Al-Hikam Pasal 286-289
Pasal 286
اِنْ كَانَتْ عَيْنُ الْقَلْبِ تَنْظُرُ اَنَّ اللهَ وَاحِدٌ فِى مِنَّتِهِ فَالشَّرِيْعَةُ تَقْتَضِى أَنَّهُ لَابُدَّ مِنْ شُكْرِ خَلِيْقَتِهِ.
Artinya: “Jika matahari memandang bahwa Allah itu tunggal dalam segala pemberian karuniaNya, maka syariat menyuruh harus berterimakasih (syukur) pula kepada sesama makhluk.
fiman Allah :
اَنِ
اشْكُرْلِى وَلِوَالِدَيْكَ.
Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu. (Lukman 14)
Annu'man bin Basyir ra. berkata : Rosulullah saw bersabda :
مَنْ
لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ
لَمْ يَشْكُرِاللهَ.
Artinya: “Siapa yang tidak mensyukuri pemberian yang sedikit maka tidak akan dapat mensyukuri yang banyak. Demikian pula siapa yang tidak syukur (terima kasih) kepada sesama manusia, maka berarti tidak bersyukur kepada Allah.
Hakikat yang sebenarnya bahwa segala nikmat itu hanya karunia Allah semata-mata, sedang syariat mengharuskan manusia syukur terima kasih kepada sesama mahluk.
Pasal 287
وَاَنَّ النَاسَ فِى ذَلِكَ عَلَى ثَلَاثَةِ اَقْسَامٍ : غَافِلٌ مُنْهَمِكٌ فِى غَفْلَتِهِ قَوِيَتْ دَائِرَةُ حِسِّهِ وَانْطَمَسَتْ حَضْرَةُ قُدْسِهِ فَنَظَرَ الْاِحْسَانُ مِنَ الْمَخْلُوْقِيْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اِمَّااعْتِقَادًا فَشِرْكُهُ جَلِىٌّ وَاِمَّا اِسْتِنَادًا فَشِرْكُهُ خَفِىٌّ.
Artinya: “Dan manusia dalam menghadapi
nikmat pemberian Tuhan terbagi menjadi tiga :
1. Orang yang lalai terhadap Tuhan dan sangat memuncak kelalaiannya. Orang ini
sangat kuat jiwa materialnya, sangat terpengaruh oleh panca inderanya, hingga
padam sama sekali jiwa rohaninya, maka ia melihat bantuan/kebaikan itu hanya
semata-mata dari sesama makhluk, dan sama sekali tidak melihat dari Allah Tuhan
Robbul-alamiin. jika yang demikian ini berupa i'tiqad keyakinan, maka siriknya
jelas, atau sekedar dianggap sebagai sebab yang andaikan tidak ada sebab itu
tidak terjadi itu karunia, maka ini sirik juga tetapi samar.
Mereka itu jika ditanya : Siapakah yang memberi kepadamu? Jawabnya : Allah, tetapi andaikan tidak ada fulan itu tentu tidak ada pemberian atau karunia ini.
Pasal 288
وَصَاحِبُ حَقِيْقَةٍ غَابَ عَنِ الْخَلْقِ بِشُهُوْدِ الْمَلِكِ الْحَقِّ وَفَنِىَ عَنِ الْاَسْبَابِ بِشُهُوْدِ مُسَبِّبِ الْاَسْبَابِ فَهُوَ عَبْدٌ مُوَاجِهٌ بِالْحَقِيْقَةِ ظَاهِرٌ عَلَيْهِ سَنَاهَا مُسَالِكٌ لِلطَّرِيْقَةِ قَدِاسْتَوْلَى عَلَى مَدَاهَا غَيْرَ أَنَّهُ غَرِيْقُ الْاَنْوَارِ مَطْمُوْسُ الْاَثَارِ قَدْ غَلَبَ سَكْرُهُ عَلَى صَحْوِهِ وَجَمْعُهُ عَلَى فَرْقِهِ وَفَنَاؤُهُ عَلَى بَقَائِهِ وَغَيْبَتُهُ عَلَى حُضُوْرِهِ.
Artinya :
2. Orang ahli hakikat yang telah melupakan makhluk karena langsung melihat kepada Allah raja yang hak, dan lupa dari sebab musabab karena teringat kepada yang menentukan sebab dan menjadikannya. Orang ini sebagai hamba yang menghadapi hakikat yang nyata baginya terang cahayanya, dan sedang berjalan pada jalannya, telah sampai pada puncaknya, hanya ia sedang tenggelam dalam alam cahaya, sehingga tidak kelihatan bekas-bekas makhluk, lebih banyak lupanya terhadap alam daripada ingatnya, dan bertemu pada Allah dari renggangnya, dan lenyaplah dirinya dari tetapnya perasaannya, dan lupanya terhadap makhluk daripada ingatnya pada mereka.
Pasal 288
وَاَكْمَلُ مِنْهُ عَبْدٌ شَرِبَ فَازْدَادَ صَحْوًا وَغَابَ فَازْدَادَ حُضُوْرًا فَلَا جَمْعُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ فَرْقِهِ وَلَا فَرْقُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ جَمْعِهِ وَلَا فَنَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ بَقَائِهِ وَلَابَقَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ فَنَائِهِ يُعْطِى كُلَّ ذِى قِسْطٍ قِسْطَهُ وَيُوْفِى كُلُّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ.
Artinya :
3. Dan yang sempurna ialah seorang hamba yang minum dari nur tauhid, maka ia bertambah kesadarannya, dan lenyap dari melihat sesuatu selain Allah, kemudian bertambah dekatnya, maka dekatnya kepada Allah tidak mempengaruhi (menutup) pisahnya, demikian pula pisahnya tidak menutupi pula dekatnya, fana'nya dari makhluk tidak menghalangi tetap ingatnya, demikian ingatnya kepada makhluk tidak merintangi fana'nya, dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan memberi pada tiap sesuatu haknya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar