Jumat, 02 Desember 2022

Al Hikam 266-269

 

Al-Hikam Pasal 266-269

NUR SEBAGAI BUAH DZIKIR

 

Pasal 266

قَوْمٌ تَسْبِقُ اَنْوَارُهُمْ اَذْكَارَهُمْ وَقَوْمٌ تَسْبِقُ اَذْكَارُهُمْ اَنْوَارَهُمْ وَقَوْمٌ تَتَسَاوٰى اَذْكَارُهُمْ وَ اَنْوَارُهُمْ وَقَوْمٌ لَا اَذْكَارَ وَلَا اَنْوَارَ. نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ ذَالِكَ.

 

Artinya : “ Sebagian kaum ada yang Nur (makrifat)nya mendahului dzikirnya, dan sebagian kaum dzikirnya mendahului Nur-nya, dan sebagian lagi kaum yang tidak berdzikir dan tidak punya nur., Na’udzubillahi-min-dzalik.

 

Kaum yang Nur-nya mendahului dzikirnya yaitu : Maj-dzubuun atau Murooduun (orang yang langsungditarik oleh Alloh bisa makrifat), mereka setelah mendapat nur makrifat lalu berdzikir, sedang kaum yang dzikirnya mendahului Nurnya yaitu para Salikuun atau Murii-duun ( orang yang berusaha mencapai makrifat atau wushul kepada Alloh), mereka bermujahadah/memerangi nafsunya dengan berdzikir sehingga mendapatkan nur makrifat.

 

ذَاكِرٌ ذَكَرَ لَيَسْتَنِيْرَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِراً وَذَاكِرٌ اِسْتِنَارَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِراً وَالَّذِي اِسْتَوَتْ اَذكَارُهُ وَاَنوَارُهُ فَبِذِكْرهِ يَهْتَدِى وَبِنُوْرِهِ يَقْتَدِى

Artinya: “Orang berdzikir yang dzikirnya untuk mendapatkan terang hatinya (yaitu salikuun/muriduun, dan ada orang yang berdzikir sedang hatinya telah terang/mendapat nur (yaitu Majdzubuun/murooduun)mereka semua disebut berdzikir.”

 

Golongan kaum yang mendapat nur sebelum dzikir itu di sebut dalam ayat : يَختصُّ برَحْمَتهِ من يشـَاءُ “Alloh menentukan/mengkhususkan rahmat-Nya pada siapa yang dikehendaki-Nya.”

 

Sedangkan golongan yang berdzikir kemudian mendapatkan Nur, disebutkan dalam ayat : “ وَالَّذِينَ جاَهَدُوا فِيْناَ لنَهْدِيَنـَّهُمْ سُبُلَنـاَ
Dan mereka yang benar-benar berjuang dijalan kerirhoan-Ku, pasti Aku pimpin (Aku tunjukkan jalan kami).”

 

Syeih Abul-Abbas Al-Mursy berkata : sebagian kaum ada yang mendapatkan karunia/karomah dari Alloh dengan taat kepada Alloh(salikuun), dan ada yang bisa taat kepada Alloh sebab karunia/karomah dari Alloh(majdzubuun).

 

Pasal 267.

مَاكَانَ ظَاهِرُ ذِكْرٍ اِلَّا عَنْ بَاطِنِ شُهُوْدٍ وَفِكْرٍ

Artinya: “ Tidak akan terjadi dzikir pada anggauta lahir kecuali sebab musyahadah dan berfikir (tentang keagungan Alloh) dalam batin (hati)nya .”

 

Yang dimaksud dzikir disini yaitu semua amal lahir, sebab semua amal lahir itu pasti timbul dari hati yang memandang Alloh(musyahadah) dan berfikir tentang keagungan Alloh.

 

Apabila anggota lahir disibukkan dengan berdzikir kepada Alloh, itu sebagai tanda adanya cinta kepada Alloh dalam hatinya; ketika seseorang cinta sesuatu maka banyak menyebutnya, dan tidak ada cinta kecuali dari mengenal (makrifat).

 

Alhasil adanya dzikir pada anggota lahir itu timbul dari adanya musyahadah dalam batinnya, bagi para arifiin. Atau timbul dari berfikir tentang anugerah dari Alloh, bagi orang-orang yang mencari pahala.

 

Dalam hal dzikir manusia terbagi menjadi tiga bagian :

1.   Orang yang mencari pahala(awam).

2.   Orang yang berharap sampai/wushul kepada Alloh(salik). Dan

3.   Orang yang mengagungkan dan memuliakan Alloh(’Arif).

 

 

 

Pasal 268.

 

أَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَسْتَشْهِدَ كَ فَنَطَقَتْ بِاءِلِٰهيَّتِهِ الظَّوَاهِرُ وَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيَّتِهِ الْقُلُوْبُ وَالسَّرَائِرُ

Artinya: “ Alloh ta’ala telah memberi syuhud (kesaksian) kepadamu, untuk menyaksikan ke-Tuhanan-Nya Alloh sebelum Alloh menuntut kamu supaya menyaksikan keagungan Alloh , lalu anggota lahirmu mengucapkan (menyatakan) ke-Tuhanan-Nya Alloh dan hatimu menyaksikan sifat Esa-Nya Alloh.”

 

Alloh telah membukakan pada semua ruh manusia dialam ghoib tentang ke-Tuhanan Alloh dan sifat Esa Dzatnya Alloh, dan tentang Alloh meliputi dan mengurusi semua makhluknya, lalu setelah Alloh melahirkan arwah tadi kealam dunia yakni Alloh mngumpulkan ruh dengan jasad lahir, lalu Alloh menuntut ruh tadi untuk menyaksikan ke-Tuhanan-Nya Alloh, maka ruh tadi menyaksikan dengan lisan lahirnya,. Jadi kesaksian ruh itu mengikuti penyaksian ruh dialam ghoib.

 

Dalam keterangan kitab lain hikmah ini juga diartikan : Alloh sudah memperlihatkan Dzatnya kepadamu, sebelum Ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesarannya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir.

 

Pasal 269.

 

أَكْرَمَكَ بِكَرَامَاتٍ ثَلَاثٍ جَعَلَكَ ذَاكِرًا لَهُ وَلَوْلَا فَضْلُهُ لَمْ تَكُنْ أَهْلاً ِلَجرَيَانِ ذِكْرِهِ عَلَيْكَ، وَجَعَلَكَ مَذْكُوْراً بِهِ اِذْ حَقَّقَ نِسْبَتَه ُ لَدَيْكَ وَجَعَلَكَ مَذْكُوْراً عِنْدَهُ فَتَمَّمَ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

Artinya: “ Alloh telah memuliakan engkau dengan tiga karomah (kemuliaan): Alloh telah menjadikan engkau seorang yang berdzikir kepada-Nya, jika tidak karena anugerah-Nya, niscaya engkau tidak pantas/layak untuk berdzikir kepada-Nya. Alloh telah menjadikan engkau disebut dengan asma Alloh, karena Alloh telah menisbatkan asma itu kepada engkau. Alloh telah menjadikan engkau disebut disisi Alloh , maka dengan demikian Alloh telah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu.”

 

Allah Swt. berfirman :

 

Artinya: “Dan sesungguhnya dzikir Alloh kepada hamba itu lebih besar (dari pada dzikir hamba kepada Alloh)”.

 

Bagaimana seorang hamba yang hina boleh menyebut dan mengabdi kepada Tuannya yang maha agung, kalaulah tidak karena anugrah Tuhan tidaklah mungkin engkau bisa berdzikir dengan lisanmu.

 

Karomah yang kedua, Engkau dijadikan orang yang disebut dengan asma Alloh (Alloh sendiri yang menisbatkan asma/dzikir itu kepadamu) , seperti contoh : Ya waliyyalloah, Ya shofiyulloh, itu karena Alloh sudah memberikan sifat khususiyyah pada kamu.

 

Karomah yang ketiga,Engkau disebut-sebut disisi Alloh dihadapan para malaikat al-muqorrobin. Itulah sempurna-sempurnanya nikmat.

 

Dalam sebuah hadits qudsi , dari Abi Hurairoh ra. Berkata : Rosululloh saw. Bersabda : Alloh berfirman : Aku selalu mengikuti perasangka hambaku, dan aku selalu mendampinginya selama ia berdzikir pada-Ku, jika ia berdzikir padaKu dalamhatinya, Aku ingat padanya dalam Dzatku, dan bila ia dzikir pada-Ku di muka umum, aku ingati dia didalam umum yang lebih baik dari golongannya, dan bila ia mendekat padaKu sejengkal maka Aku mendekat padanya sehasta, bila ia mendekat padaKu sesehasta maka Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaKu berjalan, Aku datang kepadanya berlari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar