnya dari pada yang diperbuat, tetapi orang yang tawadhu’ ialah orang yang apabila berbuat tawadhu’ ia menganggap dirinya lebih rendah dari pada yang diperbuat.”
Orang yang bertawadhu’ yaitu orang yang tidak menetapkan sifat tawadhu’ itu pada dirinya sendiri, karena ia melihat sifat hina pada dirinya, sehingga dia tidak berani mengaku/merasa sudah beertawadhu’, tanda orang yang tawadhu’ itu apabila dia dicela, dihina tidak marah dan tidak sakit hati, dan ia tidak menginginkan kedudukan dikalangan masyarakat, dan tidak merasa punya kedudukan di masyarakat.
Syeikh Abu Yazid Al busthomi berekata : Selagi masih ada dalam diri hamba, melihat makhluk itu lebih jelek/hina daripada dirinya, maka dia orang yang sombong dan ketika ditanya : Kapan orang itu tawadhu’ ? jawabnya : jika sudah tidak merasa ada kedudukan dan kemuliaan pada dirinya dan tawadhu’ seseorang itu menurut kadar makrifatnya terhadap Tuhan dan dirinya.
Syeikh As Sybly berkata : Barang siapa merasa dirinya lebih berharga (mempunyai kedudukan) maka ia bukan orng yang tawadhu’. Syeikh Abu Sulain Ad Darony berkata : Seorang hamba tidak dikatakan tawadhu’ sehingga ia mengenal dirinya sendiri (mengenal sifat-sifat hamba yaitu hina, fakir, bodoh, lemah dan sifat kurang lainnya).
Pasal 252
اَلتَّوَاضُعُ الْحَقِيْقِىُّ مَاكَانَ نَاشِئًا عَنْ شُهُوْدِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلِّى صِفَتِهِ.
Artinya : “Tawadhu’ yang sejati (hakiki) ialah rasa rendah diri yang timbul karena melihat/memperhatikan keagungan Allah dan terbukanya sifat-sifat Allah (pada makhluknya).”
Tawadhu’ hakiki yaitu tawadhu’nya para Arifin, yang muncul sebab mereka melihat / menyaksikan keagungan Allah dan terbuka (tajallinya dzat dan sifat Nya. Ketika seseorang melihat keagungan Allah maka hilanglah sifat-sifat nafsunya.
Syeikh Dzu Nun Al Misry berkata : Barang siapa yang menginginkan bertawadhu’ maka hadapkanlah dirimu (hatimu) kepada keagungan Allah, maka akan menjadi hina dan kecil dirimu, barang siapa yang melihat kemaha rajaan Allah, maka hilanglah sifat raja dirimu, karena semua sifat nafsu itu hina/kalah dihadapan kehaibatan Allah. Dan mulia-mulianya tawadhu’ yaitu apabila melihat dirinya itu bukan Allah.
Manusia itu ada tiga golongan :
1. Seseorang yang melihat kejelekan perbuatannya, sehingga tidak melihat kedudukan/derajat pada dirinya.
2. Seseorang yang menyaksikan kejelekan sifatnya, sehingga ia tidak menyaksikan / mengetahui pangkat/kemuliaan pada dirinya.
3. Seseorang yang hanya melihat keagungan Tuhannya, sehingga ia lupa segala-galanya sebab itu.
Pasal 253
لَايَخْرُجُكَ عَنِ الْوَصْفِ اِلَّا شُهُوْدُ الْوَصْفِ.
Artinya : “Tidak ada sesuatu yang bisa mengeluarkan / melepaskan dari sifat-sifat (nafsu) mu, kecuali jika kamu melihat sifat-sifat Allah.”
Tidak ada yang bisa mengeluarkan/melepaskan dari sifat-sifatmu yang tercela, kecuali jika kamu melihat kemuliaan Allah. Tidak ada yang bisa mengeluarkan/melepaskan kamu dari melihat sifat-sifatmu yang baru (sifat makhlu/hadits), kecuali jika kamu melihat sifat Tuhanmu yang qodim (dahulu). Tidak ada yang bisa mengeluarkan / melepaskan kamu dari melihat perbuatanmu, kecuali jika kamu melihat perbuatan Allah (fi’lullah), dan dari melihat sifat-sifatmu dengan cara melihjat sifat-sifat Allah, dari melihat dzatmu dengan cara menyaksikan Dzat Allah.
Al Hasil, selama engkau tidak melihat /memperhatikan sifat-sifat ketuhanan, kebesaran, kekuasaan dan keagungan Allah, maka selama itu juga engkau akan merasa besar, kuasa dan sombong. Dan selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Allah, maka selama itu juga engkau tidak merasa dan mengaku sifat kurang , hinadan kehambaan dirimu terhadap Allah.
Pasal 254
اَلْمُؤْمِنُ يَشْغُلُهُ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ عَنْ اَنْ يَكُوْنَ لِنَفْسِهِ شَاكِرًا وَتَشْغُلُهُ حُقَوْقُ اللهِ عَنْ اَنْ يَكُوْنَ لِحُظُوْظِهِ ذَاكِرًا.
Artinya : “Orang mukmin yang sempurna itu selalu sibuk memuji syukur kepada Allah, sehingga lupa dan tidak sempat memuji diri sendiri, dan mereka sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang menjadi hak Allah, sehingga lupa akan kepentingannya sendiri.”
Memuji diri itu berarti merasa telah berbuat amal kebaikan. Karena seorang mukmin yang sejati itu, ia tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri, ia sadar semua itu semata-mata anugerah dan pemberian dari Allah, sehingga apabila ada orang yang memuji dia atau berterima kasih pada dia atas perbuatan yang telah ia lakukan, ia langsung mengembalikan pujuan itu kepada Allah pemilik pujian yang hakiki.
Orang mukmin yang sejati itu selalu sibuk dengan kewajiban yang menjadi hak Allah, sehingga ia tidak ingat dengan kepentingannya sendiri, dan kepentingan nafsunya, karena ibadahnya hanya karena mengagungkan dan memuji pada Allah, tidak karena balasan atau ingin surga dan takut neraka.
Pasal 255
لَيْسَ الْمُحِبُّ الَّذِى يَرْجُوْ مِنْ مَحْبُوْبِهِ عِوَضًا اَوْ يَطْلُبُ مِنْهُ غَرْضًا فَاِنَّ الْمُحِبُّ مَنْ يَبْذُلُ لَكَ لَيْسَ الْمُحِبُّ مَنْ تَبْذُلُ لَهُ.
Artinya : “Orang yang cinta sejati itu bukanlah orang yang mengharapkan balasan dari yang dicintai atau berhasilnya apa yang dimaksud, tetapi sesungguhnya orang yang cinta sejati itu orang yang memberi kepadamu bukan orang yang mengharap pemberianmu kepadanya.”
Allah benar-benar mencintai hambanya, dengan bukti Allah telah memberikan kepada hambanya Nikmatnya, yang pertama nikmat ijad (dijadikan) dan yang kedua nikmat imdad (kelanjutannya), dan memberikan semua yang menjadi kebutuhan hambanya. Firman Allah : “Wa-ataa kum minkulli maa sa altumuuhu.” Dan Aku berikan kepadamu semua apa yang menjadi permintaanmu. Dan firman Allah lagi : Kholaqo lakum maa fil ardhi jami’an. (Allah) telah menciptakan untuk kamu semua apa apa yang ada dibumi semuanya. Dan Allah sama sekali tidak mengharap balasan/imblan dari hambanya sama sekali.
Sebaliknya bila kamu mengaku cinta kepada Allah haruslah sanggup menyerahkan semuanya termasuk ibadah dan dan amal shalihmu kepada Allah yang tanpa mengharap imbalan apa saja dari Allah.
Syeikh Abu Abdullah Al Qurasyi berkata : Hakikat cinta itu, bila engkau telah dapat memberikan keseluruhanmu kepada yang engkau cintai, sehingga tidak ada sisa apa apa bagimu..
Allah telah mewahyukan kepada Nabi Isa as. : Apabila aku melihat hati hambaKu, tidak ada padanya cinta dunia dan Akhirat, niscaya aku penuhi hati itu dengan cinta kepadaku. Wahyu Allah keapda Nabi Dawud as. : Hai Dawud, sungguh Aku telah mngharamkan cinta Ku untuk masuk kedalam hati dimana hati itu ada cinta selain Aku.
Pasal 256
لَوْلَا مَيَادِيْنُ النُّفُوْسُ مَاتَحَقَّقَ سَيْرُ السَّائِرِيْنَ اِذْلَا مَسَافَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَطْوَبِهَا رِحْلَتَكَ. وَلَا قُطْعَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَمْحُوْهَا وُصْلَتُكَ.
Artinya : “Andaikan tidak ada lapangan (medan) perjuangan melawan hawa nafsu, pasti tidak dapat terbukti perjalanan suluk menuju Allah, sebab tidak ada jarak antaramu dengan Allah sehingga harus ditempuh dengan perjalanan dan tidak pernah putus antara dirimu dengan Allah sehingga harus disambung dengan wushulmu.”
Syeikh Ibnu Atoillah berekata : Manusia itu dibagi menjadi dua bagian :
1. Manusia yang tidak pnya perjalanan, yakni tidak berjalan menuju Allah. Yaitu orang orang yang berhenti pada lahirnya syariat, dan semua yang diperbolehkan oleh syariat, baik berat ataupun ringan menurut hawa nafsunya, tetapi mereka hanya memilih yang ringan saja, karena mengharap rukhshoh keringanan dan kemudahan syariat, dan yang demikian itu tidak bisa merubah kebiasaan nafsu dan syahwatnya.
2. Manusia yang selalu mengarahkan hawa nafsunya kepada allah yang maha raja, dan mengalahkan hawa nafsunya, mereka selalu menghadap ke Hadhrotullah, selalu sibuk memerangi dan meneliti hawa nafsunya, mereka selalu mengerjakan perintah/perkara yang berat, dan manjauhi memilih perkara yang ringan, dan selalu mendawamkannya sehingga nafsunya ridho dan lembut.
Syeikh Abu Usman al Haity berkata A: seseorang itu tidak sempurna kecuali hatinya condong pada empat perkara, yaitu :
1. Penolakan (tidak diberi)
2. Pemberian
3. Kemuliaan
4. Kehinaan.
Yakni ia dalam kondisi hina tetapi merasakan kemuliaan, dan ia tidak diberi (ditolak) tetapi ia merasakan pemberian.
Hakikat hilangnya hawa nafsu dari hati yaitu setiap saat/nafasnya selalu cinta/rindu bertemu dengan Allah, tanpa memilih keadaan yang ada padanya, apabila murid ada tanda tanda seperti itu dalam nafsunya benar-benar ia telah keluar dari alam jinisnya (hawa nafsu), dan sudah wushul kepada Allah. Dan apabila tanda itu belum ada pada murid maka ia harus menetapi perjalanannya.
Syeikh Abu Qosim Al Qusyaery berkat : Hakikat membunuh hawa nafsu itu ialah lepas bebas dari tipudayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul dari padanya, dan menolak segala pengakuan pengakuannya, dan tidak sibuk untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Dengan melepaskan ikhtia/usaha dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan terhapus semua pengaruh hawa nafsu itu terhadap kemanusiaanya.
Adapun sisa sisa yang berupa gambaran dan kerangka (hawa nafsu) itu tidak berbaha. Demikianlah jalan untuk membunuh/mengalahkan hawa nafsu, yang dapat segera dapat mencapai Hadhrotal qudsy.
Sebab tidak ada jarak antaramu dengan Allahsehingga harus ditempuh dengan perjalanan, dan tidak pernah putuh antara dirimu dengan Allah sehingga harus disambung dengan wushulmu, kecuali sebab hijab/tutup berupa hawa nafsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar