Jumat, 02 Desember 2022

Al Hikam Pasal 290-294

 

Al-Hikam Pasal 290-294

 

Pasal 290

وَقَدْ قَالَ اَبُو بَكْرِ الصِّدِّيْقِ رضى الله عنه لِعَا ئِشَةَ رضى الله عَنْهَا لَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَتُهَا مِنَ الْاِفْكِ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم : يَاعَائِشَةَ! اُشْكُرِى رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَتْ : وَاللهِ لاَ اَشْكُرُ اِلَّا اللهَ. دَلَّهَا اَبُو بَكْرٍ رضى الله عنه عَلَى الْمَقَامِ الْاَكْمَلِ مَقَامِ الْبَقَاءِ الْمُقْتَضِى لِاِثْبَاتِ الْاَثَارِ وَقَدْ قَالَ اللهُ تعالى : اَنِ اشْكُرْلِى وَلِوَالِدَيْكَ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَايَشْكُرُاللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُالنَّاسَ وَكَانَتْ هِىَ فِى ذَلِكَ الْوَقْتِ مُصْطَلَمَةً عَنْ شَاهِدَهَا غَائِبَةً عَنِ الْاَثَارِ فَلَمْ تَشْهَدْ اِلَّا الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ.

 

Artinya: “Abubakar Assiddiq ra. telah berkata kepada 'Aisyah ra. ketika Allah menurunkan ayat yang menerangkan kesuciannya dari tuduhan-tuduhan orang munafiq yang di turunkan kepada Rosululloh saw. : Hai 'Aisyah bersyukur (terima kasih)lah kepada Rosululloh saw.
Jawab 'Aisyah : Demi Allah, saya tidak akan bersyukur melainkan kepada Allah.
Abu bakar menunjukkan kepadanya tinggkat kedudukan yang lebih sempurna yaitu baqaa' yang mengakui adanya makhluk.
Sedang Allah berfirman : Syukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu.
Juga Rosululloh saw bersabda : Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih terhadap sesama manusia. Tetapi Siti Aisyah ra. ketika itu sedang terpengaruh dari perasaannya, lupa dari semua makhluk, sehingga tidak melihat sesuatu kecuali dzat Allah yang Esa Maha Kuasa.

 

Pasal 291

 

وَقَالَ اِبْنُ عَطَاءِ اللهِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ لَمَّاسُئِلَ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَجُعِلْتُ قُرَّةَ عَيْنِى فِى الصَّلَاةِ (قُرَّةَ الْعَيْنِ كِنَا يَهُ عَنْ غَايَةِ الْفَرْحِ وَالسُّرُوْرِ وَالَّلذَّةِ فَكَاَنَّهُ يَقُوْلُ :  وَجَعَلَتْ غَايَةُ فَرْحِى وَسُرُوْرِى فِى الصَّلاَةِ لِمُشَاهَدَةِ الرَّبِّ فِيْهَا) هَلْ ذَلِكَ خَاصَّ بِهِ اَوْلِغَيْرِهِ مِنْ اُمَّتِهِ مِنْهُ شَرَبٌ وَنَصِيْبٌ؟

فَاجَابَ : اِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالشُّهُوْدِ عَلَى قَدْرِ الْمَعْرِفَةِ بِالْمَشْهُوْدِ فَالرَّسُوْلَ صَلَوَاةُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ لَيْسَ مَعْرِفَةُ اَحَدٍ غَيْرِهِ كَمَعْرِفُتُهُ فَلَيْس قُرَّةُ عَيْنٍ كَقُرَّتِهِ. وَاِنَّمَا قُلْنَا اِنَّ قُرَّةَ عَيْنِهِ فِى الصَّلَاتِهِ بِشُهُوْدِهِ جَلَالَ مَشْهُوْدِهِ لِاَنَّهُ قَدْأَشَارَ اِلَى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فِى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَقُلْ بِالصَّلَاةِ، اِذْهُوَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهَ لَا تَقِرُّ عَيْنُهُ بِغَيْرِ رَبِّهِ وكَيْفَ وَهُوَ يَدُلَّ عَلَى هَذَا الْمَقَامِ وَيَأْمُرُ بِهِ مَنْ سِوَاهُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ : اُعْبُدِ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ وَمُحَالٌ اَنْ يَرَاهُ وَيَشْهَدَ مَعَهُ سِوَاهُ. فَاِنْ قَالَ قَائِلٌ : قَدْ تَكُوْنُ قَرَّةُ الْعَيْنِ بِالصَّلَاةِ لِاَنَّهَا فَضْلٌ مِنَ اللهِ وَبَارِزَةٌ مِنْ عَيْنِ مِنَّةِ اللهِ تَعَالَى فَكَيْفَ لَا يَفْرَحُ بِهَا وَكَيْفَ لَاتَكُوْنُ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِهَا وَقَدْ قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى : قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْيَفْرَحُوْا. الاية. فَاعْلَمْ أَنَّ الْاَيَةَ قَدْ اَوْمَأَتْ اِلَى الْجَوَابِ لِمَنْ تَدَبَّرَ سِرَّالْخِطَابِ اِذْ قَالَ : فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا. وَمَاقَالَ : فَبِذَلِكَ فَافْرَحْ يَامُحَمَّدُ قُلْ لَهُمْ فَلْيَفْرَحُوْا بِالْاِحْسَانِ وَالتَّفَضُّلِ وَلْيَكُنْ فَرَحُكَ اَنْتَ بِالْمُتَفَضِّلِ كَمَا قَالَ فِى الْاَيَةِ الْاُخْرَى : قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى حَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ.

 

Artinya: “Ketika ibn athaillah ditanya tentang sabda Nabi saw. Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam sembahyang. Apakah itu khusus untuk Rosululloh saw. sendiri atau juga ummatnya mendapat (bagian)
Jawabnya : Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut kadar kekuatan ma'rifatnya terhadap apa yang di lihat itu, sedang ma'rifat Rosululloh saw. tidak dapat disamakan dengan ma'rifat lain-lainnya, karena itu tidak ada kesenangan (kepuasan) seperti kesenangannya.
Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam sembahyang, karena melihat kebesaran yang di lihatnya. Nabi sendiri mengisyaratkan dalam sabdanya :"Di dalam sembahyang", dan tidak berkata " Dengan sembahyang," sebab Nabi saw. tidak akan puas/senang hatinya selain kepada Tuhannya. Bagaimana tidak demikian, padahal ia sendiri menganjurkan untuk mencapai tingkat itu dalam sabdanya : Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat kepadaNya. Dan mustahil jika melihat Allah dan melihat lain-lainnya di samping Allah.
Jika ada orang berkata : Adakalanya kesenangan itu karena sembahyang (dengan sembahyang ), sebab sembahyang itu sebagai karunia yang timbul langsung dari sumber pemberian Allah, maka bagaimana tidak akan gembira dengan itu, dan bagaimana tidak menjadi puncak kesenangan karenanya, sedang Allah berfirman : Hanya dengan (karena) karunia dan rahmat Allah itulah mereka harus gembira. Maka ketahuilah bahwa dengan ayat itu juga telah ada isyarat untuk jawaban terhadap pertanyaan ini bagi orang yang memperhatikan rahasia kata-katanya. Sebab Allah berkata : maka dengan itulah mereka harus gembira. Dan tidak berkata : Dengan itulah engkau harus gembira ya Muhammad. Seolah-olah berkata : Katakanlah kepada mereka supaya mereka bergembira dengan karunia itu. tetapi tersebut dalam ayat : katakanla Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung.

Sembahyang itu sebagai pemberian Allah yang terbesar untuk hambaNya, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw. : Tiada diberikan kepada seorang hamba di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada diizinkan baginya untuk sembahyang dua rakaat. Sebab sembahyang itu sebagai hubungan langsung antara hamba dengan Allah, bertemu berkata-kata, dan berkhalwat. Di situlah seorang menyatakan kehambaan, kerendahan, kehinaan hajat dan kebutuhannya.

 

Pasal 292

 

اَلنَّاسُ فِى وُرُوْدِالْمِنَنِ عَلَى ثَلَاثَةِ اَقْسَامٍ : فَرِحِ بِالْمِنَنِ لاَمِنْ خَيْثُ مُهْدِيْهَا وَمُنْشِئُهَا وَلَكِنْ بِوُجُوْدِ مُتْعَتِهِ فِيْهَا، فَهَذَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى : حَتَّى اِذَا فَرِحُوْا بِمَا اُوْتُوْا اَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً، وَفَرِحِ بِالْمِنَنِ مِنْ حَيْثُ اِنَّهُ شَهِدَهَا مِنَّةً مِمَّنْ اَرْسَلَهَا وَنِعْمَةً مِمَّنْ أَوْصَلَهَا يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى : قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ وَفَرِحِ بِاللهِ مِا شَغَلَهُ مِنَ الْمِنَنِ ظَاهِرُ مُتْعَتِهَا وَلَابَاطِنُ مِنَّتِهَا بَلْ شَغَلَهُ النَّظَرُ اِلَى اللهِ عَمَّا سِوَاهُ وَالْجَمْعُ عَلَيْهِ فَلَا يَشْهَدُ اِلَّا اِيَّاهُ يَصْدُقَ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى : قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ.

 

Artinya: “Manusia di dalam menghadapi nikmat karunia Allah terbagi tiga :

1.    Gembira dengan nikmat itu, bukan karena yang memberikannya, tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawa nafsu dari nikmat itu, maka ini termasuk orang lalai (ghafli), orang ini sesuai dengan firman Allah : Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang diberikan itu, Kami tangkap mereka dengan tiba-tiba (Kami siksa mereka dengan tiba-tiba).

2.    Orang yang gembira dengan nikmat karena ia merasa bahwa itu karunia yang diberikan Allah kepadanya, ini sesuai firman Allah : Karena merasa mendapat karunia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus gembira, yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

3.    Orang yang hanya gembira dengan Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena karunia Allah, sebab ia sibuk memperhatikan Allah sehingga terhibur dari segala lainNya, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Hanya Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung (main-main).

 

Asysyibly berkata : Syukur itu jalan melihat pada pada yang memberi, bukan melihat nikmat pemberiannya.

 

Abdul Aziz Almahdawy berkata : Siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala.

 

Pasal 293

 

وَقَدْ اَوْحَى اللهُ اِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ : قُلْ لِلصِّدِّيْقِيْنَ بِى فَلْيَفْرَحُوْا وَبِذِكْرِى فَلْيَتَنَعَّمُوْا.

 

Artinya: “Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud katakan kepada orang-orang siddiqin : Dengan Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir menyebut namaKu hendaknya mereka merasakan nikmat.

 

Pasal 294

 

وَاللهُ تَعَالَى يَجْعَلُ فَرَحَنَا وَاِيَّاكُمْ بِهِ وَبِالرِّضَا مِنْهُ وَاَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْفَهْمِ عَنْهُ وَاَنْ لَا يَجْعَلَنَا مِنَ الْغَافِلِيْنَ وَاَنْ يَسْلُكَ بِنَا مَسَالِكَ الْمُتَّقِيْنَ بِمَنِّهِ وكَرَمِهِ آمِيْنَ.

 

Artinya : “Semoga Allah menjadikan kesenangan (kegembiraan) kami dan kamu dengan Allah dan dengan rela (ridha) terhadap apa-apa yang dari Allah, semoga Allah menjadikan kami dari golongan yang mengerti segala sesuatu daripada Allah, dan jangan menjadikan kami dari golongan orang yang ghafli (lalai), dan semoga Allah menjadikan kami di jalanan orang-orang yang muttaqin dengan karunia dan kemurahan Allah swt. Amin.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar