Al-Hikam Pasal 283-285
Pasal 283
فَمَا زَالَتْ مَطِيَّةُ عَزْمِهِ لَايَقِرُّ قَرَارَهَا دَائِمًا تِسْيَارُهَا اِلَى اَنْ أَنَاخَتْ بِحَضْرَةِ الْقُدْسِ وَبِسَاطِ الْاُنْسِ مَحَلِّ الْمُفَاتَحَةِ وَالْمُوَاجَهَةِ وَالْمُجَالَسَةِ وَالْمُحَادَثَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُطَالَعَةِ فَصَارَتِ الْحَضْرَةُ مَعْشَشَ قُلُوْبِهِمْ اِلَيْهَا يَأْوُوْنَ وَفِيْهَا يَسْكُنُوْنَ.
Artinya: “Maka tetap terus kendaraan semangat tidak berhenti, bahkan tetap terus berjalan, sehingga berlabuh (berhenti) di hadiratil qudsi (di sisi Allah) di atas hamparan kesenangan, tempat berbisik/bermunajat, berhadapan, bercakap-cakap musyahadah dan bertemu sehingga hadratil qudsi itu menjadi sarang hati mereka, ke sana mereka kembali, dan di sana pula mereka tetap tinggal.
Semangat tidak padam bagaikan kendaraan yang tidak kunjung berhenti perjalanan, kecuali setalah sampai stasiun (pelabuhan) yang berupa hadratul qudsi, di mana Allah sendiri yang menyenangkan, membuka nur hati dan selalu di sisi Allah.
Pasal 284
فَاِنْ نَزَلُوْا اِلَى سَمَاءِ الْحُقُوْقِ وَأَرْضِ الْحُظُوْظِ فَبِالْاِذْنِ وَالتَّمْكِيْنِ وَالرُّسُوْخِ فِى الْيَقِيْنِ فَلَمْ يَنْزِلُوْا اِلَى الْحُقُوْقِ بَسُوْءِ الْاَدَبِ وَالْغَفْلَةِ وَلَا إِلَى الْحُظُوْظِ بِالشَّهْوَةِ وَاْلمُتْعَةِ بَلْ دَخَلُوْا فِى ذَلِكَ بِاللهِ وَللهِ وَمِنَ اللهِ وَاِلَى اللهِ.
Artinya: “Maka apabila mereka tiba di langit (yakni menunaikan) hak kewajiban, atau turun ke bumi (yang berarti) menurutkan hawa nafsu, maka keduanya itu dengan izin dan keyakinan yang mendalam. karena itu tidak menunaikan kewajiban dengan menyalahi adab atau kelalaian, demikian pula bila menurutkan hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk dalam kedua-dua bagian itu dengan bantuan pertolongan Allah, dan untuk keridhaan Allah, menurut tuntunan Allah, serta berharap kepada Allah.
Pasal 285
وَقُلْ رَبِّ اَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَاَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ، لِيَكُوْنَ نَظَرِى اِلَى حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ اِذَا اَدْخَلْتَنِى وَاسْتِسْلَامِى وَانْقِيَادِى اِلَيْكَ اِذَا أَخْرَجْتَنِى.
Artinya: “Katakanlah : Ya Tuhan, masukkanlah saya dalam kebenaran, dan keluarkanlah saya dalam kebenaran pula, supaya tetap pandanganku bulat pada kekuasaan dan kekuatanMu, ketika Engkau memasukkan saya, demikian pula penyerahan dan taatku selalu kepadaMu ketika engkau mengeluarkan saya.
وَاجْعَلْ لِى مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيْرًا يَنْصُرُنِى وَيَنْصُرُبِى وَلَا يَنْصُرُ عَلَىَّ يَنْصُرُنِى عَلَى شُهُوْدِ نَفْسِى وَيَفْنِيْنِى عَنْ دَآئِرَةِ حِسِّى.
Dan berikan untukku langsung daripadaMu kekuatan (bukti) yang membantu padaku, dan yang membantu kawan-kawanku, dan tidak membantu nafsu dan musuh-musuhku, membantu saya untuk mengenal kelemahan diri dari nafsuku, dan melenyapkan saya dari kurungan perasaanku.
Selalu minta bantuan Allah supaya dapat istiqomah, dan untuk kesempurnaan hal dalam menghadapi jiwa nafsu dan perasaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar